Siluet

Siluet
4.1 Sebuah Pengakuan


__ADS_3

ANJELI


Ke dalam relung telinganya sudah berkali-kali terbisikkan kata “bidadari” dan “malaikat”. Ke dalam relung telinganya sudah berkali-kali terdengar ucapan cantik. Tapi baru kali ini dia mendengar ada yang mengucapkan tentang nada.


Terbayang sekarang olehnya pandangan Raya saat berkata: “Setiap kali melihatmu, aku terinspirasi kapan harus menggesek biola.”


Pandangan itu begitu dalam, bukan bernafsu, tapi berterimakasih. Pandangan yang penuh respek dan kekaguman, bukan pandangan melecehkan atau merendahkan.


Maka Anjeli bertanya-tanya, “Sebegitu pentingkah sosokku pada alunan nada seorang Raya?”


Sebagai peremouan dia jelas merasa dihargai, tapi apakah penghormatan yang Raya berikan tidak berlebihan? Sedang Anjeli merasa bukan siapa-siapa. Bukan apa-apa.


Terlebih lagi tidak pernah merasa membutuhkan lelaki, maka dia selalu berharap tidak ada laki-laki yang membutuhkannya. Tapi Raya mengatakan kalau dia membutuhkan Anjeli untuk mengejar lagi nada-nada yang sempat hilang.


Saat itu Anjeli bertanya, “Bukankah kita bersahabat?”


Raya menjawab, “Ya, kita sahabat, terlebih lagi kau adalah sahabat yang bisa membuatku dan biolaku bernyanyi lagi.”




“Hai jangan melamun!” tepukan di bahu menyadarkannya. Ibunya. Sepertinya sudah siap pulang. “Ibu pulang duluan ya, beneran kamu nggak mau ikut bareng?”


Dia menggeleng, “Nggak, Li mau bantu yang lain beres-beres dulu, boleh kan?”

__ADS_1


“Boleh, hati-hati pulangnya ya, naik taksi saja!”


Dia mengangguk dan menatap ibunya yang menghilang di balik pintu kaca. Sudah jam setengah sebelas. Beberapa pegawai masih mengepel dan membersihkan sisa-sisa makanan. Panggung kosong, perlahan dia berjalan ke panggung itu dan duduk di kursi bekas kuartet biola tadi.


Masih terasa hangat.


Dari ketinggian ini, dia bisa melihat café dengan sudut pandang berbeda. Memang nyaman memandang sesuatu dari sudut bebeda. Kita seperti menemukan dunia baru.


Kini dia memandangi jalanan yang terbias dari jendela kaca. Sepertinya di luar hujan. Dia merasa nyaman dan tak khawatir ibunya kehujanan, sebab ibunya pasti sudah di dalam taksi sekarang. Penat. Sebenarnya Anjeli ingin segera pulang dan tidur. Tapi ada keengganan meninggalkan café ini.


Ada apa?


Sekarang dia merasa punya alasan untuk tidak segera pergi. Bukankah di luar hujan? Trotoar didepan berangsur basah. Kalau saja dia keluar, hujan tak akan memilih tempat jatuh di luar tubuhnya.[1]


Dia menunduk dan memetik gitar, mengulang lagu yang tadi dia bawakan.


Anjeli mendengarkan seksama, rasanya dia lebih meresapi lagunya dibanding ketika tampil tadi. Mungkinkah ketika bernyanyi di panggung dia hanya ingin memuaskan pengunjung, dan sekarang dia bernyanyi untuk memuaskan hatinya sendiri? Apakah lagu itu punya arti sendiri baginya?


Ya, mungkin lagu itu punya arti untuknya. Anjeli yakin lagu itu akan berterimakasih kalau bisa. Sebab lagu itu merasa tersanjung.


Lalu teringat dirinya sekarang. Baru sadar kalau beberapa jam yang lalu ada seorang lelaki seumurnya mengatakan kalau Anjeli sangat berarti, Anjeli bisa menghidupkan lagi nada-nada yang mati, mendentingkan lagi senar-senar biolanya, menggerakkan lagi kekasihnya.


Apakah aku harus berterimakasih pada Raya?


Anjeli menarik nafas. Berat. Sepertinya dia harus pulang walau masih hujan. Dilihatnya penyanyi tadi masih terpejam memainkan lagunya. Di balik taburan asap tipis yang disedot udara luar, Anjeli seperti menemukan sosoknya.

__ADS_1


BIOLA


Beberapa hari yang lalu aku lihat konser seorang penyanyi di layar televisi. Dia ditemani seorang peniup saxophone. Penyanyi itu memiliki suara yang bagus dan peniup saxophone itu bisa menyelaraskan alunan terompetnya dengan suara penyanyi itu.


Namun bukan hal itu yang membuatku tertarik.


Aku lebih tertarik pada penampilan violisnya. Tidak begitu mencolok tapi meninggalkan bekas. Violis itu seakan riak kecil di tengah ombak. Tak terlihat tapi ada. Tak terjamah namun bisa menggesek rasa.


Memang bukankah begitu sifat biola. Hampir tidak pernah menjadi alat musik utama. Selalu jadi musik pelengkap namun selalu meninggalkan bekas.


Gayanya yang lembut selembut musiknya begitu menangkan dan mencengangkan. Aku jadi ingat sebuah karya Giuseppe Tartini. Opus 18 atau biasa disebut Devil Thrill Opus. Karya itu juga berisi komposisi nada yang mempesona dan menggetarkan.


Nama Devil Thrill Opus sendiri tercipta karena sejarah pembuatannya yang unik. Ceritanya begini, pada suatu malam Giuseppe Tartini tidur dan dia bermimpi bertemu dengan iblis yang memainkan biolanya. Kemudian dia terbangun dan menulis not-not dalam mimpinya di sheet musik. Maka terciptalah Opus tersebut


Unik. Sangat unik. Bahkan entah karena ada hubungannya dengan mimpi, iblis atau sejenisnya—atau bisa juga tidak—kadang kala saat Opus ini dimainkan maka penontonnya akan tercenang, terpukau seperti terhipnotis.


Sebuah biola dan nada-nada bisa dengan mudah dihubungkan dengan iblis. Dengan kengerian. Maka pastilah dia bisa dengan mudah dihubungkan dengan perasaan-perasaan lain. Cinta dan kesedihan? Kemarahan dan air mata?


Saat sebelum tidur kadang aku berdoa agar bisa bermimpi memainkan cinta dengan sebuah biola di hadapan orang-orang tercinta.


Tapi sampai saat ini mimpi itu belum datang juga.


___________________________


[1] Ditulis dengan ingatan pada kalimat di salah satu cerpen Kurnia Effendi“Tentu saja, jika aku nekat melangkah keluar dengan rasa kopi di lidah, hujan tak akan memilih tempat jatuh di luar tubuhku.”  Kurnia Effendi. 2004. Senapan Cinta. Depok : KataKita (cerpen Relung Telinga paragraf 8, hal 13 baris 7)

__ADS_1


__ADS_2