Siluet

Siluet
8.2 Suara Suara Suara


__ADS_3

RAYA


Ada yang peduli pada kehilangan yang sungguh terjadi. Setidaknya Raya peduli. Semuanya begitu cepat, adakah kesedihan yang lebih tajam daripada kehilangan yang datang begitu tiba-tiba? Begitu menyentak?


Anjeli sudah tidak ada


Kemana? Semua orang yang ada di sana tidak dalam kapasitas mampu bercerita, tidak juga pada seorang wanita yang melahirkan Anjeli. Diawali dengan pertanyaan ringan yang tidak sangka akan dijawab dengan wajah berat. Akhirnya ditemuinya seorang ibu. Masih tersisa gurat-gurat kecantikan di wajahnya, tapi Raya menangkap sesuatu yang lelah di kelopaknya, seperti tangisan menahun.


“Ibu, kemana Anjeli?”


“Dia sudah tidak ada.” Hanya itu


“Kemana?”


“Kamu Raya kan? Anjeli sering bercerita tentangmu.”


Raya menunduk, itu bukan jawaban yang dia inginkan tapi dia berpikir lebih baik memilih diam, mungkin itu bisa memberi jawaban secara tidak langsung. Namun yang didengarnya hanya desahan nafas berat. Raya mengangkat wajah bertemu pandang dengan bola mata kecoklatan milik perempuan separuh baya ini.


“Ya, saya Raya, saya teman Anjeli.”


“Saya tahu, dulu Anjeli sering cerita tentangmu.”


“Dulu? Kenapa ibu bilang dulu?”


“Karena sekarang dia sudah tidak bisa cerita tentang kamu lagi!” suara itu mengeras


Raya menunduk, bagaimanapun dia tidak ingin membuka luka lagi.

__ADS_1


“Saya paham Bu, tapi setidaknya tunjukkan tempatnya sekarang.”


“Kenapa kamu ingin ketemu dia lagi?”


Raya terdiam, tapi pandangannya menelelusuri jejak-jejak maya. Dia tidak menjawab tapi menunda demi sebuah kejernihan kata. Ini sebuah ironi, tapi dia juga tidak mengerti apa rahasia di balik ini? Tapi setidaknya Raya sudah terlatih, dia pernah merasakan kehilangan dan yang sekarang dia rasakan kurang lebih sama. Hanya kali ini tidak ada remasan di bahunya, tidak ada isak tangis (mungkin ada namun sudah lewat). Namun kadang kerinduan itu masih ada, mencecar walau tidak setiap saat tapi kadang menyusup pelan lewat celah yang entah di mana.


“Saya punya janji untuknya.”


“Janji apa?”


“Saya ingin mainkan sebuah lagu untuknya, lagu baru.”


“Dia sudah tidak bisa mendengar.”


“Tidak apa-apa Bu.”


“Dia sudah tidak bisa melihat.”


“Dia tidak bisa merasakan apa-apa.”


“Saya mengerti itu Bu, tak apa-apa, sebab janji adalah janji.”


BIOLA


Siapa bilang komposisi klasik hanya bisa dimainkan dengan biola dan alat musik konser lainnya? Kehilangan itu semua tidak berarti semuanya harus ikut hilang. Sebab kemarin aku menyaksikan Alvaro Pierri [1] bermain di Goethe Haus Jakarta. Aku ingin cerita sedikit apa yang kulihat di sana, sebab aku serasa kembali ke masa lalu bersama musik-musik itu.


Dia memang belum begitu dikenal di Indonesia dan baru pertama kalinya tampil di Asia Tenggara. Namun dia bisa menghipnotis para penonton melalui permainan gitarnya yang sarat dengan kalimat musik yang sangat puitis, ritme yang kuat, serta jangkauan volume suara yang luas dan eksplorasi warna-warna nada-nada gitar yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

__ADS_1


Karisma seorang musikus besar membuat para penonton menahan napas untuk mendengarkan setiap nada yang dihasilkan dari petikan jarinya di atas instrumen berdawai enam ini. Beberapa penonton sempat terharu dan meneteskan air mata pada saat Alvaro memainkan bagian-bagian liris dari beberapa komposisi pada malam itu. Auditorium yang sempat mulai terasa lembab karena AC yang dimatikan atas permintaan sang maestro tidak membuat penonton malam itu beranjak dari kursinya.


Konser dibuka dengan lima komposisi singkat dari Jakub Pollak [2] Tema melodi yang jernih dan ritme dansa zaman renaissance Eropa menyuguhkan pembukaan konser yang elegan.


Grand Sonata A Mayor [3] dari komponis dan pemain biola legendaris Nicolo Paganini menjadi menu program berikutnya. Pierri memainkan Sonata yang sarat dengan tingkat kesulitan teknik yang tinggi ini dengan keringanan dan kejernihan, sekaligus keseimbangan di antara melodi, iringan, dan bas. Permainan portato-nya [4] mengingatkan orang pada 24 carprice yang terkenal dari Paganini. Sebagai penutup bagian pertama konser, Alvaro memainkan dua karya indah dari musik folklore Brasil dan diakhiri dengan Etude no.12 dari Villa Lobos.


Di bagian kedua konser, tremolo liris dari Campanas del Alba, karya dari komponis Eduardo Sainz de la Maza, terdengar begitu jernih dan memanjakan penonton selama beberapa menit dengan ilustrasi suasana sore hari yang romantis di Catalunya, negara bagian utara Spanyol yang berbatasan dengan Perancis.


Komposisi dari raja Tango Nuevo, Astor Piazzolla-Verano Porte dan Compadre diperdengarkan dengan ritmik Tango yang kental melalui permainan bass yang perkusif, diiringi dengan campuran harmoni bernuansa jazz, klasik, folklore yang merupakan ciri khas dari Astor Piazzolla [5]. Pierri sendiri pernah berkolaborasi dengan sang komponis semasa hidupnya.


Konser ditutup dengan Sonata op.47 dari Alberto Ginastera yang sekaligus menjadi puncak program malam ini. Sonata yang terdiri dari empat bagian ini merupakan karya yang sangat sulit untuk dimainkan karena menuntut kemampuan teknik yang sangat mapan dan pengetahuan yang luas mengenai musik rakyat Argentina. Bagian terakhir dari Sonata merupakan ramuan tarian Chacarera, Malambo, dan Caja. Berbagai macam teknik permainan Rasguado dan perkusif yang begitu kaya dari Pierri membuka mata penonton dan menyambut akhir konser ini dengan tepuk tangan riuh.


Setelah dua encore, penonton menutup konser dengan standing ovation untuk sang Maestro.


Ah, sudahkah aku bercerita tentang ini? Atau sudahkah aku bercerita tentang sebuah musik yang bisa dimainkan dengan alat musik apa saja? Kita tidak selalu membutuhkan satu alat musik untuk satu kompisisi, bahkan sebuah gitar listrik pun bisa saja memainkan Devil Thrill Opus. Kalau mau.


Maka terkadang kusimpan biolaku, dan kumainkan lengkingan-lengkingan tangis seorang manusia lewat sebuah lagu dengan gitar akustik, atau kadang dengan harmonika kecilku.


Ternyata kudapati atmosfir yang sama, kudapati semangat yang sama. Sama sekali tidak ada rasa kehilangan atau ketidak puasan. Karena aku menemukan nada-nada yang bisa dimainkan lagi.


______________________


[1] Alvaro Pierri, gitaris internasional kelahiran Uruguay, salah satu gitaris terbaik dunia


[2] Jakub Pollak (1545-1605), seorang komponis dan pemain lute kerajaan pada masa pemerintahan Louis XII di Paris yang konon banyak menulis karya-karya terbaiknya pada saat mabuk


[3] Grand Sonata A Mayor, karya yang sebenarnya merupakan lelucon dari Paganini ini dipersembahkan untuk seorang wanita misterius yang dicintainya

__ADS_1


[4] Portato : Not-not pendek


[5] Astor Piazzola, biasa dibawakan sebagai pengiring tarian Spanish Tango. Suatu gerakan tari yang diilhami gerakan matador. Dengan pose yang anggun tapi berani (mengingatkan saya pada tarian yang dibawakan Shakuntala)


__ADS_2