Siluet

Siluet
4.3 Sebuah Pengakuan


__ADS_3

AKU


Malam makin malam. Aku kembali bekerja setelah pada sore hari memandangi hujan bersama wanita berkerudung jingga. Baru satu jam yang lalu aku selesai mengobrol dengannya lewat telepon. Kini aku sendirian (lagi). Kembali kutekuni berkas-berkas yang menumpuk di mejaku. Berkas yang tingginya serasa menyentuh langit-langit.


Entah jam berapa sekarang, dan lebih entah berapa jam lagi pekerjaan ini akan selesai. Sementara kantor sudah sepi. Tinggal satu dua orang mengetik. Suaranya memecah keheningan.


Perlahan kuregangkan badan, kulihat ke luar ternyata hujan sudah berhenti. Mungkin sejak tadi. Entahlah, rasanya waktu terakhir aku bicara dengannya hujan masih turun. Tapi memang hujan seperti itu, datang dan pergi tanpa tanda-tanda. Bahkan kita tidak mungkin lagi percaya pada ramalan cuaca. Di saat-saat dunia berputar balik seperti ini, masih adakah sesuatu yang bisa dipercaya? Termasuk ramalan cuasa. Manusia meramal cuaca yang sebenarnya tak bisa ia kendalikan. Cuaca pergi dan datang semaunya, siapa yang bisa menduga?


Apakah cinta seperti itu? Datang dan pergi tanpa tanda-tanda? Mungkin juga. Aku jarang menganalisa cinta, aku jarang membaca buku-buku tentang cinta. Tapi aku tahu cinta.


Mendadak aku teringat seseorang di kota hujan. Kadang aku merasa butuh dia. Kadang aku pikir lebih baik melupakannya.

__ADS_1


Tapi aku pikir aku harus menghubungi dia. Maka kuangkat gagang telepon tapi tidak jadi kuputar nomornya yang kuingat. Malah kuresapi suara dengingan yang rasanya seperti menuju berkilo-kilometer rentangan kabel.


Akan kemanakah dengingan ini? Mungkinkah ada seseorang juga di ujung sana yang sedang mendengarkannya? Maka itu artinya aku dan dia mendengarkan dengingan yang sama.


Tapi akhirnya aku memutar juga satu nomor. Bukan nomor teleponnya.


ANJELI


Di sebelahnya ada rak buku tiga tingkat dari rotan, tapi rak buku itu tidak penuh terisi, entah kemana buku-buku yang lain, ataukah memang rak itu tidak pernah penuh?


Lalu di sebelahnya ada meja kecil dengan radio di atasnya. Radio warna merah muda dengan dua speaker, sekarang mati, padahal biasanya pada jam-jam ini selalu dihidupkan. Lalu lemari baju empat susun warna abu-abu, tingkat terbawah untuk pakaian dalam. Tingkat atasnya untuk pakaian bawahan, tingkat atasnya lagi untuk pakaian atasan dan tingkat paling atas untuk handuk, saputangan dan pernak-pernik lain.

__ADS_1


Ada meja setrika di samping sebuah tempat tidur berseprai ungu muda. Ada satu guling dan satu bantal, ada boneka-boneka yang entah apa namanya. Lalu ada semacam meja belajar dengan satu kursi dan satu lampu baca.


Sementara dinding kamar terhias foto-foto masa kecil, foto dengan ibu, kalender dan beberapa lukisan cat minyak.


Dan di satu sisi terbentang kertas ukuran dua meter. Saat ini sedang dipandangi oleh Anjeli. Kertas yang penuh dengan catatan dan tabel itu adalah sebuah rencana hidup.


Sambil memandanginya terdengar gumaman.


“Aku selalu siap menghadapi apa saja, sejak kecil ibu mengajariku untuk selalu membuat rencana hidup lima tahun ke depan. Kertas ini buktinya, ini rencana hidupku Raya, aku selalu siap dan punya rencana dalam hidup.”


Diusapnya kertas itu. “Aku sudah siap menghadapi segalanya, kecuali….”

__ADS_1


Dihentikan usapannya “.…kedatanganmu.”


__ADS_2