Siluet

Siluet
3.2 Dia Diam Dalam Indahnya


__ADS_3

BIOLA


Aku tidak pernah bertemu dengan Helmut Zacharias, dia pun tidak kenal aku tapi aku mengenalnya lewat sejarah yang dibawa oleh malam dan dari cerita-cerita yang tersebar. terutama lewat Fred Weyrich[1]


Fred sempat meninggalkan sebuah catatan yang menarik tentang Helmut Zacharias. Ia memulai kisah tentang sang “Violis Musik Klasik Yang Duduk” ini dengan sebuah anekdot. Aku akan ceritakan dengan kalimatku sendiri :


Surga di atas sana, katanya, juga diisi oleh biola. Satu saat terjadi perdebatan secara fortissimo di antara mereka. Topiknya mengenai siapa di antara mereka yang telah dimainkan oleh solois paling masyhur saat berinkarnasi di dunia.


Masing-masing bersikeras, “Pemainku adalah yang paling terkenal.”


Akhirnya biola Stadivarius yang arogan bicara “Mari kita tanya mereka saja, solois kita toh semua sudah ada di sini, di distrik Sordino Finale!”


Saat didatangi oleh biola-biolanya, ternyata para violis hebat itu malah beradu argumen juga. Barnabas von Geczy berdebat dengan Stephane Grappelli, Menuhin dengan Oistrach.


Datanglah St. Petrus yang tentu saja tidak senang dengan keributan ini, ia pun mengatakan


“Hei! malulah kalian, penghuni sombong! Kalian semua lupa, bahwa sebuah biola yang jauh lebih masyhur daripada biola kalian semua sekarang ini masih ada di Bumi dan tidak meninggalkan sisi empunya, dan terus menjaga mimpinya. Ia lah yang paling terkenal biola milik Helmut Zacharias!”


Perdebatan segera terhenti, dan semuanya—solois dan biola mereka—kembali ke distriknya masing-masing.


Pembukaan yang menarik. Aku sendiri baru tahu kalau Fred punya selera humor dan imajinasi yang istimewa. Aku sendiri tidak pernah berpikir ada tempat khusus untuk biola di surga sana (Bagaimana kalau di neraka? Siapa pengisinya? Apakah biola yang selalu digesek di klab-klab malam? Di jazz house yang penuh dengan red wine? Di depan ******* yang terkantuk-kantuk?)


Tapi kalau bicara Helmut Zaccharias, aku (mungkin kita juga) harus kagum pada ketegarannya mempertahankan musiknya. Tahun 1941, setelah selesai perang dunia II dia memainkan dan menemukan kembali apa arti irama swing. Walaupun irama swing sudah ada sejak 1936 di Jerman, tapi dilarang oleh Dr Goebbels. Alasannya sederhana. Musik yang diimpor dari Amerika itu dianggap sebagai “musik Negro dekaden”


Toh akhirnya tahun 1941 itu dia bisa merekam musik swing nan santai bersama lima pemusik lain dari Berlin. Maka “Violis musik klasik yang duduk” itu kini telah berubah menjadi “Violis swing yang berdiri.”


MEREKA


Malam penuh bintang. Gerimis halus tidak memudarkan. Tapi ada terlalu banyak cahaya untuk menikmati. Lampu-lampu jalanan menampilkan kisah sendiri. Di panggung, empat orang lelaki memainkan sebuah irama klasik. Berada di waktu dan tempat yang sama membuat Raya merasa stagnan pada satu titik waktu. Sebuah dejavu mungkin tidak terlalu rumit, tapi kadang membingungkan. Bedanya kali ini dia sendirian.

__ADS_1


Tempat ini tidak terlalu penuh seperti saat itu. Mungkin gerimis membuat rencana berubah. Kadang Raya ingin bertanya, adakah rencana yang selalu sejalan dengan keinginan? Bukankah seiring perputaran matahari maka keinginan pun akan berputar dan rencana berganti? Dan bersama dengan tenggelamnya matahari, membawa luka meninggalkan gores merah di garis pemisah langit. Ke satu dunia sepi tanpa kata-kata.[2]Maka apakah –rencana rencana itu juga bisa tenggelam?


Duduk di café ini lagi untuk kedua kali. Raya kembali memandangi panggung. Masih empat orang lelaki memainkan dawainya. Apa yang bisa lebih indah dari nada yang keluar dari biola?


Empat lelaki memejamkan mata merasakan nada. Di bawah siraman cahaya lampu yang kuning temaram, di dalam beberapa pasang mata yang mencoba ikut mengalun mereka menyajikan suara biola yang indah. Siapa mereka? Datang dari mana? Apa yang mereka rasakan? Raya kini juga duduk di bawah cahaya yang kuning temaram dan merasakan alunan itu juga. Tapi tidak ada yang bisa menariknya dari memori, bahwa kekasihnya sebenarnya lebih indah dari apa yang dia lihat sekarang.


Raya memiliki nada yang lebih mengalun, memiliki kekasih yang lebih gemulai dan menghanyutkan. Sementara yang dia lihat sekarang hanya kecantikan yang dimainkan tanpa perasaan. Hanya deretan nada yang dihapal luar kepala. Karena Anjeli? Mungkin… mungkin tidak…


Bagaimana bisa sebuah kehadiran bisa membangkitkan nada? Tapi seberapa sering sebuah nada membuat kehadiran berjalan lebih sempurna? Lalu waktu berjalan seperti melambat. Ada sosok yang berjalan mendekat. Lalu sapaan ringan.


“Hai, aku kira kamu tidak datang?”


Bagaimana aku tidak akan datang bila ada kekasih mengajak, bagaimana aku bisa tidak datang bila di sini bisa kutemukan nada yang lebih gemulai? Adakah dia tahu bahwa nada biasa bisa lebih sempurna dengan ditambah semacam suasana? Bila dicampur dengan semacam keindahan yang tercipta dari langit. Nada-nada itu kini lebih sempurna dan sepertinya siap dimainkan.


“Siap main kan?”


Apa kamu bercanda? Nada-nada ini hampir luber!


Malam bertambah kelam tapi tetap tanpa hiasan, sialnya ternyata aku tertidur. Rasanya seperti sekejap tapi ternyata sudah lama. Kenapa aku bisa tahu? Karena kulihat tumpukan kertas di mejaku makin banyak. Menggunung tak menyisakan ruang sedikitpun untuk meletakkan sekedar cangkir kopi (atau selembar puisi).


Juga dia. Ceritaku belum selesai tapi dia sudah pergi. Aduh, kenapa tadi tak kutanyakan namanya ya? Atau minimal nomor teleponnya. Tapi aku tidak pernah terlalu menyesali sebuah kehilangan, bukankah kita diciptakan dengan tidak memiliki apa-apa?


Hanya agak kusesali karena jarang sekali aku punya teman mengobrol yang lumayan enak seperti tadi, kini harus kucari kemana dia?


Biarlah, kini tidak ada pilihan lain kecuali berputar menghadapi kertas-kertas ini lagi. Kulirik sekitar. Tempat ini masih ramai dengan manusia yang menimba uang dengan otaknya. Telepon berbunyi lalu mereka bicara tentang uang, telepon berbunyi lalu mereka bicara tentang laporan, telepon berbunyi lalu mereka bicara tentang janji, telepon berbunyi lalu mereka bicara tentang berkas. Lalu kemana kemanusiaan? Apakah ditinggal di rumah?


Tiba-tiba telepon di mejaku berbunyi. Susah payah kucari dengan mengobrak-abrik tumpukan kertas, akhirnya ketemu juga setelah tiga menit.


“Halo?”

__ADS_1


“Halo!” kukenali suaranya


“Kita ngobrol dari sini saja ya, aku sedang ada di satu tempat.”


“Ngobrol apa?”


“Tentang hujan dan cinta yang temaram.”


“Boleh…”


MEREKA


Nada-nada di atas panggung mengisi ruangan, dengan memandang sosok di sebuah meja Raya mengenal dawainya lebih dekat. Ini memang bukan biolanya, tapi bersahabat dengan biola itu sangat mudah.


Buktinya? Sebuah komposisi ditemukan tepat ketika kedua sosok itu bertemu pandang. Dan Raya memainkannya dengan sepenuh hati. Lalu berhenti tepat ketika hipnotis sudah menjelajahi ruangan.


Lalu terdengar tepuk tangan sementara Raya kembali dengan tertunduk. Lalu terdengar pujian yang tulus


“Raya, thanks ya… kamu hebat!”


Raya memandang dan menemukan lagi wajah itu, pandangannya begitu dalam sampai Anjeli terdorong bertanya


“Kenapa?”


“Anjeli, itu karena kamu cantik…”


 


____________________________

__ADS_1


[1] Sahabat dekat Helmut Zacharias sekaligus fans terbesarnya, banyak meninggalkan catatan dan kisah perjalanan tentang Helmut Zacharias. Meninggal pada 30 Desember 1999


[2] Ditulis dengan ingatan kepada syair musikalisasi puisi Mukti-Mukti : tenggelam kemana matahari / membawa lukanya yang merah / tergores di cakrawala / ke dunia sepi tanpa kata-katakan / apakah bercanda dengan mimpi?


__ADS_2