
RAYA
Saat ini dia sedang berpikir tentang mitos cupid. Benarkah matanya tertutup? Dan benarkah dia selalu menembakkan panah-panah cintanya ke segala arah tanpa perhitungan? Apa itu tidak menunjukkan dewa-dewa di atas sana tak punya perhitungan? Bayi kok disuruh melepaskan panah-panah cinta, itupun dengan mata tertutup!
Dia merebahkan diri. Menatap langit-langit.
Menetapkan pandangan pada eternit berdebu yang warnanya tak putih lagi. Memandang seekor cicak kecil yang berjalan terbalik. Apakah cupid menembakkan panah pada cicak juga?
Kini kembali malam. Raya memang lebih suka merenung saat malam. Merenung tentang cupid? Bukan, dia merenung tentang cinta. Di umurnya yang semuda ini berapa kali dia merasa mencinta?
Pertama jelas kepada ibunya. Wanita yang melahirkan dan kini rambutnya sudah beruban sebagian. Yang ketika sedang tidur sering dipandangi rambut-rambut putih itu. Kadang Raya menangis menyadari ibunya ternyata sudah tua.
Ah, apa salahnya menjadi tua?
Lagipula ibunya mungkin tidak akan sesedih itu, menjadi tua adalah keharusan nasib sedangkan menjadi dewasa adalah proses pribadi. Dan sampai sekarang Raya masih menganggap rambut ibunya tidak putih melainkan perak.
“Perak Bu, sehingga selalu berkilat ditimpa cahaya lampu. Sehingga dirimu akan selalu tampak anggun di bawah sinar.”
Biasanya ibunya hanya tersenyum dan mengelus rambut anaknya. Dan Raya akan segera beranjak ke kamar dan memainkan sebuah komposisi nada. Kadang malah nada-nada baru yang segera dia tuliskan. Betapa belaian kekasih akan mengakibatkan timbulnya inspirasi. Apalagi ini kekasih abadi.
__ADS_1
Lalu yang kedua pada biolanya, juga nada nada yang terkumpul dan bercanda di dalam setiap senarnya. Mungkin dia juga mencintai Opa yang memberinya biola ini. Hampir setiap malam Raya menggeseknya dan bertemu dengar dengan nada-nada di dalam sana. Biola ini sudah jadi tempatnya menyalurkan perasaan. Setiap dia sedih atau gembira maka nada-nada yang keluar pun seperti itu. Seperti perasaannya.
Apakah tidak terlalu berlebihan?
Mungkin tidak juga, mengingat Raya tak banyak memiliki sahabat. Teman-teman SMA nya—juga teman yang lain—sudah menghilang (atau justru Raya yang menghilang dari mereka?). Sementara di lingkungan, dia lebih suka mengurung diri di kamar. Jadi hanya pada biola dia menganggap teman sejatinya ada.
“Ini kekasihku.”
Demikian ucapnya setiap ada yang bertanya tentang biolanya. Raya sering berkata begitu sebab seorang kekasih adalah seorang yang mengerti perasaan hati kekasihnya. Seorang kekasih adalah teman tempat menyalurkan perasaan, seorang kekasih juga sudah selayaknya mengerti apa yang terjadi tanpa harus menampakkan raut wajah.
Pada malam-malam, pada senja, pada shubuh, tidak ada tempat menyalurkan perasaan kecuali lewat nada. Setidaknya itu kebiasaan Raya.
Raya masih merenung-renung sementara tape recorder di kamarnya mengalunkan sebuah track yang cukup jazzy. Entah lagu apa, entah milik siapa. Dia berusaha mengingat ada berapa puluh komposisi yang dia ciptakan selama ini, tidak banyak, (dan seluruhnya juga tidak bernama) tapi untuk seseorang yang belajar biola secara otodidak itu bisa jadi hal yang mengagumkan.
Ah, Raya tidak pernah ingin dipuji. Begitupun kali ini. Setelah latihan dua bulan dia terpilih menjadi concert master. Hampir semua orang memberi selamat, tapi Raya menanggapinya dengan senyum sesaat. Tidak ada yang patut dibanggakan, menjadi concert master berarti mendapat sebuah tanggung jawab yang besar.
Tapi apapun yang bisa membuatnya dekat dengan kekasihnya, dengan nada-nada dan irama tentu akan menyenangkan.
Dia pernah mengatakan itu pada ibunya sambil menunjukkan biolanya, saat itu ibunya masih terbungkus mukena
__ADS_1
“Ibu, ini kekasihku, ibu juga.”
Ibunya tersenyum dan menjawab, “Lalu di mana Tuhan berada?”
Raya tertegun, merasa ada pergeseran di sisi otaknya tapi dia menjawab, “Dia juga kekasihku, tapi aku tidak bisa menyebutkannya.”
“Kenapa?” ibunya melipat mukena.
“Ibu, tanpa harus diberi pengakuan dengan disebutkan pun, Tuhan tetap akan jadi kekasihku.”
Baiklah, kalau begitu berikutnya adalah Tuhan, Dia juga kekasihku tapi seharusnya Dia memang di atas segalanya. Maka aku tak bisa menyebutkannya.
Perlahan tangannya naik, menyangga biola. Lalu di malam itu, pada saat segalanya lelap, seekor burung hantu dan seorang peronda yang terkantuk-kantuk mendengar alunan nada biola keluar dari jendela kamar. Sebuah komposisi baru, Raya memainkannya dengan terpejam tapi dia sambil membayangkan segalanya. Teringat latihan-latihannya dan rencana pemberangkatan yang tinggal seminggu lagi. Teringat Tuhan yang mungkin sedang menatapnya. Teringat uban di rambut ibunya yang selalu berkilat-kilat tertimpa sinar lampu.
Sementara nada-nada mengalir lancar. Rasanya Raya bisa mengulang lagi seumur hidup untuk nada yang ini. Dan gesekannya terhenti ketika di kelopak matanya terbayang wajah Anjeli. Dia membuka mata.
Merasa bahwa dia cinta pada Anjeli membuatnya bisa memainkan lagi nada-nada baru. Merasa bahwa kehadiran Anjeli dia butuhkan untuk memberikan komposisi murni.
“Tapi apakah cinta hanya sebatas itu?”
__ADS_1
Sementara irama yang cukup jazzy tadi pun berhenti mengalun dari radionya.