
ANJELI
Dalam perjalanan pulang. Kota sudah mulai bisu. Rintik hujan yang menggenang. Suara kecipak langkah kaki yang tersibak lampu sekejapan. Anjeli duduk di kursi belakang sebuah taksi. Diperhatikannya kaca yang mengembun. Lalu matanya menyusuri jalanan yang seperti terbang bergerak ke belakang.jalanan basah. Sebasah hatinya. Di satu perempatan dia melihat sepasang kekasih berpayung bersama sambil berlari-lari. Kenapa mereka harus berlari? Bukankah mereka berpayung?
Diperhatikannya wajah mereka, begitu ceria. Berbasah-basah di rintik hujan karena payung sepertinya percuma saja dipakai. Mereka bercanda. Telapak sepatu mereka menimpa genangan air dan menciptakan cipratan. Tapi mereka terus berlari. Menghilang di sebuah belokan dan Anjeli hanya melihat sekali lagi punggung mereka ketika tersapu lampu mobil.
Anjeli tercekat melihat kedua pasangan itu—terutama pada si wanita—sungguh dia tak mengira akan melihat sebuah rasa percaya yang kuat di wajah wanita itu. Padahal hari sudah malam dan kota beranjak beku. Hanya satu dua kendaraan yang lewat tapi wanita itu seolah mempercayakan keselamatannya pada diri sang kekasih.
Apakah memang kita bisa mempercayakan hidup pada manusia yang juga punya kelemahan?
Namun sekejap pasangan itu tak terlihat lagi, sekejap itu pula pertanyaan tadi menghilang dari benaknya. Anjeli mengalihkan pandangan ke depan. Dilihatnya punggung sopir taksi yang bertutup jaket kulit.
“Bukankah sekarang pun aku mempercayakan hidupku padanya? Dan dia laki-laki?”
Ditatapnya punggung supir itu terus. Tanpa melihat pun Anjeli masih ingat kalau laki-laki itu memiliki wajah yang teduh. Usianya mungkin sudah lima puluh tahun, kumisnya sudah berubah, rambutnya sebagian masih hitam.
“Pak, bapak sudah punya cucu?”
Supir tua itu tidak tampak terkejut ditanya tiba-tiba. Seolah dia sudah tahu akan ditanya oleh penumpangnya.
“Belum mbak, tepatnya mungkin tidak.”
“Lho kenapa?”
“Istri saya tidak bisa punya anak.”
“Hmm, memang sudah berapa tahun menikah pak?”
“Ada mungkin dua puluh lima tahun ya?” Dia seperti bertanya pada diri sendiri.
__ADS_1
Anjeli tersenyum diam. Merasa ada sisi aneh yang tidak terjelaskan.
“Bapak tidak kepikiran untuk nikah lagi?”
Supir itu menggeleng, “Kenapa mbak?”
“Saya cuma heran sama komitmen orang-orang yang memutuskan setia sama pasangannya, apa mereka tidak tersiksa sendiri?’
Taksi berhenti sejenak di lampu merah. Supir itu menoleh. Sejenak Anjeli menatap bola matanya yang ternyata memiliki sorot kebapakan.
“Mbak sudah menikah?”
Anjeli menggeleng
“Punya pacar?”
Lampu berubah hijau. Taksi berjalan lagi. Sambil memegang kemudi supir taksi itu bertanya, “Maksudnya merepotkan?”
“Saya kok sepertinya lebih menghargai sebuah pernikahan ya pak? Pacaran menurut saya lebih menyiksa batin.”
“Maksudnya?”
Anjeli menatap ke luar, seperti menemukan jalan cerita di sana.
“Pacaran tidak meninggalkan apa-apa, hanya rasa rindu yang bekasnya dalam. Kita bisa saja memikirkan kekasih kita mati-matian, tapi tidak ada yang tahu kalau dia justru memikirkan orang lain di ujung sana.”
“Lah, kalau pernikahan? Bukannya hal itu bisa saja kejadian mbak? Kita mikirin istri sementara istri mikirin orang lain?” Supir itu seperti menguji pendirian Anjeli.
“Nggak tahu deh pak, tapi saya kira kalaupun itu terjadi di sebuah pernikahan, mungkin persentasenya sedikit, ataupun kemungkinannya kecil.”
__ADS_1
Supir Taksi itu mengangguk, “Yah mungkin juga sih. Kalau kita menikah setidaknya inti pikiran kita hanya ke pasangan kita. Bapak sudah dua puluh lima tahun menikah dan belum pernah selingkuh,” ada rasa bangga terselip di suaranya, “kalaupun bapak mikirin perempuan lain, yaa hanya sebatas itu. Habisnya pas pulang ke rumah ketemuannya sama istri lagi. Terus pikirannya tadi hilang deh. Percuma menghabiskan tenaga mikirin perempuan lain, yang ada di rumah saja belum habis!”
Supir taksi itu tertawa sendiri. Anjeli hanya tersenyum. Ada pertanyaan lain yang lebih menggelitik
“Kok bisa tahan duapuluh lima tahun sih pak?”
“Sederhana saja, karena kita saling percaya juga merasa saling membutuhkan”
Ini dia! Anjeli terlonjak sendiri. Mereka saling membutuhkan, mana mungkin?
“Kenapa orang yang bertemu bisa tiba-tiba merasa membutuhkan pak? Saya masih bingung kalau ada orang yang bisa merasa membutuhkan manusia.”
Supir Taksi itu tersenyum, “Saya sekarang percaya kalau mbak belum menikah atau punya pacar.”
“Maksudnya?”
Supir taksi itu, menjawab.Sementara putaran ban mobil melambat di dekat pagar rumah Anjeli. “Sudah sampai mbak.” ujarnya.
Anjeli mengangguk, membayar, menggamit tasnya dan keluar. Dia memutuskan untuk melupakan pertanyaannya.
“Mbak!”
Anjeli menoleh, supir taksi tua itu tersenyum lewat jendela yang terbuka setengah.
“Temukan dulu kekasih itu, lalu mbak akan mengerti sendiri.”
Anjeli termangu. Kaca mobil menutup lalu taksi melaju.
Di langit gerimis sudah berhenti.
__ADS_1