
RAYA
“Ke mana kekasihku? Ke mana kekasihku?”
Ada suara bertanya, memanggil-manggil dari dalam hati. Ada Raya di kamarnya menghadap jendela menatap langit. Langit itu begitu kelam, padahal malam pun masih terlalu awal. Padahal tadi sore langit masih merah. Kata seseorang, langit itu seperti keemasan, tapi Raya beranggapan merah adalah merah. Merah bukan keemasan dan tidak mungkin menjadi keemasan.
Mendadak sekali rumah itu terasa sepi. Memang sudah tak ada suara lagi. Ibunya yang biasa ada, kini lelap di kamar tengah. Tinggal Raya. Gelisah. Basah.
Mungkin matanya sekarang sudah merah, tapi bukan mengantuk atau sudah menangis. Raya merasa matanya pedih, mungkin tertiup angin yang berdebu. Entahlah, sudah lama dia mematung dipinggir jendela. Memandangi langit dan udara. Merasakan belaian angin yang menjadi dingin,[1]mengatakan dengan sepoi
“Kemana kekasihku? Ke mana kekasihku?”
Raya pun tidak tahu. Ke mana kekasihnya pergi. Sudah dua hari biola itu mati. Tidak ada nada yang keluar. Ataupun kalau keluar, tidak lebih dari cericit tak nyaman di lubang resonansi.
Memang ada yang pernah berkata suasana hati mempengaruhi nada-nada murni yang keluar dari dawai. Tapi Raya tidak pernah menyangka akan separah ini. Imajinasinya hilang, jarinya kaku, biolanya beku. Entah ada apa
Maka tidak ada yang biasa dilakukan Raya kecuali membiarkan jemarinya saling mengetat di balik lipatan ketiak yang lebih hangat, dengan pundak yang mengerut mengusir hawa beku ditemani secangkir susu coklat hangat dengan kilauan cahaya pada tepi cangkirnya, yang secara senyap mengepulkan uap yang memecah dinding dingin.[2]
Ternyata itupun tidak cukup. Raya lalu melangkah ke luar kamar, dilongok ibunya yang pulas di sofa. Kening perempuan tua itu dikecupnya, dia tidak terbangun, hanya bergerak sedikit. Mungkin dia sedang bermimpi tentang masa muda.
Lalu Raya melangkah ke luar rumah. Ayunan pintu membuat angin sedikit masuk, ditolehkan lagi kepalanya ke arah sofa, ibunya masih pulas. “Ibuku, tertidur dalam tersedu!”[3]
Kini dia ada di jalan, mendapati dirinya sedang mengukur jalan setapak. Malam masih awal, mungkin jam tujuh atau setengah jam setelahnya. Raya tidak pernah mengenakan jam, padahal dia punya satu—hadiah ulang tahun dari ibunya—sebab menurutnya tangan yang tidak tergantungi apa-apa terasa lebih bebas.
Dia terus melangkah. Sambil bersenandung. Lirih. Tipis. Tanpa tujuan. Hanya mengikuti telapak kaki, dan menembus malam di atas trotoar yang bersinar karena lampu-lampu jalanan.
Dari titik manapun di tempat kaki menapak, terlihat kota ini seperti bergerak sendiri. Neon berwarna, lampu lalu lintas, lampu gantung. Cahaya. Warna. Tegas. Samar. Mengiringi langkah-langkah yang tergesa maupun yang terseret manja.
__ADS_1
Raya tersenyum. Sejak kecil dia ada di kota ini dan selalu mengarungi trotoarnya, juga melewati rambu-rambunya. Tapi sampai sekarang dia tidak pernah bisa benar-benar mengenali kotanya. Mereka bergerak seperti enggan dikenali. Terlalu cepat menghimpun wajah-wajah atau nafas baru, dan membuang yang sudah usang.
Ah, kadang Raya berpikir mungkin dia juga termasuk wajah usang yang sudah terbuang. Kadang dia sedih bila memikirkan itu, dia ingin menangis di tengah malam, di atas trotoar, di tengah kota yang mungkin sudah membuangnya.
Tapi kenyataan berkata dia masih ada di sini, dan udara yang dihirupnya juga masih mengantarkan wangi (bau?) yang sama. Malam masih terlalu awal untuk disesaki dengan air mata, tapi kita tidak pernah benar-benar tahu, berapa air mata yang tumpah dalam udara ini.
Kini dia berlari kecil menyebrang jalan yang lampu setopannya sedang berwarna merah. Hampir kuning. Lalu tak lama suara kendaraan menderu. Terburu. Ditengadahkan kepalanya, dia merasa ditelan keasingan yang aneh tapi menyenangkan. Senang rasanya ada di kota sendiri, sekalipun kota itu mungkin tidak bisa dikenali lagi.
Raya terus melangkah melewati halte.
Banyak orang di sana. Kebanyakan pulang kerja. Wanita. Pria. Asongan. Satpam. Bus kota. Coretan dinding. Atap bocor. Langit. Ya, kaca-kaca gedung menampilkan warna langit yang kelam, sebagian memantulkan kembali neon-neon bergerak, neon yang padam. Ada neon bunga, bowling, billiard, mobil…
Cinta...
Ada warna pada setiap semburannya dan kembali jatuh di bola mata mereka yang ada di setiap halte.
AKU
Aku mengangkat bahu. “Entahlah, aku terlalu sibuk untuk jalan-jalan.”
Perlahan dia mengangguk lalu membetulkan kerudungnya. Kupandangi dari samping dan aku sampai sekarang masih bertanya-tanya akan sosoknya. Wanita ini kukenal di mana?
Sementara di luar hujan masih turun, malah kali ini makin deras, sekarang jam berapa? Aku tidak punya jam, dan kulihat wanita ini pun tidak pakai jam. Atau dia pakai tapi tertutup baju tangan panjangnya? Aku malas bertanya. Sebab aku kenal beberapa orang yang marah kalau ditanya, kesal kalau diganggu dengan kalimat-kalimat remeh saat mereka sedang istirahat atau merenungkan sesuatu.
Tapi untuk yang satu ini sepertinya aku harus bertanya. “Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”
“Kan aku sudah bilang, pernah, aku sering melihatmu!”
__ADS_1
Kadang aku berpikir, apa sih arti pertemuan? Tapi belum pernah ada jawaban mampir atasnya.
“Sering?”
“Sebenarnya jarang.”
“Tapi kenapa sekarang kita dekat?”
“Karena kita memang dekat.”
“Jauh tapi dekat?”
“Mungkin, lebih dekat dari dekatnya dekat…”
“Nah lho!”
Pertemuan, pertemuan, apa sih arti pertemuan? Kenapa juga harus ada pertemuan kalau nanti akan berpisah juga? Huf, aku jadi ingat lagu lama yang aku juga lupa siapa yang menyanyikannya. Pokoknya lagu itu bicara tentang perpisahan setelah pertemuan. Atau memang perpisahan dan pertemuan memang tidak perlu dipertanyakan lagi karena semua orang pasti akan atau sudah atau sedang mengalami?
Aku seperti akan tidur tapi terdengar suaranya menyentak
“Hei, hujan-hujan begini kok tidur!”
_______________________
[1] Tiba-tiba saja terlintas dalam ingatan salah satu baris puisi yang dibaca oleh Nicholas Saputra dalam film GIE
__ADS_1
[2] Kalimat “…membiarkan jemarinya saling mengetat di balik lipatan ketiak yang lebih hangat, dengan pundak yang mengerut mengusir hawa beku ditemani secangkir susu coklat hangat dengan kilauan cahaya pada tepi cangkirnya, yang secara senyap mengepulkan uap yang memecah dinding dingin…” Terinspirasi dari salah satu paragraf cerpen Izzatul Jannah yang berjudul “Jendela Lukisan” namun di sana minumannya adalah kopi, bukan susu coklat.
[3] Chairil Anwar, sajak “Sebuah Kamar” bait kedua