Siluet

Siluet
1.5 Setiap Seperempat Ketukan Acak: Raya, Anjeli, Aku, dan Biola


__ADS_3

AKU


Biola itu masih mengalun. Kutatap hujan yang satu-satu itu dengan perasaan yang gamang. Entah kenapa aku selalu merasa gamang tiap kali hujan datang. Apakah hujan selain membawa dingin, juga membawa gamang? Atau mungkin karena aku selalu bertanya sendiri:  “Akan seberapa deraskah hujan saat ini setiap aku lihat gerimis datang?”


Tapi kadang aku lihat hujan datang tanpa gerimis. Dia datang tanpa pemberitahuan lalu membuat orang-orang berlarian meneduh. Saat meneduh mereka sebenarnya tidak pernah berniat menyelamatkan tubuhnya dari sakit atau masuk angin. Sejak kapan kehujanan bisa buat masuk angin? Aku percaya hujan itu justru baik untuk tubuh. Bukankah hujan diturunkan dalam bentuk air murni yang belum tersentuh apa-apa?


Lalu kenapa juga orang-orang berlarian saat hujan?


Mereka menyelamatkan bajunya agar tidak kebasahan, mereka menyelamatkan kosmetiknya agar tidak luntur, mereka menyelamatkan gengsinya karena siapapun tidak akan terlihat tampan atau cantik saat kebasahan. Maka sejak kapan gengsi, baju juga kosmetik memegang posisi pertama sebagai sesuatu yang perlu diselamatkan?


Ah, entahlah… aku sendiri tidak akan berhenti memikirkannya


“Hei, kenapa aku sering lihat kamu sendirian?” dia bertanya sambil menyilangkan kakinya


“Kapan kamu melihatku sendirian?”


“Sering, setiap aku lewat di depanmu.”


“Jadi kamu sering lewat di depanku?”


Dia mengangguk. Aku termenung. Jadi siapa dia? Seberapa sering sih kita mengingat lagi orang-orang yang tadi kita lihat di trotoar? Seberapa sering sih kita mempertanyakan asal-usul pedagang mie ayam yang tadi kita ajak bicara?


“Kamu tidak punya teman ya?” dia bertanya lagi

__ADS_1


“Memang kamu punya?” aku balik bertanya


Dia mengangkat bahu “Aku tidak bisa percaya begitu saja pada orang.”


“Kenapa?”


“Biar bagaimanapun teman itu orang lain juga.”


“Berarti kamu tidak punya pacar?”


“Aku tidak pacaran!”


“Suami?”


“Kenapa?”


“Tidakkah lelaki dan perempuan begitu berbeda? Dan kadang perbedaan itu tidak bisa diperjelas?”


“Mungkin…” aku bergumam sambil kembali menatapi hujan.


Sementara suara Biola itu masih mengalun, kalau tidak salah itu karya Pedri Ilich Tchaikovsky[1], tepatnya rangkaian nada overture 1812 [2]. Ah, siapa juga yang memainkannya? habis biola itu seperti mengalun dari tempat lain dan bukan dari gedung ini. Atau yang kudengar ini hanya rekaman piringan hitam? Atau CD?


Mengingat Tcaikovsky aku jadi ingat kalimatnya yang termasyur: “Sesungguhnya, tanpa musik akan membuat gila. Hanya karena cinta kepada musik kita berdua ingin hidup. Siapa tahu bahwa dilangit tidak ada musik! Marilah kita manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya selama kita disini” [3]

__ADS_1


Benarkah di langit tak ada musik? Lalu kenapa juga hujan, petir, guntur dan angin bisa membentuk irama sedemikian teratur? Petir bagaikan cabikan gitar listrik, guntur seperti gebukan drum dan hujan seirama dengan perkusi. Sebuah simphony alam yang tidak mungkin ada tandingannya. Aku masih memandangi langit dan hujan yang datang. Aku ingin terus melamun dan mengenang tapi aku tahu aku tetap harus bercerita.


RAYA


Dia punya adik. Ya dia punya adik. Satu. Perempuan. Selisih empat tahun dengannya, dan hanya sehari umurnya. Tapi Raya masih bisa mengingat mata adiknya yang jernih walau belum pernah benar-benar sempat terbuka. Masih ada yang dia ingat tentang adiknya, yaitu tentang tangannya yang begitu kecil dan selalu mengepal. Tentang kulitnya yang kemerahan, tentang lipatan di sana, tentang bibirnya yang rapat.


“Adikku cantik.” Demikian ucapnya berulang-ulang Meski dia belum begitu paham kenapa atau apa cantik itu. Baginya cantik adalah perempuan dan perempuan adalah cantik. Raya tidak pernah mau berpikir rumit.


Kini dia ingat adiknya. Seperti pernah pada suatu malam dia menggesek lagi biolanya, perlahan memainkan sebuah symphoni yang entah apa, terekam begitu saja di kepala dan keluar begitu saja dari tangannya. Saat itu malam sedang pada puncaknya. Dingin terasa. Lubang angin memberitahukan angin sedang kencang, mungkin sebentar lagi akan hujan.


Memiliki adik yang hanya sehari sama seperti tidak memiliki apa-apa. Seperti hujan, demikian ia berpikir. Hujan selalu datang membasahi, tapi lalu hilang lagi. Adiknya seperti hujan yang menyapanya, untuk kemudian pergi lagi. Lalu sejak saat itu hujan jadi berarti banyak baginya, dalam hujan Raya menemukan adiknya menari-nari. Dalam petir Raya menemukan adiknya bicara. Dalam mendung Raya menemukan adiknya menyapa. Ditambah gesekan biola yang dia bawakan setiap hujan ada, maka semuanya jadi lengkap.


Hujan dan biola. Paduan yang aneh. Demikian dia berpikir. Demikian juga ibunya berpikir. Demikian juga teman-temannya berpikir. Tapi mereka semua juga pada akhirnya tidak peduli. Setidaknya hujan dan biola bisa jadi paduan yang tidak terlalu patut dipertanyakan. Bukankah banyak yang lebih harus kita pertanyakan?


 


_________________


[1] Tchaikovsky adalah pemusik besar yang lahir tanggal 7 Mei 1840 didaerah Votkins dan memperlihatkan bakat musik sejak umur 4 tahun. Beliau meninggal pada usia 53 tahun, tepatnya 6 November 1893 pukul 3 dinihari di Moskow


[2] Pada tahun 1880 ketika musim semi, Pedri llich Tchaikovsky mengunjungi sahabatnya Nicolas Rubinsten, Direktur konservatorio di Moskow, untuk memperkenalkan partitur yang terbaru yakni overture 1812 yang terkenal yang diilhami dari penyebuan Napoleon. Karyanya ini dikerjakan dalam keadaan fisik yang kurang baik. Karya ini disutradarai oleh Nepravnik, dipergelarkan beberapa bulan kemudian disuatu gedung konser yang kecil dan jelek di Moskow. Pertunjukan overture 1812 itu berkesudahan dengan kegagalan yang sangat menyedihkan.


[3] Kalimat Tchaikovsky, dalam surat yang ditujukan kepada Senora von Meek

__ADS_1


__ADS_2