Siluet

Siluet
5.1 Pada Satu Hari Mereka Bicara Tentang Cinta yang Temaram


__ADS_3

MEREKA


Siapa yang menciptakan kata “pertemuan”? Dan siapa yang mengajarkan pertemuan harus dirayakan? Tapi memang kadang sebuah pertemuan harus dinikmati hingga akan terus terkenang.


Seperti mereka. Saat ini mereka ada di meja yang sama. Tapi sedang tidak  da pemusik di panggung. Alunan musik akustik mengalun dari CD. Menggema ke sekitar ruangan yang kali ini belum terisi pengunjung.


Café baru dibuka, dan pelayan pun belum begitu selesai merapikan meja. Raya datang ke sana karena Anjeli mengatakan ada seseorang yang ingin bertemu. Entah siapa. Dia tidak mengatakan apa-apa. Hanya berpesan, tunggu saja.


“Dia datang jam berapa sih?” Raya meminum tehnya


Anjeli memandang pintu. “Nggak tahu, dia bilang sih pas café buka. Sudah sabar saja, nanti juga datang kok.”


Lalu mereka diam, Anjeli pamit.


“Sebentar ya, aku harus beresin pekerjaan dapur. Habis Ibuku belum datang sih. Paling satu jam deh, nggak apa-apa kan?”


Raya tersenyum, “Nggak apa-apa, aku tunggu disini saja.”


Sekejap kemudian Anjeli menghilang di pintu dapur. Pintu putih yang kelihatannya ringan itu masih berayun-ayun ketika punggung itu menghilang. Raya sendirian. Dalam sendiri dia merenung. Tidak jelas apa yang dipikirkannya, dia hanya ingin merenung. Musik masih mengalun. Didengarnya lagu Something’s Wrong. Suara Tompi mengalun.

__ADS_1


Sementara matahari mulai turun. Café ini buka satu jam sebelum matahari terbenam dan sekarang waktunya orang-orang pulang. Dari sekolah, dari kantor, dari pertemuan-pertemuan, dari berbagai janji, dari berbagai rasa, dari berbagai kesedihan yang mungkin hambar, dari berbagai kemarahan yang mungkin letup.


Raya memandang ke luar, ke arah trotoar yang kemerahan. Cahaya matahari menjatuhi dan membiaskan bayangan yang panjang.  Bayangan gedung, mobil, bayangan orang-orang berjalan, orang-orang berlari kecil mengejar angkutan. Sendirian. Berdua. Bersama-sama. Lelaki. Perempuan. Bergandengan. Berangkulan.


Apa yang mereka pikirkan? Raya membayangkan seandainya dia bisa masuk ke pikiran tiap orang, mungkin menarik sekali. Tapi sedetik kemudian dia merinding membayangkan pikirannya sendiri. Bagaimana kalau dia bisa masuk tapi tak bisa keluar?


Sementara lagu sudah berganti. Langit masih kemerahan menjalar ke trotoar dan ke dinding kaca gedung-gedung bertingkat. Raya masih termenung.


AKU


Aku sedang ingin menelepon seseorang.


Kadang di tengah kesendirian seperti ini, aku merasa terdesak dan butuh teman. Padahal ketika ada yang datang ingin menemani, aku memilih merenung dan tidak peduli. Kalau sampai begitu aku tidak takut mereka tersinggung dan marah padaku, sebab bukankah kita masing-masing punya keinginan?


Pertanyaannya, apakah orang itu sedang ingin ditelepon olehku?


Mengingat itu aku tidak jadi meneleponnya, aku takut menganggunya. Aku malah terdiam mendengarkan denging telepon. Akhir-akhir ini aku jadi suka mendengarkan suara dengingan telepon, dan kadang malah aku ingin menjadi dengingan itu sendiri. Rasanya seperti ikut menjelajah berkilo-kilo meter ke tempat yang misterius lewat sebuah kabel.


Apakah jadi dengingan itu asyik?

__ADS_1


Kututup gagang telepon. Aku langsung merasa sendirian lagi. Maka segera kuangkat lagi gagang telepon dan memutar sebuah nomor yang kuhapal. Lama sekali tak diangkat-angkat. Kulirik jam, memang malam sudah hampir larut. Belum tengah malam tapi biasanya di jam-jam ini orang sudah mulai menggosok gigi sebelum tidur.


Empat lima kali deringan belum diangkat juga. Apakah dia tidur? Tapi aku kenal dia, dia tidak mungkin tidur jam segini!


Sementara seorang pesuruh kantor lewat dan meletakkan setumpuk berkas di atas mejaku sambil tersenyum. Senyumnya kubalas sambil dalam hati aku menggerutu. Terbayang tumpukan berkas lama yang belum selesai kuurus, kini sudah datang tumpukan berkas yang lain.


Pada deringan ke sekian telepon diangkat


“Halo!” kukenali suaranya


“Halo ini aku!”


“Aku siapa?”


“Aku!”


“Oh ya, kamu, ada apa?”


“Tidak apa-apa, aku cuma sedang ingin menelepon seseorang.”

__ADS_1


“Lalu kenapa kamu telepon aku?”


“Tidak tahu...”


__ADS_2