
RAYA
Biola itu mengalun pelan. Malam yang hampir sempurna. Ada purnama di langit. Ada bintang mendampingi. Ada kamar yang terang. Ada biola di bahu kiri. Dipandangi dengan tegas oleh Raya. Sudah setengah jam digeseknya, hingga sampai pada nada-nada yang sudah dia hapal di luar kepala.
Sudah setengah jam diulangnya, hingga pada satu titik dia merasakan dirinya menjadi lagu itu. Menyatu dan mengambang di udara dengan nada-nada yang terbentuk maya. Kini dia bermain dengan terpejam. Biola itu sudah tidak terasa di bahunya. Tapi di hatinya. Raya kini mengalun dan mengeluarkan nada.
Sering dia ingin membayangkan kekasihnya, dan tidak pernah bisa terbayang sebelum dia memainkan alunan ini. Padahal dia tahu kekasihnya sebenarnya tidak pernah benar-benar ada. Hanya bayangan. Hanya mimpi. Satu-satunya benda nyata yang terasa menyatu justru hanya biolanya, maka kini Raya menganggap biola itu kekasihnya.
Lalu hari tanpa sadar beranjak pagi. Ada embun basah. Ada udara. Ada sejuk. Ada kopi susu hangat mengepul di atas meja. Ada suara langkah orang berjalan kaki. Lelaki. Perempuan. Meninggalkan suara hak sepatu yang nyaring menimpa jalanan. Mereka pergi ke suatu tempat, dengan bau sabun sulfur tertimpa parfum setelah mandi. Mereka pasti tampil mengesankan untuk tempat yang mereka tuju.
Tapi tempat apa yang tidak bisa dituju kecuali tempat yang ada dalam hati?
Raya juga memiliki tempat seperti itu. Tidak dalam bumi, tapi dalam ingatannya akan masa lalu. Dia kehilangan masa remaja begitu cepat. Kondisi membuatnya—ah apakah ini hanya nasib?—harus merasakan dewasa (Dia mengenal kata “tanggung jawab” lebih nyata) sebelum waktunya.
Dua puluh tahun dia. Tapi rasanya sudah hidup berabad-abad. Dia tidak pernah punya tempat untuk kembali kecuali rumahnya. Sebuah rumah type 21 dengan penghuni yang tidak berubah kecuali dirinya dan ibunya. Dua puluh tahun hidup di sana hanya dengan memandang uban di rambut ibunya yang sepertinya kian banyak.
Sering ketika malam tiba dia diam-diam masuk ke kamar ibunya. Memandang kepulasan di sana. Meresapi tubuh ibunya yang nyenyak. Mungkin dia sedang bermimpi tentang masa kanak-kanaknya yang selalu diceritakan berulang-ulang. Terutama ketika sedang mengerjakan jahitan pesanan tetangga.
Raya sering berpikir tentang masa kakak-kakak. Ibunya memiliki itu. Juga masa remaja. Sebab dengan berbinar dia sering bercerita bagaimana dia jadi primadona di sekolah dan bagaimana para tentara yang dia lewati markasnya (setiap pagi ketika dia berangkat sekolah dengan baju putih dan sepeda kumbang) sering menggoda.
Kadang Raya iri. Dia juga ingin memiliki masa remaja. Tapi sedetik kemudian biasanya dia sudah lupa. Sebab kini dia punya sebuah rumah dengan ibunya yang selalu terlihat mengerjakan jahitan. Dia punya kamar yang bisa bercerita banyak tentang masa-masa SMA (yang seragamnya sudah dia tanggalkan) tanpa waktu bermain. Sebab dia harus tahu diri hidup di saat uang lebih akrab pada mereka yang kaya.
Dia juga memiliki biola. Kekasihnya. Hadiah dari seorang tua buta yang ditolongnya ketika tertabrak mobil. Orang tua itu juga mengajari memainkannya. Lewat dia—Raya tidak tahu namanya, dia memanggilnya Opa—Raya mengerti ternyata tidak butuh mata untuk memahami nada. Lebih diperlukan hati dan perasaan. Dan raya miliki itu. Dia cepat belajar. Dua kali seminggu dia kunjungi Opa untuk terus belajar atau hanya sekedar berbincang.
__ADS_1
Lalu seiring waktu jadilah biola itu kekasihnya.
Kini pagi. Sisa-sisa embun jatuh masih terasa. Udara lembab. Mungkin kabut belum mau pergi. Raya membuka jendela. Benar saja kabut yang turun masih ada. Melapisi tanah dengan selapis tipis.
Suara di luar. Anak burung. Riuh. Suara sepatu tergesa. Suara…
Ah, saat ini Raya tidak terlalu ingin bicara. Di luar kamar sana sudah terlalu banyak suara termasuk suara mesin jahit yang sedang diputar ibunya.
Maka diambilnya biola yang tergantung sebelah. Dipasang di bahu kiri. Kembali dirasakannya dekat dengan kekasih. Raya terpejam. Mendadak dia rindu kembali ke masa remaja.
Lalu lagu yang sama mengalun. Nada-nada yang indah dan teratur membentuk lagu. Perlahan Raya berubah menjadi lagu itu.
ANJELI
Diantar ayah adalah sesuatu yang aneh (Setidaknya baginya). Memang tidak sedikit dia melihat ibu yang mengantar anaknya. Tapi justru karena itu dia jadi berpikir
“Seandainya sudah ada ibu yang mengantar anaknya, lalu bukankah tugas ayah sudah tergantikan dengan sempurna?”
Lalu dia mencoba berpikir tentang tugas ayah sebagai pencari nafkah keluarga, dan satu pertanyaan kembali muncul
“Bukankah ibuku adalah pencari nafkah juga? Jadi jelas tugas ayahku sudah tergantikan olehnya, juga dengan sempurna!”
Lalu di sekolah dia belajar bahwa lelaki bisa jadi pengganggu nomor satu. Dia lebih sering menangis oleh anak laki-laki daripada peremuan. Lagipula lelaki itu jorok, bau dan selalu keringatan. Juga laki-laki selalu berkelahi dan marah-marah sendiri.
__ADS_1
Dari sana pun seharusnya sudah bisa disimpulkan kalau dunia perempuan sesungguhnya lebih baik. Bukankah perempuan yang membuat dunia ini berwarna? Bukankah perempuan yang membuat dunia ini indah? Dan bukankah dunia perempuan yang membuat dunia ini lebih harum?
Bicara tentang harum… Anjeli sering berpikir bahwa pada awalnya Tuhan menciptakan pasangan manusia pertama, dan setelah itu—entah selang berapa lama—muncullah parfum pertama, dan Anjeli masih percaya, parfum pertama yang diciptakan manusia, adalah untuk perempuan!
Bicara tentang harum… Anjeli paling suka wangi mawar. Sebab mawar menyuguhkan aroma yang sudah dikenal tiga ribu tahun oleh para pecinta parfum. Sampai pujangga Homerus dari Yunani menulis tentang minyak mawar yang dioleskan Aphrodite sang dewi cinta, kesuburan, dan kecantikan ke tubuh Hector putra raja Troya.
Dari ratusan spesies mawar, Anjeli tahu bahwa hanya dua jenis mawar yang dijadikan parfum. Yaitu Rosa Centifolia[1] dan Rosa Damascena[2].
Anjeli merasa mawar begitu spesial, karena sampai diperlukan dua ton mawar untuk satu pon essence aromanya. Sungguh luar biasa, inti aroma yang didapat dari sekian banyak bunga pastilah sebuah inti keharuman yang spesial.
Karena itu kini Anjeli memakai parfum Joy.[3] Sedang dulu dia memakai parfum Paris.[4] Keduanya adalah parfum untuk perempuan, keduanya adalah parfum yang menjanjikan keharuman untuk dunia, dari perempuan.
Jadi sekali lagi, apa fungsi laki-laki?
Apa tidak sebaiknya kita pulangkan saja para lelaki itu ke rahim ibunya lagi!?
____________________
[1] Spesies mawar yang tumbuh di Grasse dan Maroko, dikenal juga dengan nama may atau provence
[2] Spesies mawar yang tumbuh di Bulgaria dan Turki
[3] Parfum dari Jean Patou
__ADS_1
[4] Parfum dari Yves Sait Laurent