"Tolong, jangan sembarangan bicara lagi tentang saya. Jika, Bapak tidak memiliki bukti apapun. Karena, itu sama saja dengan fitnah!" ujar Rozi, yang mulai merasa gerah atas segala tuduhan yang di lempar oleh mantan bos-nya ini.
Bono, sudah sejak tadi mengeluarkan ponselnya, pria itu nampaknya tengah menghubungi seseorang. Hingga pada saat, Rozi hendak melangkah keluar dari area dalam toko, seorang pemuda yang tak lebih tinggi darinya namun memiliki postur tubuh atletis nampak masuk dengan terburu-buru.
Rozi bahkan harus menyingkir agar tidak mendapat terjangan dari raganya yang kekar itu. Akan tetapi setelah dilihatnya pemuda itu datang langsung menghampiri Bono, di situlah Rozi mengerti dan paham bahwa Tora datang bukan sebab kebetulan belaka. Bono, memanggil bantuan untuk menekannya kembali.
Rozi tersenyum tipis kala telinganya mendengar perdebatan halus di belakang tubuhnya. Pemuda ini sengaja tak meneruskan langkahnya, ingin tau apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh paman dan keponakan yang memiliki sifat dengki padanya ini.
"Kau gila, Paman! Mana mungkin pemuda tadi itu si Ozi buluk!" protes Tora bersikeras menolak kenyataan.
"Dasar bodoh! Aku memanggilmu kesini untuk menolongku. Bukan justru marah-marah!" omel Bono, yang mana hal itu membuat Tora terdiam. Teringat akan kekuasaan pamannya terhadap usaha yang sedang ia geluti saat ini.
"Anak itu pasti sudah mati pada saat itu, Paman. Mana mungkin yang di depan sana--"
"Hei, Rozi!" panggil Bono memotong kalimat sanggahan yang terus keluar dari mulut keponakannya itu.
Rozi yang memang masih berdiri tak jauh di depan keduanya, langsung berbalik dan memasang senyum seakan dirinya tidak tau apa-apa.
"Anda memanggilku, Pak mantan bos?" sahut Rozi sengaja menekan nada pada kalimat terakhir. Jawabannya itu lantas membuat, Tora seketika melongo.
'Ma–mana mungkin. Ini adalah hal tergila yang pernah gua lihat dengan mata kepala gua sendiri. Mana mungkin, anak itu bisa hidup lagi dan justru menjadi jauh lebih baik. Gilak, ini benar-benar gila!' batin Tora yang masih membelalakkan matanya. Rozi sangat luas menyaksikan wajah terkejut dari musuh bebuyutannya ini.
__ADS_1
Bono lantas mendekati Tora, dan menepuk bahu ponakannya itu. "Hentikan memasang wajah tololmu itu! Dasar, bodoh!" sarkas Bono lagi pelan dan hanya terdengar oleh mereka berdua.
Mendengar itu, Tora langsung merubah ekspresinya. Akan tetapi, sayangnya, Rozi telah merekam itu semua di dalam pikirannya. Setidaknya, dirinya sedikit terhibur dengan tanggapan kedua orang yang sejak dulu selalu menindasnya ini. Bono memang tidak pernah secara langsung menyakitinya.
Dengan membiarkan serta memberi kesempatan pada Tora itu sama saja dengan menyetujui dan berkontribusi terhadap pelaku kejahatan tersebut. Karena, itulah Rozi kehilangan rasa hormatnya pada Bono.
"Heh! Ozi buluk!" panggil Tora kasar. Dengan suaranya yang keras dan nyaring. Hingga, beberapa pasang mata pengunjung kembali berpusat pada Rozi. Pemuda ini memberi isyarat pada ketiga anak buahnya untuk mundur dan tidak ikut campur urusannya. Rozi hanya tak ingin para pekerjanya ini ikut terlibat masalahnya di masa lalu.
"Dengan siapa anda memanggil? Kenapa nampak melihat ke arah saya?" cecar Rozi sengaja memancing kekesalan dari Tora. Di saat dirinya pura-pura tak tau mengenai panggilan tak berakhlak itu.
"Ya, gua manggil elu lah. Siapa lagi yang buluk di tempat ini selain elu. Dasar anak gembel!" hardik Tora dengan kalimat hinaan. Entah, sudah sekeras apa genggaman tangan Duo A bersaudara ini.
Rozi kembali tersenyum tipis menanggapi hinaan dari Tora. Lagipula, kata-kata dari pria itu saat ini tidak terbukti benar. Semua orang pun bisa menilai. Betapa mempesonanya penampilan dan wajah Rozi sekarang. Bahkan, sejak tadi para pramuniaga dari toko tersebut acap kali salah tingkah ketika bertabrakan tatapan dengan pemuda ini.
Rozi pun maju mendekat seraya menatap kearah bobo, intens. "Kalau saya buluk, lantas anda masuk definisi apa?" cetus Rozi membuat Tora sedikit gelagapan. Karena kini dirinya dapat melihat dari dekat bagaimana rupa pemuda yang dia panggil dengan sebutan Ozi buluk.
Tora mencoba menepis rasa sungkan dan kagum yang tiba-tiba masuk kedalam dada dan juga pikirannya. Pemuda yang bergaya macam anak muda nakal dengan tindik di telinga dan juga pelipisnya ini, mendorong dada Rozi hingga lelaki di depannya mundur dengan cepat.
Biasanya, ketika Tora mendorong seperti ini, maka Rozi akan jatuh terjengkang dengan tidak elegan. Akan tetapi, kali ini pemuda di hadapan Tora ini hanya mundur sedikit dan satu hal yang membuatnya kembali mendelik, ketika Rozi menepis bekas sentuhan Tora pada pakaiannya. Seakan pemuda itu tengah menghempas kuman yang menjijikkan.
'Sialan banget ni anak! Baru gaya dikit aja udah belagu!' kesal Tora dalam hati menggerutu.
__ADS_1
"Cih, bergaya dengan uang hasil mencuri saja belagu! Hei! Kalian semua yang ada di sini hati-hati. Dia itu pasti masuk dalam sindikat pencuri. Kalian jangan mau tertipu dengan muka sok tampannya yang tanpa dosa itu!" tudung Tora menggunakan jari telunjuknya ke hadapan wajah Rozi, sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh pengunjung toko tersebut.
Rozi memejamkan matanya, mencoba menekan emosi yang hampir mengubah keluar dari dalam dadanya. Tora selalu saja melempar fitnah Erta tuduhan keji padanya. Bahkan, pada saat itu dirinya hampir mati lantaran di pukuli warga. Apa dia kali ini ingin mengulang hal itu lagi padanya.
Rozi, tentu tidak akan diam saja kali ini. Dirinya yang dulu bukanlah yang sekarang. Dulu mungkin dia bisa seenaknya ditendang, namun saat ini, Rozi mampu mematahkan kaki dan tangan siapapun yang berani menyentuh tubuhnya.
"Kelian berdua jangan sembarangan bicara!" Wanda yang tak mampu lagi menahan emosinya pun maju berdiri di samping, Rozi. Pemuda tampan baik hati yang telah gadis ini anggap sebagai malaikat penolongnya.
Melihat Wanda nekat menentang larangan dari Rozi, bos mereka. Maka duo A bersaudara pun ikut maju seraya memainkan kepalan tangan mereka di depan dada.
"Heh! Tau apa lu! Gak usah sok ikut belain dia!" ketus Tora yang sebenarnya kaget karena tiba-tiba ada gadis cantik yang maju membela Rozi. Si gembel miskin yang selalu ia benci sejak dulu.
"Saya bela dia, karena saya tau, bahwa tuduhan yang kalian lemparkan itu tidak terbukti sama sekali!"
"Bahkan, kalian bisa di jerat dalam pasal pencemaran nama baik. Kalau kalian tidak percaya, saya akan segera menghubungi paman saya yang bekerja sebagai seorang pengacara. Bahkan, beliau memiliki kantor yang besar di pusat kota!" tegas Wanda bicara dengan lantang dan berani. Berbeda sekali pada saat dia menghadapi dua penjahat yang hendak melecehkannya tempo hari.
Sementara, Rozi tersenyum tipis melihat aksi Wanda, membela dirinya.
Tora mengeratkan rahangnya.
...Bersambung...
__ADS_1