Mendengar laporan dari pelayannya. Bahwa sang adik semata wayang beda ibu telah di culik. Bahkan, pengasuhnya di biarkan tergeletak pingsan di pinggir jalan. Hal itu tentu saja membuat Lindsay panik dan histeris.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku harus lapor polisi!" pekik Lindsay. Dimana kepanikannya itu menyambar pada seluruh pekerja di penthouse miliknya.
Rozi hanya diam memperhatikan. Tak berani melakukan tindakan yang memang bukan wewenangnya.
Lindsay sudah memegang ponselnya untuk menghubungi polisi. Hingga tiba-tiba ia mendapat kurir makanan siap saji mengantarkan sesuatu.
"Nona." Pelayan menyodorkan pesanan tersebut.
"Apa ini? Aku tidak memesan apapun!" heran Lindsay.
Rozi diam-diam telah menggunakan kacamata spy. Untuk memindai apa isi di dalam kotak makanan tersebut.
"Isinya hanya makanan, aman. Bukalah," titah Rozi pada Lindsay.
Setelah di buka.
Memang benar makanan yang berasal dari salah satu restoran Jepang.
Sushi kesukaan Lindsay.
Akan tetapi ada yang aneh.
Setelah menyadarinya, model cantik itu langsung melempar kotak tersebut.
Tentu saja isi di dalamnya berhamburan keluar. Pada saat itulah, Rozi membelalakkan matanya. Pemuda itu tidak berpikir bahwa yang ia lihat tadi adalah potongan jari manusia yang di balut bumbu dan saus mayo.
"Gila! Siapa yang mengirim makanan menjijikkan itu kesini!" pekik Lindsay semakin ketakutan. Mau tak mau, Rozi mendekat, lalu mengulurkan tangan untuk merangkul raga bergetar wanita cantik itu.
Tak lama ponsel Lindsay berdering.
__ADS_1
"Ha–halo." Lindsay menjawab dengan bibir yang bergetar. Pikiran dan hatinya sudah kemana-mana. Membayangkan segala kemungkinan terburuk yang terjadi pada sang adik.
"Kau sudah menerima kiriman dariku kan?" kata orang di balik telepon yang menggunakan suara di samarkan.
"S–siapa kau!" pekik Lindsay dengan suara serak yang dibuat memekik.
"Kau tidak perlu tau aku, kau hanya perlu menuruti perintahku. Jika tidak ... maka potongan jari yang ku kirim adalah hari adikmu satu persatu per satu jam sekali." Sang penelepon pun menyeringai jahat di seberang sana.
"Apa yang kau inginkan! Lepaskan dia! Kalau kau butuh uang aku bisa memberikannya! Tapi ... lepaskan adikku!" teriak Lindsay dengan suara yang semakin bergetar. Air matanya sudah tumpah membanjiri wajahnya.
"Tentu saja aku butuh uang." Sang penelepon menjawab dengan nada tegas penuh ancaman. " Kau ... Jangan coba-coba melapor kepada polisi atau, bukan hanya jari yang akan ku kirim tapi kepala adikmu!"
"Tidak!"
Lindsay berteriak histeris ketika sang penelpon memutuskan sambungannya. Seketika, raganya yang lemas luruh ke atas lantai.
Akan tetapi, secara diam-diam Rozi telah memindai dimana lokasi dan titik koordinat sang penelepon dengan cara menyadap panggilan barusan menggunakan kacamata spy.
Rozi ikut berjongkok mendekati Lindsay yang menangis. Pada saat itulah, terdengar suara notifikasi di dalam pikirannya.
[ Misi untuk anda tuan. Selamatkan anak itu, dan dapatkan hadiah berupa obat dan serum yang bisa menyehatkan ayam-ayam ternak, serta penyubur tumbuhan. ]
Mendengar reward yang akan di berikan oleh sistem membuat Rozi memiliki ide. Sepertinya ini adalah salah satu cara dan jalan untuk menyelesaikan setiap masalah dalam usahanya. Karena telah beberapa kali Rozi mengalami kesulitan dalam mencari bahan baku.
"Baiklah." Rozi menjawab singkat, dengan sebuah anggukan pelan dan senyum penuh arti.
Rozi kembali menyentuh bahu Lindsay. "Tenanglah, aku akan berusaha membantumu," ucap Rozi.
Mendengar tawaran bernada tulus dari pria yang memikat hatinya, membuat Lindsay seketika mendongakkan kepalanya.
"Kau yakin ingin membantuku, Oz?" tanya Lindsay dengan mata yang berlinang. Bahkan hidung mancungnya memerah.
__ADS_1
"Tentu saja aku yakin. Aku akan mencobanya. Kita akan pikirkan caranya bersama-sama. Kau tenanglah." Perkataan dari Rozi bagaikan air pegunungan yang seketika menyejukkan.
Lindsay tersenyum dalam tangisnya. Sepertinya ia tak salah telah menetapkan hatinya untuk menyukai seorang pria. Setelah beberapa kali ia tertipu cinta beberapa pria sebelum ini.
Sementara itu di tempat penyekapan.
Draco, melepas alat di lehernya. Pria itu tersenyum smirk seraya menatap seorang bocah yang tengah terikat di sebuah kursi.
"Aku akan mendapatkannya. Rencana kali ini harus berhasil." Draco memberi kode pada beberapa orang suruhannya untuk berjaga. Karena, ia harus meneruskan rencana yang telah ia susun dengan rapi ini.
Di luar bangunan. Draco menghubungi Lindsay. "Halo, Lindsay sayang. Aku ... ingin mengatakan sesuatu padamu. Tetapi, aku berharap yang ku lihat itu salah," ucap Draco disertai dramanya.
Sementara, itu bibirnya yang tipis tengah menyeringai hingga hampir menyentuh telinga.
"Draco apa yang ingin kau katakan? Jangan membuatku penasaran!"
"Aku ... akan datang ke penthouse. Karena, aku tidak bisa mengatakannya di telepon. Bisakah kau menungguku di sana?" pinta Draco dengan nada suara yang begitu manis.
"Aku–aku, baiklah. Aku tunggu dan cepatlah!"
Draco pun menutup teleponnya dan mulai menyalakan mesin mobil.
"Aku akan menjadi Hero di balik villain. Semua demi mendapatkanmu, Lindsay sayang."
"Boleh aku tau? Siapa yang menghubungimu barusan?" tanya Rozi.
"Dia Draco, salah satu promotor music. Dia salah satu pria yang pernah ku tolak cintanya. Akan tetapi, belum pernah dia seserius ini. Ku rasa ada berita penting yang akan ia sampaikan padaku. Kau mau kan, tetap menemaniku dulu, Oz?" pinta Lindsay.
Rozi pun tersenyum dan mengangguk.
"Pria itu, seperti ada sesuatu di balik setiap ucapannya," batin Rozi.
__ADS_1
Sepertinya misi kali ini agak sedikit sulit.
...Bersambung ...