Bono memutuskan untuk membawa keponakannya itu, kerumah sakit. Karena, keadaan Tora setelah mendapat pukulan kerasa dari Rozi nampaknya mengakibatkan luka dalam yang serius.
Akan tetapi, Bono tidak mungkin melaporkan tindakan Rozi tersebut kepada pihak yang berwajib. Karena, banyak saksi mata yang melihat jika yang memulai pertikaian lebih dahulu adalah keponakannya itu. Bahkan, Tora yang telah puluhan kali melepaskan serangan demi serangan kepada Rozi.
Aneh baginya, hanya mendapat satu pukulan saja dari tangan lurus pemuda seperti Rozi. Keponakannya yang dia ketahui memiliki ilmu beladiri hebat bisa tumbang hanya dengan satu kali tendangan saja. Bahkan, anehnya lagi keponakannya itu terlempar dengan keras.
Dalam hati, Bono bertanya-tanya, bagaimana bisa mantan anak buahnya itu yang dia ketahui sangatlah lemah, menjadi lebih kuat hingga tiga kali lipat. Ah, bukan tiga tapi nampaknya lima kali.
Di bantu beberapa warga Bono membawa Tora kerumah sakit menggunakan kendaraannya.
Rozi segera di hampiri oleh duo A dan juga Wanda. Mereka sempat khawatir terhadap keadaan bos ketiganya itu. Mereka takut, jika Rp menyembunyikan luka di tubuhnya. Karena mereka yakin jika pukulan dari Tora pasti ada yang mengenai badan majikan mereka itu.
"Bos, anda tidak apa-apa kan?" tanya Arga dan Arya bersamaan. Kedua kakak beradik ini langsung memutari raga bos mereka itu. Sungguh keduanya sangat khawatir karena mereka sempat melihat jika Rozi beberapa kali hampir mendapatkan pukulan yang serius.
Wanda pun ikut maju dan memegang tangan pemuda yang telah menyelamatkannya itu. Wanda sempat bingung karena pada saat itu, Rozi mampu melawan dua penjahat bertubuh besar sekaligus. Akan tetapi, mengapa pemuda yang memberikannya pekerjaan ini seakan mengalah di awal. Rozi seakan tidak memiliki kemampuan apapun, namun di akhir pemuda itu mengeluarkan tenaganya.
Wanda tau, jika Rozi bisa saja menghabisi pemuda yang mencari gara-gara dengannya itu. Akan tetapi, Rozi seperti sengaja tidak melakukannya. Terlihat sedari awal pemuda itu hanya mengalah dan membiarkan Tora mengeluarkan semua kebusukan dalam hatinya.
"Bos, sebaiknya kita pulang sekarang. Sebelum pihak yang berwajib datang dan mempersulit anda nanti," ajak Wanda. Rozi pun tersenyum dengan perhatian dari para anak buahnya ini.
Mereka pulang.
Rozi berniat memulainya usahanya dengan mencari peternak ayam terlebih dahulu.
"Kita harus mencari supplier ayam potong. Karena, jika kita mengambil ayam segar dari peternak langsung maka kita akan mendapat beberapa keuntungan. Selain harganya lebih murah dari pasar maupun toko, kita juga akan mendapatkan ayam tersebut dalam keadaan utuh," tutur Rozi pada ketiga anak buahnya itu. Mereka mendengarkan dengan seksama apa saja yang bos mereka jelaskan.
"Maksud Bos gimana?" tanya Arga. Hal itupun diangguki oleh kedua anak buahnya yang lain.
Sementara, Wanda mencatat setiap hal yang penting ke dalam tablet yang ada di tangannya. Karena barang-barang yang nanti akan digunakan oleh kasir sudah tiba di ruko tersebut.
Awalnya Wanda dan juga duo A bersaudara sangatlah kaget, karena seperangkat komputer itu sangatlah canggih dan keren. Mereka biasa melihat itu di gerai frenchise ternama. Harganya juga pastilah sangat fantastis. Hal itu tentu saja membuat ketiganya semakin mengagumi Rozi. Karena bagi mereka bos-nya ini adalah tipikal orang kaya yang sangatlah sederhana.
__ADS_1
"Maksud saya, jika kita membeli ayam dari peternak maka yang kita dapatkan adalah ayam utuh beserta dengan isi perutnya. Sehingga, Kuta bisa menggunakan usus, jantung, hati dan ampela ayam sebagai cemilan atau produk lain dari menu utama kita yaitu ayam garing," jelas Rozi rinci dan detail. Sehingga ketiga anak buah yang duduk di hadapannya ini menganggukkan kepala tanda mengerti.
"Anda sangat jenius, Bos! Cara berbisnis anda sangat brilian. Kita dapat m manfaatkan semua bagian dari ayam tersebut. Untuk menjadi jenis produk yang lain," puji Wanda, yang benar-benar terkesima dengan cara berpikir pemuda di hadapannya ini. Wanda tidak menyangka jika usia Rozi yang tiga tahun lebih muda darinya ini dapat memiliki jalan pemikiran seperti itu.
Tring!
[ Misi keempat masuk. Anda harus menemukan kembali apa yang dulu berarti dan berhubungan dengan masa lalu mendiang orang tua anda. ]
Rozi, sontak memegang pelipisnya. Ia meminta ijin pada anak buahnya untuk masuk kedalam.
Setelah berada di dalam toilet. Tepatnya di depan wastafel.
"Kenapa kamu datang di saat aku sedang mengadakan rapat?" protes Rozi pada Alzera.
[ Mereka tidak akan menyadari keberadaan saya, Tuan. ]
"Oh, iya. Aku lupa!" Rozi pun menggaruk kepalanya.
[ Apa yang anda butuhkan saat ini memiliki hubungan dengan masa lalu keluarga anda. ]
"Maksudnya, peternakan ayam?" tanya Rozi lagi memastikan.
[ Benar, Tuan. Sebaiknya anda ingat-ingat lagi. ]
Rozi pun mencari supplier ayam potong yang dulu menjadi langganan mendiang orang tuanya. Rozi mencari informasi dengan kacamata spy miliknya, berbekal dengan ingatannya ketika remaja.
"Ini tempatnya. Aku menemukan mereka Al!" seru Rozi yang sengaja datang ketempat ini seorang diri. Karena Rozi harus menemukan lokasi menggunakan alat bantu dari sistem. Pemuda ini menggunakan tukang ojek untuk mengantarnya sampai ke lokasi yang berada di pedalaman kampung ini.
Hingga Rozi menemukan pria tua itu yang sedang memberikan pakan ayam pada hewan ternaknya dalam kandang ukuran besar.
"Pak, Igon? Masih ingat saya tidak?" tanya Rozi pada pria tua tersebut.
__ADS_1
Pak Igon lantas menoleh. "Kalau diliat dari matamu. Sepertinya saya kenal. Tapi apa iya? Karena mereka semua menghilang tanpa kabar sama sekali," ucap pak Igon dengan raut wajah sedih.
" Adisty dan Doni? Benarkah, kau adakah anak laki-laki mereka itu?" cecar pak Igon. Kedua matanya langsung berbinar penuh harapan.
"Iya Pak, itu saya. Kenalkan, Rozi," jawab Rozi seraya mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan keriput itu.
"Oh, luar biasa. Kau sudah sebesar ini. Lalu, bagaimana kabar kedua orang tuamu?" tanya Igon penasaran. Pria tua itu bahkan celingak-celinguk mencari orang yang dia harapkan.
"Mereka sudah tiada sejak lima tahun lalu," ucap Rozi lirih.
"Oh tidak. Nak, maafkan aku. Pantas saja sejak saat itu mereka menghilang. Apakah kau hidup menderita selama ini, Nak?" tanya Igon menelisik penuh keprihatinannya.
"Sudahlah, Pak. Itu semua sudah berlalu. Masa-masa berat itu justru telah menempa saja untuk menjadi pemuda yang kuat dan berambisi. Karenanya saya mencari anda, agar kita dapat menjalin bisnis lagi," tutur Rozi penuh semangat.
Akan tetapi, Igon menunduk sayu.
Pria tua itu bercerita bahwa usahanya perlahan bangkrut karena, ia harus menjual semua asetnya demi pengobatan sang cucu.
Igon menceritakan keadaan cucunya yang sakit kelainan pigmen kulit hingga selalu di bully temannya di sekolah. Gadis yang seharusnya cantik itu memiliki keadaan kulit bersisik macam ular.
"Kasian sekali. Saya tau bagaimana rasanya di kucilkan. Hingga pada saat itu saya merasa lebih baik tidak dilahirkan saja di dunia. Cucu anda pasti sangat sedih," tutur Rozi dengan tatapan simpatinya ke arah gadis berusia empat belas tahun itu.
[ Anda mendapat lencana pilar medical. Karena telah tersentuh dengan keadaan orang lain dan turut merasakan penderitaannya. ]
Waw! Ini luar biasa!
Rozi, pun dapat menyembuhkan penyakit sang cucu hanya dengan menggunakan perantara daun pisang. Pemuda itu menutupi seluruh tubuh sang penderita dengan daun tersebut kemudian mengipasinya dengan uap panas yang berasal dari panci besar berisi rebusan rempah-rempah.
Cling!
[ Selamat! Anda mendapat hadiah reward koin emas lagi dengan status yang semakin baik. ]
__ADS_1
...Bersambung ...