Rozi tersenyum tipis kala sistem bicara dalam pikirannya. Reward yang lumayan. Setidaknya dia tak lagi harus berdebat ketika membutuhkan Avatar. Sementara, sisa uang cash juga masih cukup untuk membayar etalase, juga belanja bahan-bahan pokok untuk dagangannya nanti.
"Sebaiknya, kita tinggalkan tempat ini. Kau tak mau kan, kalau mereka tiba-tiba bangun," ucap Rozi menakuti, karena di lihatnya gadis itu, tetap tak bergeming. Mungkin, dia masih syok. Melihat pertarungan yang begitu cepat dan dimenangkan oleh pemuda bertubuh kurus tinggi. Ya, kalau di lihat sekilas Rozi memang hanyalah pemuda tak memiliki kemampuan apapun, bahkan tubuhnya terlihat tak berisi.
Rozi mengajak gadis itu masuk ke salah satu warung kopi di sana. Kemudian dia memesan teh manis hangat. "Ini untukmu," ucap Rozi seraya menyodorkan teh yang masih mengepulkan asap itu ke arah gadis yang di tolongnya. Tak lama pemuda ini juga memesan roti bakar.
"Terimakasih, kamu jadi repot begini karena saya," ucap gadis bernama Wanda itu sungkan.
"Santai saja, sesama manusia itu harus saling membantu," sahut Rozi. Pemuda itupun menyeruput susu coklat panas dan memasukkan roti bakar ke dalam mulutnya. Perutnya masih lapar karena baru sarapan dua suap ketoprak.
"Kalau boleh tau, kau mau kemana? Kenapa bisa terjebak dengan para preman itu?" tanya Rozi mengulik demi membuka obrolan. Karena, di lihatnya gadis ini membawa-bawa map plastik berisi berkas. Pakaiannya juga blues putih yang pas di badan sehingga mencetak bukit teletubbiesnya yang lumayan bagus, dipadankan dengan bawahan rok hitam pendek. Sehingga, menampilkan betisnya yang putih nan mulus.
"Aku ... sedang mencari pekerjaan," jawab Wanda agak ragu, apakah dia harus jujur mengenai kesulitannya pada pemuda yang baru dikenalnya ini atau tidak. Tetapi, kalimat itu seakan meluncur begitu saja dari bibirnya.
"Apa keahlianmu? Mungkin aku bisa membantu," kulik Rozi lagi, siapa tau saja ini rejekinya. Karena penampilan Wanda sangat cocok dengan image usahanya nanti. Wanda memiliki paras cantik tapi kalem. Sedangkan postur tubuhnya tinggi langsing, dengan rambut pendek sebahu.
"Terakhir, aku bekerja sebagai kasir di sebuah supermarket. Akan tetapi, tempat ku bekerja mengalami kerugian. Entah kalah saing atau apa. Mereka benar-benar menjual usaha franchise-nya itu kepada lawan bisnisnya. Sayang, tak boleh ada karyawan sebelumnya yang bekerja di sana lagi," tutur Wanda mencurahkan isi hatinya. Setidaknya, ia dapat merasa lega. Beban di dadanya berkurang sedikit.
"Kebetulan sekali!" seru Rozi girang. Ternyata harapannya terkabul. Dia tak perlu jauh-jauh mencari calon karyawan yang bisa memegang keuangan pada usahanya nanti.
Wanda yang sempat terkesiap, memegangi dadanya. "Kebetulan apa maksudnya?" Kening Wanda berkerut bingung. Karena, pemuda di hadapannya ini menatapnya berseri-seri.
"Aku senang mencari pekerja yang bisa memegang keuangan dalam usahaku yang baru. Aku akan membuka usaha franchise ayam krispi. Bagaimana, kalau kau bekerja denganku dan kasirnya?" tawar Rozi terus terang.
__ADS_1
"Benarkah? Anda menawarkan pekerjaan untuk saya?" Kaget Wanda tak percaya. Bahwa, pemuda yang menolongnya ini yang pada akhirnya memberi pekerjaan untuknya. Sekaligus menyelesaikan keruwetan dan kebingungannya dalam mencari uang untuk biaya pengobatan sang ibu.
"Jadi kau setuju?" tanya Rozi memastikan.
"Tentu saja, saya sangat senang. Karena, sudah beberapa hari ini saya keluar masuk perusahaan, namun belum ada satupun yang menerima saya. Sementara, saya membutuhkan uang untuk biaya pengobatan ibu," jawab Wanda jujur. Entah kenapa, dirinya begitu mempercayai sosok pemuda tampan di hadapannya ini.
Sosok yang ia lihat sederhana saja. Seperti kebanyakan pemuda lainnya, akan tetapi ternyata adalah seorang pengusaha muda.
"Baiklah, aku sudah memiliki dua karyawan pria. Mereka akan bertugas sebagai koki. Maksudku yang membuat ayam dan melayani pelanggan. Sementara, kamu hanya bertugas di depan kasir mengatur setiap yang yang masuk dari pelanggan. Mengenai gajimu, akan ku berikan sama dengan dua karyawan yang lain. Di sesuaikan dengan tarif gaji karyawan franchise yang baru merintis. Tapi, aku janji ... jika usahaku semakin maju. Aku tentu akan menaikkan upah kalian," tutur Rozi menjelaskan keadaan usahanya yang memang baru merintis ini.
"Anda hebat sekali, masih muda tapi sudah memiliki usaha sekeren ini. Biasanya, yang saya lihat anak-anak muda di luar sana hanya sibuk menghabiskan uang dan harta kedua orang tua mereka saja. Bahkan, mereka bangga dengan hal itu sampai dijadikan alasan untuk menindas temannya sendiri," puji Wanda.
Ia jadi teringat dengan kasus penganiayaan atas dasar pembullyan baru-baru ini. Dimana korbannya sampai mengalami luka berat dan berakhir koma di rumah sakit. Sedangkan, pemuda tampan yang Wanda lihat di hadapannya ini memiliki aura yang tak biasa. Rozi, nama yang sama bagus dengan attitude-nya.
Karena di kehidupan sebelum mendapat anugerah sistem ini, tak ada satu makhluk pun berjenis wanita yang ingin bicara dengannya apalagi tersenyum kepadanya. Bahkan para kaum lelaki saja membenci kehadirannya.
Wanda terpikat dengan senyuman manis, Rozi tanpa pemuda itu sadari. Hingga, gadis itu menunduk menyembunyikan rona merah di kedua pipinya. Seketika, Wanda merasa kesemutan di area wajahnya itu.
Rozi meminta Wanda untuk datang keesokan harinya. Pada saat itulah, dia mempertemukan para karyawannya.
"Kenalin, guys. Ini Wanda, kasir kita," ucap Rozi pada karyawan laki-laki yang berdiri canggung.
"Wanda, mereka ini adalah duo A bersaudara, yaitu, Arga dan adiknya Arya. Saya harap, kita semua bisa bekerja sama membangun usaha ini hingga di kenal masyarakat. Karena saya, berharap dapat membuka lapangan pekerjaan bagi para pemuda yang kreatif dan bersemangat tinggi untuk maju," jelas Rozi yang mana di sambut tepuk tangan oleh ketiganya.
__ADS_1
Singkat cerita, Rozi pun mengajak ketiga karyawannya ini untuk belanja keperluan usaha franchise miliknya itu. Rozi bertekad dengan keyakinan penuh bahwa suatu saat nanti usahanya ini akan sukses dan memiliki beberapa cabang dengan mengajak para pengusaha kecil untuk bergabung dengannya.
Itulah mimpinya.
Lagipula, sebuah kesuksesan berawal dari mimpi dan cita-cita yang tinggi, bukan?
Asalkan, jangan hanya berpangku tangan dan sekedar berkhayal saya. Akan tetapi buatlah aksi nyata dengan segala usaha yang kau kerjakan semaksimal mungkin.
"Halo, Pak. Saya mau mengambil pesanan etalase beberapa hari yang lalu. Ini kertas bon sebagai bukti pembayaran uang muka," jelas Rozi seraya memberikan secarik kertas kepada pelayan toko.
Bono, pria dewasa yang memiliki usaha ayam krispi. Mantan bos dari Rozi dulu. Kini, tengah memperhatikan sosok pemuda yang berdiri membelakanginya. Kebetulan, Bono di sana karena ingin memesan rak besi penyimpan bahan baku untuk restonya.
Pria bertubuh agak gemuk itu memperhatikan dengan seksama sosok pemuda yang dia hapal benar suaranya.
Siapa dia? Kenapa suaranya mirip sekali dengan si Ozi buluk itu? Bukankah anak itu sudah mati?
Bono yang penasaran mendekat hingga berdiri sejajar dengan sosok pemuda yang tampan dan mengenakan pakaian rapi ini. Kaus Nevada dengan sweater dan celana Jogger. Sangat cocok dengan usianya yang masih muda.
Merasa ada orang yang memperhatikan, maka Rozi pun menoleh ke sebelah. Pada saat itu juga dia kaget, dan tanpa sengaja keluar kalimat dari bibirnya yang berwarna merah muda itu.
"Pak Bono!"
Seketika kedua bola mata besar pria di sebelahnya terbelalak kaget.
__ADS_1
...Bersambung ...