Rozi mengikuti saja rencana yang di buat oleh Draco. Pemuda ini berlagak bodoh meskipun sebenarnya dia sudah tau apa yang ada di dalam kepala Draco yang licik ini.
"Kau diam dan menurut saja. Lakukan apa yang ku katakan. Ingat! Jangan protes ataupun membantah!" kecam Draco.
Saat ini mereka berada di sebuah dermaga. Tepatnya, di bagian bongkar muat cargo.
Rozi yang masih mengenakan kaca mata spy pun memindai keadaan sekeliling. Hingga, dia menemukan sebuah cargo yang berisikan sosok Prince Wilson.
"Jadi anak itu di sekap di sana. Dasar licik! Cara yang sungguh kampungan!" batin Rozi geram.
Secara Draco menggunakan rencana serigala berbulu domba. Dia yang menculik dia juga yang beraksi sebagai pahlawan. Basi!
Tidak akan semudah itu. Rozi akan menggagalkan semua rencananya, bahkan membongkar rencana busuknya itu.
"Sistem buka panel. Aku ingin membeli kamera drone," ucap Rozi pada sistem.
[ Baik Tuan. Tunggu! ]
Tak lama, Alzera membentangkan layar panel hijau di hadapan Rozi saat ini. Dimana hanya dialah yang dapat melihatnya. Sementara orang lain tidak.
Maka Rozi pun membeli beberapa set kamera pengintai drone. Ia akan menggunakan itu untuk merekam semua aksi dari Draco nanti.
Sebab, dia akan membutuhkan bukti, yang akan membuat Draco tak bisa berkelit lagi. Pria itu harus mendekam di balik jeruji besi. Dengan segala kejahatan berencana yang ia lakukan.
Draco bergerak lebih dulu, sambil menghubungi anak buahnya agar menghabisi Rozi.
Nanti dia akan bercerita pada Lindsay jika Rozi tak selamat. Karena, memang pria itu bodoh dan gegabah. Sementara, Draco akan membawa Wilson kembali dengan selamat.
Sementara begitulah rencana yang ia buat. Sebelumnya ia akan menyingkirkan Rozi terlebih dahulu. Pemuda itu, akan menjadi batu sandungan baginya ke depan. Sebab, Lindsay terlihat jelas menyukainya.
"Dia ada di belakangku. Bawa tiga sampai empat orang saja. Pukuli dia sampai mati!" titah Draco kepada anak buahnya di balik telepon.
Sementara itu, Rozi telah lebih dulu melepas drone pengintai. Benda kecil yang melayang di sekitar Draco tak cukup di sadari oleh pria itu. Sehingga benda canggih tersebut dengan mudah dan leluasa merekam suara serta tingkah laku Draco saat ini. Termasuk, rencananya terhadap Rozi.
__ADS_1
Rozi menyeringai pada saat mendengar rencana Draco. Pada alat yang ia tempel di telinga, demi memantau setiap pergerakan dari Draco.
"Amatir!" umpat Rozi.
Ia hanya menggeleng melihat Draco mulai melakukan aksinya.
Nyatanya empat orang telah datang mengepung Rozi yang asik duduk bersandar pada sebuah tong.
Sama sekali tidak kaget. Sebab, Rozi memang tengah menunggu mereka. Apalagi, orang yang di kirim oleh Draco hanya segini. Mau tak mau Rozi pun tertawa tanpa suara.
"Itu dia orangnya. Tubuhnya sekecil itu, kalian saja yang maju!" titah salah satu pria yang merupakan leader ketiga orang suruhan Draco ini.
"Tunggu!" tahan Rozi Setidaknya, ia ingin mebti kesempatan pada keempat orang ini untuk hidup lebih lama. Jika mereka setuju dengan kesepakatan yang akan Rozi berikan.
"Apa-apaan, kau bocah!" Kedua pria berbadan cukup besar dengan tatto telor ceplok di lengan mereka tetap maju. Akan tetapi, ada sebuah tenaga yang menahan mereka.
Rozi pun membiarkan telapak tangannya terbuka, karena ia tengah mengunakan elemen bumi yang ia kuasai. Sehingga, para penjahat yang ingin menyerangnya ini tak dapat menggerakkan kaki mereka.
Brukk!
Semuanya seakan terhisap oleh tanah.
Perlahan, Rozi membuat mereka bersimpuh dengan lutut yang menyentuh tanah.
"Sudah ku katakan, tunggu dulu. Tapi, bukan berarti kalian harus berlutut seperti ini," gelak Rozi yang tak tahan lagi untuk menertawakan keempat orang yang tengah menahan kesal ini.
"Apa yang terjadi pada kita? Kenapa juga dia tertawa?" ucap leader penjahat ini geram. Ia heran kenapa tubuhku seakan tertarik ke dalam tanah. Sehingga, ia tak mampu untuk mengangkat kakinya.
Rozi menghentikan tawanya, dan kembali menggerakkan telapak tangannya. Sehingga ...
Brukk!
Kali ini mereka semua rebah di atas tanah dengan keadaan tersungkur.
__ADS_1
"Sial! Sebenarnya apa yang bocah itu lakukan pada kita?"
"Hei bocah!"
"Apa yang kau lakukan pada kami!" teriak salah satu penjahat pada Rozi.
Akan tetapi, Rozi hanya menyeringai.
Rozi menggerakkan tangannya lagi, dan penjahat tadi pun mencium tanah dengan wajahnya.
"Sudah ku beri peringatan. Tapi kalian tidak mau mendengarkan. Jangan mengira bahwa kalian lebih hebat dari seseorang yang kalian lihat lemah. Nyatanya, bahkan kalian tak mampu mengangkat wajah kalian untuk memandangku," sarkas Rozi.
Para penjahat tak ada yang bisa menjawab karena wajah mereka lekat ke aspal.
"Sial! Siapa sebenarnya bocah ini? Kenapa Draco ingin menghabisinya?" batin sang leader penjahat.
Bip bip bip!
Alat komunikasi yang berada di pinggang penjahat itu berbunyi.
Sebenarnya alat tersebut tersambung dengan yang alat yang telah menempel ditelinga.
Akan tetapi, para penjahat ini tak dapat menggerakkan anggota tubuh mereka karena sejauh gaya gravitasi, yabg membuat mereka menempel kaku di atas aspal.
Rozi melangkah maju dan mengambil alat itu.
"Halo, Dark! Apakah bocah ingusan itu sudah mati!" pekik Draco di ujung sana.
Rozi hanya menarik sudut bibirnya ke atas.
Dengan kedua mata yang berkilat.
...Bersambung ...
__ADS_1