Karena Alzera masih merahasiakan misi ketiga. Maka Rozi memutuskan untuk mengepel seluruh lantai kedai, setelahnya ia mandi. Rozi tidak pernah perhitungan akan pekerjaan. Sekalipun dia memiliki anak buah.
Rozi keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggang. Terlihat sisa tetes air mengalir dari ujung rambut pemuda berwajah tampan itu. Kemudian, jatuh ke dada bidangnya yang terbentuk sempurna, hingga melalui kotak persegi di tengah perutnya.
Setelah mengenakan celana kolor yang baru beberapa hari lalu di belinya. Rozi berjalan ke balkon. Pemuda itu membawa segelas susu coklat hangat dan setoples biskuit. Kebetulan, Rozi tidak merokok. Tanpa mengenakan apapun pada bagian atas tubuhnya, alias membiarkannya tersapu angin malam. Rozi duduk menggunakan kursi kayu tinggi yang dia ambil dari kedai.
Pemuda bermata abu-abu ini menendang lurus ke depan. Dimana ia dapat melihat beberapa bangunan lain nampak berbaris di bawah sana.
Rozi memiliki warna mata yang menurun dari sang ibu, sementara sang ayah berwarna amber Biasanya, mereka yang memiliki mata abu-abu mempunyai iris mata yang tidak mengandung melamin.
Selain itu, iris mata mereka memiliki kolagen dalam jumlah ekstra yang berbeda dengan mata pada umumnya. Fenomena ini biasa disebut juga dengan stroma. Dimana hal tersebut memblokir warna biru agar tak muncul di mata sehingga hasilnya mata pun tampak berwarna abu-abu.
Rozi memiliki hampir delapan puluh persen kemiripan dengan mendiang ibunya. Bahkan fakta tersebut diutarakan langsung oleh mendiang ayahnya. Karena itulah pemuda ini tidak pernah bercermin semenjak kehilangan mereka empat tahun yang lalu.
Rozi turun dari kursi dan meletakkan siku di atas pagar besi dari balkon tersebut. Pemuda ini telah terbiasa tubuh telanjangnya diterpa angin malam yang dingin. Rozi tersenyum samar, membayangkan apa yang akan ia lakukan ke depan.
"Perjuangan masih panjang. Sebaiknya aku rehat malam ini. Karena perasaanku mengatakan jika esok adalah hari yang cukup berat," monolog Rozi. Kemudian dia berbalik kedalam, menuju dapur untuk mencuci gelas di wastafel. Setelah itu merebahkan dirinya ke atas tempat tidur yang empuk.
"Ma ... Pa. Rozi bisa merasakan kasur gang empuk lagi. Punggung ini tidak akan merasakan sakit setiap bangun pagi," gumam Rozi, hingga akhirnya pemuda ini memejamkan matanya sambil memeluk guling.
Keesokan harinya.
Rozi masih dengan posis yang sama ketika sang surya baru saja muncul di ufuk timur. Akan tetapi tiba-tiba.
[ Tuan Rozi! Bangunlah! ]
Mendengar suara sistem yang mengaku bernama Alzera berdengung di telinganya. Rozi seketika kaget dan berusaha membuka kedua matanya.
[ Cepat bangkit untuk menjemput misi! ]
Mendengar perintah itu, Rozi langsung terduduk sambil mengucek matanya. Setelah membuka dengan susah payah, pemuda itu melihat jam yang terdapat di atas meja.
"Huh, baru jam berapa ini, Al! Kau yang benar saja," gerutu Rozi. Namun, pemuda itu tetap saja bangkit sambil menggaruk perut dan terus kebagian dalam kolornya.
[ Cepat mandi. Waktu anda hanya lima belas menit. Lalu, joging ke pasar pagi. ]
"Haish!"
"Cepat katakan misinya!" titah Rozi yang kesal karena pagi-pagi buta sudah di suruh joging ke pasar.
[ Misi tersebut adalah, menyelamatkan seorang gadis yang sedang diintai untuk di culik. ]
Pffttt!
Rozi menyemburkan susu coklat yang baru di seruputnya. "Ku pikir hewan lagi yang ku selamatkan. Ternyata, manusia. Karena yang sebelumnya anjing dan kucing, kan," ucap Rozi heran.
[ Lakukan saja. ]
__ADS_1
"Iya, iya baik!"
Rozi langsung keluar dan menutupi kepalanya dengan hoddie. Pemuda itu berlari kecil, sambil mengawasi sekeliling. Selama setengah jam berlari belum juga menemukan tanda-tanda maupun penampakan dari gadis yang akan diculik itu.
Rozi yang belum tau dimana dia akan mendapatkan misinya itu pun memutuskan untuk mencari pengganjal perutnya yang lapar di sekitar pasar sekalian. Saat sedang makan ketoprak. Rozi melihat gerak-gerik dari dua pria yang terlihat membuntuti gadis muda seusia anak kuliahan.
Kedua pria yang seperti preman itu mengikuti perempuan tersebut masuk di antara gang kecil. Rozi meninggalkan sarapannya, meski baru masuk beberapa potong saja. Pemuda ini meletakkan uang dua puluh ribu, kemudian berlari kecil ke arah dua preman tadi menghilang.
"Sial! Aku kehilangan mereka!" umpat Rozi. Ia pun mengenakan kacamata Spy, dan mulai mencari jejak terakhir dari mereka yang tadi melewati gang ini.
"Jadi, mereka berbelok ke sana," gumam Rozi yang langsung mengambil langkah cepat alias berlari.
Seorang gadis, terlihat was-was, dirinya tau jika sedang di buntuti. Salahnya, dia telah masuk gang yang justru sepi pedagang. Membuat langkah pria di belakang sana semakin cepat dan mendekat.
Gadis itu terus maju, ia hanya berharap menemukan kios yang buka. Akan tetapi harapannya hanyalah mimpi belaka. Semakin kedalam, maka yang ia temukan hanyalah deretan kios yang tertutup. Hingga, Gadis itu tersudut di gang buntu.
"Hayo ... mau kemana lagi?" ucap salah satu preman yang berotot besar. Sekali lihat saja sang gadis langsung menelan ludahnya kasar.
"Mundur kalian!" ancam gadis itu. Meskipun sebenarnya ia merasakan gemetar hingga ke kedua lutut. Akan tetapi, ia mencoba membuat musuh takut dengan gertakan.
"Uh, serem. Kita jadi takut ye gak Bro!" celetuk preman satunya lagi yang bertubuh agak pendek.
"Berhenti ku bilang!" pekik gadis itu lagi seraya terus melangkah mundur. Hingga, ujung tumit kakinya itu membentur dinding.
"Sudahlah. Sebaiknya menurut saja, jangan kabur-kaburan segala. Lagipula, kami berdua tidak akan menyakitimu. Karena, setiap inchi tubuhmu itu sangat berharga," jelas preman bertubuh besar.
"Tenang saja. Kami berdua hanya akan melakukan satu macam hal denganmu sayang," ucap preman yang bertubuh pendek.
Tidak! Bagaimana ini. Niat mau cari kerja malah mau jadi korban penculikan. Bagaimana kalau nanti mereka membunuhku dan menjual seluruh organ tubuhku ke luar negeri?
Gadis itu bergidik ngeri dengan hal yang ada didalam pikirannya sendiri. Dirinya semakin ketakutan karena dua pria ini semakin mendekat. Hingga, permen bertubuh pendek berhasil menangkap tangannya.
"Hei, lepas!"
Rozi yang telah menemukan lokasi karena sensor hawa panas tubuh ketiganya. Memberi perintah pada sistem.
"Buka panel, kemudian main menu. Aku ingin membeli Avatar ahli beladiri, Al!" titah Rozi.
[ Anda sudah tidak memiliki koin, Tuan! ]
"Hah! Kenapa kau tak cakap Al. Kalau beli Avatar harus pakai koin!" protes Rozi kesal.
[ Anda tak bertanya. ]
"Lalu bagiamana caraku menghentikan perbuatan mereka. Sementara kacamata ini membaca jika status mereka cukup pandai beladiri juga kuat," bingung Rozi.
"Alzera, aku paling tidak tahan melihat yang lemah ditindas oleh yang kuat. Apalagi, dua pria itu bukanlah lawan yang seimbang bagi gadis mungil itu!"
__ADS_1
[ Anda mendapatkan Avatar ahli beladiri pencak silat sebagai hadiah. Karena sistem menemukan sensor kepedulian yang tulus untuk menolong. ]
"Hah! Benarkah. Kalau begitu segera aktifkan!"
Sistem pun memunculkan panel kebiruan yang yang hanya bisa dilihat oleh Rozi. Pemuda tersebut langsung mengklik gambar Avatar tersebut. Seketika, sebuah kekuatan dan berbagai informasi mengenai jurus masuk kedalam kepalanya.
Rozi memegangi kepalanya yang terasa berdenyut hebat. Untung saja kejadian itu tak lama. Hingga, Rozi merasakan kekuatan itu telah masuk kedalam tubuhnya.
[ Kekuatan tersebut telah masuk ke tubuh anda, dan akan memakan tenaga sekitar tiga puluh lima persen dan waktu hanya setengah jam. ]
"Baiklah. Lagipula, aku masih memiliki kemampuan berlari cepat dan elemen batu," gumam Rozi seraya menyeringai.
Preman bertubuh pendek menarik gadis itu dan berniat mencolek dagunya. Tiba-tiba, Rozi melempar batu kerikil hingga mengenai telinga masing-masing preman tersebut.
Tuk tuk!
"Ah! Sakit!"
"Sial! Siapa yang sudah berani nyerang kita dari belakang!" preman bertubuh besar dan langsung menoleh.
"Dasar penjahat tak punya ********! Gadis sekecil itu saja kalian keroyok! Kalau memang jantan ... lawan yang sepadan dengan kalian!" tantang Rozi dengan telunjuknya yang mengarah pada wajah kedua preman itu.
Merasa di tantang oleh bocah, kedua preman itu merasa terima dan mereka sangat marah. Keduanya pun maju bersamaan untuk menghajar, pemuda di hadapan mereka yang sedang bersikap sangat santai.
Salah satu preman bertubuh pendek mengerahkan pukulannya tepat di perut Rozi, namun dengan gerakan cepat dan jurus yang ia kuasai. Rozi berkelit untuk mengarahkan pukulan balasan pada lawan, dengan jurus melumpuhkan langsung ke pusat syaraf tubuh.
Tep tep tep.
Rozi memberikan jurus totok syarafnya, pada tiga titik hingga di preman tersebut terkulai lemah. Preman bertubuh besar tak tinggal diam, pria itu melayangkan berbagai pukulan dengan cepat karena dia tau jika rozi sangat gesit.
Menebak kekuatan yang di miliki preman ini, maka Rozi mengaktifkan elemen batu. Sehingga, ketika pukulan keduanya beradu maka ...
Duuagghh!
Sebuah pantulan tenaga lebih kuat keluar dari bogeman yang di lempar oleh Rozi. Hingga, preman bertubuh besar itu terpental jauh dan tersungkur.
Melihat musuh tak bergerak lagi, Rozi dengan cepat mendekat ke arah gadis yang berada di sudut gang.
Melihat, Gadis itu menatapnya ketakutan dengan tubuh yang berbeda hebat. Maka Rozi mengulurkan tangannya. "Tenanglah. Mereka telah tak berdaya. Kau aman sekarang. Kenalkan ... Aku Rozi, dan kau --?"
"A–aku Wanda," dengan sisa ketakutan gadis itu pun menyahut ucapan dari pemuda yang telah menyelamatkannya.
[ Selamat. Anda mendapat reward sepuluh ribu koin. ]
[ Anda juga mendapat pilar Rescue. ]
...Bersambung ...
__ADS_1