Sistem Avatar Menjadi Kaya

Sistem Avatar Menjadi Kaya
Bab. 12. Reward Mengelak Pukulan.


__ADS_3

Rozi berkelit dengan memundurkan kepalanya, lalu berputar. Ketika Tora melepas pukulan tepat di bawah rahangnya. Entah apa yang akan terjadi jika pukulan itu berhasil mengenainya.


Tora sempat kaget karena Rozi mampu mengelak. Biasanya , pemuda itu akan terjungkal setelah terkena pukulannya. Biasanya, Tora akan dengan mudah menyakiti Rozi. Tetapi, kini dapat di elak semudah itu.


"Kok ini anak, bisa lincah gitu ya. Biasanya, dia bakalan jadi sasaran empuk bogem mentah gue." gumam Tora seraya mengeratkan rahangnya geram.


Buka. hanya Tora tapi juga Bono. Pria itu bahkan menahan napasnya ketika serangan keponakannya itu yang terarah dapat dipatahkan dengan mudah oleh pemuda yang dirinya tau sangat lemah dulu. Bahkan, Rozi selalu menjadi samsak hidup bagi Tora dan kawan-kawannya.


Tanpa ba-bi-bu lagi, Tora yang tak mau memberi kesempatan pada kawannya, dengan cepat berniat menyerang Rozi kembali. Tora dengan gerakan bertenaga lantas mengangkat lututnya. Pemuda bertubuh lebih besar dari lawannya itu itu berniat menyasar perut bagian bawah Rozi, namun dengan cepat Rozi pun menggunakan tangannya yang di silang ke depan untuk menangkis serangan Tora kembali.


Rozi pun memundurkan tubuhnya tiga langkah ke belakang.


Sial. Padahal ingin sekali kuhancurkan kepalanya.


Rozi tak jadi memukul dan menahan amarahnya dalam dada. Rasanya ingin sekali membalas segala perbuatan Tora yang sejak lama selalu menyakitinya. Akan tetapi, hadiah misi dari sistem membuatnya sangat tergiur.


Tora yang mengira bahwa Rozi masih seperti sebelumnya yang tidak bisa berkelahi. Menjadi semakin bersemangat melempar serangan demi serangan ke arah pemuda tersebut.


Tora pemuda bertubuh tinggi besar itu yakin meskipun kali ini dirinya hanya sendirian, tapi dia dapat membuat Rozi babak belur. Terbukti, jika pemuda di hadapannya ini hanya mampu mengelak dan menangkis serangan darinya.


"Alzera, apa aku tidak boleh menggunakan kecepatanku?" tanya Rozi yang mulai kewalahan. Setidaknya di baru dua kali mengelak serangan Tora yang menjurus ke bagian vitalnya. Pertama kepala, kedua bawah perut.


[ Tidak, Tuan. Anda harus mengelak dengan kemampuan sendiri. ]


Sontak, jawaban dari sistem membuat Rozi berdecak.


[ Anda bisa menggunakan kekuatan dan kemampuan anda setelah berhasil menyelesaikan misi. ]


Rozi menghela napas kasar. Namun teringat misi dari sistem yang akan berguna untuk menjalankan usahanya. Sehingga, Rozi hanya berkelit dan berkelit dari setiap serangan yang di lancarkan oleh Tora.


Wanda dan duo A bersaudara hanya bisa menahan geram melihat bos mereka dalam kesulitan. Karena, Rozi telah melarang dengan keras pada Arga dan Arya agar tidak ikut campur dalam masalahnya. Karena tak tahan mereka pun mundur dan hanya memperhatikan dari jauh saja.


Setidaknya, kini Rozi memiliki kemampuan reflek yang lebih cepat sekarang, juga kemampuan dalam membaca gerakan lawan. Sehingga, dirinya bisa tau harus berkelit ke arah mana.

__ADS_1


"Sial nih anak! Daritadi, berhasil ngelak mulu dia. Awas aja, kali ini gue buat mampus lu!" gumam Tora seraya menyiapkan jurus andalannya. Tatapan Rozi langsung mengarah ke arah kaki kiri, lawannya itu.


Rozi teringat, bahwa tiga rusuknya pernah patah karena mendapat tendangan dari kaki kiri tersebut. Karenanya, dia bersiap lebih waspada lagi. Jangan sampai terkena tendangan itu meskipun tubuhnya saat ini lebih kuat tiga kali dari sebelumnya.


Karena, dirinya harus bisa menyelesaikan misi yang di berikan oleh sistem. Demi modal untuk usahanya nanti. Rozi harus bertahan sedikit lagi.


Tora telah kembali maju dan mulai melayangkan setangnya lagi. Kali ini, pukulannya lebih cepat hingga Rozi harus lebih gesit lagi mengelak. Pemuda ini, mundur ke belakang, berputar dan terakhir melompat.


Tora, terkesiap karena Rozi yang sekarang telah berkali-kali berhasil lolos dari serangannya. Tora semakin bernapsu untuk menghajar musuh bebuyutannya itu.


Pemuda yang selalu ia musuhi sejak jaman sekolah dulu. Rozi yang selalu unggul di bandingkan dirinya. Hal itu, membuat Tora selalu mencari cara agar pemuda itu hilang dan musnah dari dunianya.


Tora terus maju dan memberi pukulan ke sembarang arah bertubi-tubi yang kembali membuat Rozi hampir kewalahan. Pemuda itu bahkan sudah menggelinding tak karuan di atas tanah. Semua itu, Karena, Tora memiliki kemampuan beladiri ban hitam taekwondo dan juga Thai boxing.


Sementara Rozi tak boleh melawan, dan hanya bisa menggunakan kelincahannya serta kemampuan reflek saja pada saat ini.


Rozi, mendapatkan kembali sebuah tendangan dari Tora yang mengincar ulu hatinya. Dengan mengandalkan naluri reflek dan juga kelincahan untuk melompat, namun Tora ternyata dapat menarik kaki Rozi.


Pemuda itu pun terjatuh, dan pada saat itulah Tora mengambil kesempatan untuk kembali melancarkan serangannya ke titik vital Rozi. Pada saat Rozi hampir terkena tendangan dari Tora, pemuda itu pun menggelinding dengan cepat dan berputar untuk bangun kembali.


Tiga kali sudah Rozi mengelak dengan susah payah. Hingga kini seringai kemenangan terukir di wajahnya. Rozi menyeka peluhnya yang merembes hingga ke tengkuk.


Ting!


[ Hadiah koin dari hadiah misi sistem telah masuk. Anda mendapat reward sepuluh ribu koin alias seratus juta rupiah. Dengan satu set alat komputer canggih untuk kasir. ]


Senyum, di wajah Rozi pun semakin sumringah. Karena, Dirinya telah berhasil melakukan tantangan dari misi. Sementara itu, Tora nampak murka sekali ketika serangannya luput lagi dari sasaran.


"Baiklah! Permainan seru akan di mulai." Rozi menyeringai lebar.


Tetap memasang posisi biasa saja, ketika Tora yang marah kembali berlari kearahnya.


"Ku rasain nih!" Tora telah berada di hadapan Rozi lagi, dengan sebuah pukulan yang mampu menghancurkan batang hidungnya. Akan tetapi ...

__ADS_1


Dep!


Rozi menangkap kepalan besar Tora menggunakan satu telapak tangannya. Kemudian, pemuda itu memelintir hingga pergelangan tangan Tora berputar.


Krekk!


Suara tulang yang terpelintir pun terdengar nyaring. Di iringi sebuah jeritan yang kencang.


Akkhh!


Tora menunduk mengimbangi gerakan tangan Rozi yang membuat tulang pada pergelangannya berputar. Rasanya sangat sakit sekali. Hingga, pemuda bertubuh besar itu berteriak kencang sekali.


Rozi memutar kembali tangan Tora hingga tubuh pemuda itu ikut berputar dan hampir kayang.


"Lepasin sialan!"


Bukannya takut, Tora justru berani menantang Rozi, dengan memerintahkannya untuk melepaskan dirinya.


Rozi pun mengendurkan cekalannya pada tangan Tora, kemudian menarik tubuh pemuda itu ke depan. Secepat kilat, Rozi melepaskan tendangannya hingga mendarat sempurna di perut Tora. Sementara, cekalannya pada lengan pemuda itu dia lepas.


Brugh!


Brakk!


Raga Tora terpental jauh kemudian tersungkur, seiring tendangan keras dari kaki Rozi yang kuat macam besi itu.


Tora terbatuk-batuk dengan seteguk darah yang keluar dari mulutnya tak lama raga kekar itu tak lagi bergerak karena lemas.


"Tora!" Bono berlari menghampiri keponakannya itu.


Pada akhirnya Rozi lega karena bisa membalas pukulan dari Tora sekali saja, namun fatal. Meskipun, Rozi tidak berniat membunuh pemuda yang selalu memusuhinya itu.


Bona membawa Tora yang kesakitan. Memberi tatapan penuh ancaman pada Rozi.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2