"Kau lihatlah sendiri. Anak buah yang kau kirim nyatanya hanya para bandit yang lemah," ucap Rozi penuh penekanan.
Tentu saja, Draco menjadi kaget bukan main. Bagaimana bisa, pemuda yang baginya lemah ini mengalahkan anak buahnya yang rata-rata berbadan besar itu.
"Aku harus segera membawa Prince kepada, Lindsay. Sebelum pemuda itu mengacaukan semuanya," gumam Draco.
"Kau, cepat lukai tanganmu lalu oleskan darahnya ke pakaianku!" titah Draco pada anak buahnya yang lain.
Seenaknya saja pria ini memerintahkan sang anak buah untuk melukai dirinya sendiri. Karena Draco membutuhkan darah sebagai penyamaran.
Anak buah Draco langsung melukai tangannya menggunakan pisau kecil, hingga darah itu menetes dan sengaja ia oleskan ke beberapa bagian tubuh dan juga pakaian Draco.
Anak buah tetap memasang wajah kaku sekalipun pria itu merasa lebih pada telapak tangannya.
Draco langsung menarik tubuh prince. Anak itik sengaja tidak di buka penutup mata dan juga mulutnya.
"Ayo, aku akan membawamu pulang. Bekerja samalah," bisik Draco.
Tanpa pria itu ketahui, terdapat drone kecil yang mencintai setiap gerakannya. Bahkan bukan hanya itu. Setiap gerak-geriknya sudah terekam dengan sempurna.
Draco menyeret prince Wilson adik dari Lindsay. Hingga mereka kini berada di pinggir dermaga.
Draco tak melihat keberadaan Rozi, dia pikir anak buahnya telah berhasil menghabisi pemuda tersebut.
Lindsay, yang berada di penthouse membelalakkan kedua matanya ketika ia melihat video kiriman yang menunjukkan aksi licik Draco.
Pengirim itu memang tanpa nama. Akan tetapi Lindsay percaya jika vidio ini memang di siarkan secara langsung.
Wanita ini mengeratkan rahang dan juga kepalan tangannya. Napasnya seketika menderu kasar. Dadanya kembang-kempis tak karuan.
Kesal sekali. Ketika, tangan kasar Draco menarik-narik kerah adik kecilnya itu. Bahkan terdengar dengan jelas jika Wilson merengek. Namun, draco tetap tak melepaskan ikatan serta bekapan pada mulutnya.
"Kurang ajar! Ternyata semua ini adalah hasil rekayasa Draco! Laki-laki sialan!" maki Lindsay sangatlah marah.
Wanita cantik nan seksi itu mencoba menghubungi Rozi namun sama sekali tidak terhubung.
"Bagiamana keadaan Rozi ? Apa dia baik-baik saja?" gumam Lindsay khawatir.
Sementara itu Rozi, tengah menangkis serangan demi serangan yang diarahkan oleh para anak buah Draco.
Rozi telah menyusul Draco ke dermaga. Akan tetapi, pria itu telah lebih dulu mengendarai Speedboat untuk membawa pergi Prince Wilson.
Rozi terus menangkis serangan demi serangan yang di arahkan ke tubuhnya oleh beberapa anak buah Draco yang lain.
"Kenapa nih bocah kagak tumbang juga sih?" geram salah satu anak buah draco.
__ADS_1
Padahal mereka sengaja menyerang secara bersamaan dengan tangan kosong. Hingga salah satu anak buah mengeluarkan sebilah pedang yang panjang nan tajam..
Rozi yang sudah menguasai ilmu beladiri tentu peka ketika terdapat bahaya yang mengancam jiwa.
Dengan sebuah dorongan kuat, Rozi memukul penjahat yang ingin menyabetkan pedang ke arahnya.
Dugh!!
Brugh!!
Penjahat itu pun terpental dengan pedang yang juga terlepas dari genggamannya..
Kelentang!!
Akkh!!
Penjahat itu memekik kencang seraya menyebutkan gumpalan darah dari mulutnya. Ia merasa dadanya seakan remuk redam.
"Sakit sekali. Pemuda itu, kenapa tenaganya begitu besar," gumam penjahat yang terjengkang itu lirih. Tak lama kemudian ia pun meregang nyawa. Lantaran jantungnya hancur dan keluar dari mulutnya.
"Siapa lagi yang ingin bernasib seperti dia? Majulah!" tantang Rozi. Ia takkan berbaik hati lagi pada segerombolan orang jahat seperti ini.
"Heh, lu maju sana!" seru penjahat lain pada Kawannya yang memegang stik golf.
"Lu gila ya. Dia nyerang pake pedang aja mati. Lah gua cuma bawa stik golf ogeb!" kesal penjahat itu.
"Mau sampai kapan kalian berdiskusi? Kalian pikir aku memiliki banyak waktu hah!" kesal Rozi, kemudian melangkah maju dengan sebuah tenaga yang tengah ia siapkan untuk menyerang di salah satu tangannya.
Dirinya tak bisa bersabar lagi.
Mereka semua telah keterlaluan mengecilkan dirinya.
Rozi juga masih harus menyusul kepergian Draco yang membawa Wilson. Meksipun, terdapat sebuah rencana di balik keberhasilan Draco pergi.
Para penjahat itu pun terprovokasi untuk maju secara bersamaan.
Lalu ...
Dengan ilmu beladiri master yang telah Rozi kuasai. Ia berhasil memberikan serangan demi serangan yang berhasil melumpuhkan ketujuh penjahat tersebut.
Di tambah lagi dengan elemen tanah dan batu yang ia miliki.
Sehingga, setiap pukulan dari kepalan tangan Rozi bahkan mampu menghancurkan tengkorak kepala.
Kraakkk!!
__ADS_1
Duaghh!!
Arrghh!!
Lengkungan demi lengkingan terdengar nyaring. Diiringi dengan darah yang muncrat di mana-mana.
Para penjahat itupun tumbang dengan keadaan yang mengenaskan.
Sebagian hancur kepala dan sebagian lagi dada.
"Kalian yang telah memaksaku untuk melakukan ini semua!" geram Rozi sambil melihat kedua tangannya.
"Aku akan menghabisi mu Draco. Tunggu saja!"
Rozi pun berlari menghampiri motor milik penjahat yang terparkir di dermaga.
"Alzera. Berikan aku kemampuan mengendarai motor!" titah Rozi.
[ Baik tuan.]
Alzera pun menampilkan panel hijau sehingga Rozi dapat membeli Avatar yang ia butuhkan.
"Schumacher, boleh juga," gumam Rozi.
Klik.
Avatar seharga lima puluh juta itu pun ia beli.
Wusshh!
Zepp!
Asshh!!
Rozi sedikit meringis ketika kemampuan dari Avatar tersebut masuk kedalam tubuhnya.
Tak lama kemudian.
Rozi telah melaju dengan kecepatan penuh untuk menuju rumah Lindsay.
_______
"Draco, sudah ada di depan gerbang Nona," lapor pelayang di kediaman Lindsay ini.
Lindsay mengangguk dan langsung menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Sergap dia langsung dan bawa kehadapan ku!" titahnya.
Bersambung