Jika saja ia tak bersama wanita mungkin Rozi akan langsung menghajar Draco sialan itu.
Lindsay pun menganggukkan kepalanya. Kemudian ia menempatkan posisinya agak jauh dari Rozi. Pemuda itu memberi kode dengan tatapan mata agar, Lindsay merunduk lebih dalam lagi.
Karena posisi Draco dan kawanannya semakin dekat.
"Cari mereka sampai dapat. Mereka pasti saat ini tengah gemetar ketakutan!" seru Draco pria bertubuh kekar, kemungkinan adalah pemimpin dari penyergapan itu memasang seringai seramnya. Dirinya teramat kesal karena segala keburukan yang ia sembunyikan ada yang merekam.
"Kerjaan siapa ini sebenarnya?"
"Kita berpencar! Kalian kesebelah sana!" titahnya lagi pada anak buahnya. Mengetahui mereka berpencar, Rozi menaikkan salah satu sudut bibirnya ke atas.
Rozi yang telah mengaktifkan banyak Avatar di dirinya serta elemen tanah dan batu yang melekat di tubuhnya tentu menganggap komplotan Draco ini hanyalah, sekumpulan nyamuk.
"Aktifkan elemen tanah!"
KREKK!
Gruakkk!!
Tanah yang di pijak pun seketika bergetar.
"Apa itu!" Salah satu orang suruhan Draco. menghampiri asal suara. Hingga sebuah kekuatan seakan tiba-tiba menarik kakinya.
BRUGH!
"Argh!" jerit pria itu tertahan ketika Rozi di mengerahkan kekuatan tak terlihat yang seakan mampu mencekik lehernya, dan orang itu langsung mengarahkan senjata api yang di pegangnya, namun ...
Dorr!!
Senjata itu memuntahkan pelurunya ke arah sembarang, lantaran sang empunya telah berpindah alam.
"Aku menemukanmu." Seorang pria tau-tau ada di belakang Lindsay dan mengunci pergerakannya dengan todongan senjata api di kepalanya.
"Lindsay ...!' teriakan Rozi tertahan di tenggorokannya saja.
__ADS_1
Dengan tenang, Rozi bergerak begitu cepat, menangkis lengan pria di belakang model cantik itu lalu mengarahkan pistol tersebut tepat di depan kening pria yang tak lain adalah Draco, dan ...
Rozi mudur kebelakang seraya meraih Lindsay juga.
Draco membulatkan kedua manik matanya karena tangannya tidak bisa digerakkan. Seperti ada sebuah kekuatan tak kasat mata yang menahannya.
Manik mata Draco semakin besar dengan keringat sebesar biji jagung yang membasahi pelipisnya, dikarenakan jari telunjuknya menekan pelatuk itu perlahan-lahan.
"A–apa yang terjadi. Kenapa aku tidak bisa mengendalikan tanganku sendiri!" Draco panik karena keadaan ini dapat membuatnya seakan-akan berniat untuk membunuh dirinya sendiri.
"Apa kau sudah putus asa itu sehingga kau ingin melubangi kepalamu dengan senjata yang dipegang oleh tangan sendiri!" sarkas Rozi.
"Di–diam kau bangsaatt!! Kau–kau--"
Draco menghentikan ucapannya ketika jemarinya menekan semakin kuat pelatuk itu.
"T–tolong. Aku tidak mau mati dengan cara ini," ucap Draco memohon dengan raut wajah memelas.
"Memangnya kau mau mati dengan cara apa, Draco brengsekk!!" teriak Lindsay yang sudah sangat emosi dan sakit hati ketika kenyataan mengungkap bahwa pria itulah yang sengaja merencanakan penculikan dari sang adik tiri.
"Lindsay sayang, tolong aku. Aku tidak dapat mengendalikan tanganku sendiri. Aku tadi tidak termasuk melakukan itu padamu, sungguh," ucap Draco lagi dengan suara bergetar.
Rozi menyunggingkan senyumnya, dengan sebuah gerakan kecil dari tangannya.
Kemudian ...
"T–tidak!!"
Doorr!!
Sepersekian detik kemudian raga itu tumbang.
Apa yang Draco lakukan ternyata di saksikan oleh para anggota kepolisian yang baru saja tiba di lokasi.
Sehingga, tangan Rozi bersih dari sebuah tuduhan pembunuhan.
__ADS_1
"Tuan Oz," lirih Lindsay dengan tubuh dan juga suara yang bergetar.
"Tenanglah. Dia takkan lagi dapat menganggumu," ucap Rozi seraya mengusap punggung Lindsay lembut.
Mereka pun ikut ke kantor polisi demi keterangan saksi mata.
Hingga beberapa jam setelahnya barulah mereka boleh pulang.
"Maaf telah membuatmu terlibat dalam masalahku, kau pasti lelah. Menginaplah," tawar Lindsay yang sungguh merasa tak enak dan berhutang budi banyak kepada Rozi.
"Aku tak apa. Kau pulanglah dan beristirahat juga temani adikmu. Dia pasti syok dan trauma. Kau bisa memanggil psikiater ke rumah untuk mendampingi perbaikan mental adikmu," ucap Rozi memberi saran.
"Baik, akan ku lakukan. Sekali lagi, terimakasih banyak!" ucap Lindsay seraya membungkukkan kepalanya beberapa kali.
"Hentikan, kau tak perlu begini," kata Rozi.
"Kali begini, boleh kan?" tanya Lindsay seraya memajukan tubuh dan terutama wajahnya untuk mendekat.
Rozi pun diam bergeming.
Bukan dia tak tau tetapi, hanya cukup kaget dan tak menyangka.
Terlebih lagi pada saat ini wanita dihadapannya tau-tau sudah memberi ciuman yang dalam pada bibirnya yang perjaka ini.
"Sial! Ini berkat atau pelecehan?" batin Rozi.
Karena, ini adalah kali pertamanya bibir seksi miliknya di nikmati begitu saja oleh wanita.
Untung sih cantik.
Sehingga Rozi tak terlalu merasa rugi.
"Ah, kenapa manis sekali. Aku tidak ingin menyudahi ini," batin Rozi yang mulai terbuai dengan sesuatu yang hangat dan basah yang tengah membelit lidahnya.
"Ough, mungkin sebaiknya aku menerima tawarannya," batin Rozi lagi.
__ADS_1
Tubuh keduanya kini sudah tak berjarak lagi.
...Bersambung...