Sistem Avatar Menjadi Kaya

Sistem Avatar Menjadi Kaya
Bab. 16. Senyuman Termanis. ( Alenia meleleh. )


__ADS_3

"Ini, benar-benar bangunan yang sangat pas untuk cabang kedai AYAM GARING LEZATOS yang kedua." Rozi mulai mengelilingi bangunan kosong yang nampak berantakan itu. Bahkan juga, terdapat kerusakan dimana-mana. Akan tetapi, hanya butuh perbaikan sedikit. Sementara tembok beton bangunan ruko tersebut masih sangat kokoh. Lokasinya juga strategis. Antara perkampungan dan juga kompleks perumahan.


Alenia yang mendengar gumaman Rozi pun mengerutkan keningnya. Karena pemuda di hadapannya ini terus mengatakan mengenai sebuah usaha franchise dan cabangnya.


"Kalian diam-diam di sini. Popo, kau jangan kabur lagi! Lihat kan, kau jadi terluka karena sok tau. Memangnya kau pikir hidup di lingkungan manusia itu mudah?" gemas Alenia pada anjing Siberian jantan itu.


"Pupu, kau jaga bapak dari anak-anakmu ini, ya. Jangan sampai mereka jadi yatim sebelum lahir ke dunia," titah Alenia lagi, seraya memberi tatapan tajamnya pada Popo. Hewan dengan corak buku hitam dan coklat itu pun menunduk takut, lantaran merasa bersalah. Sementara, Pupu menjilati luka di kaki Popo yang di balut dedaunan ajaib itu.


Alenia menghampiri, sosok Rozi yang terus melangkah ke atas bangunan. Mereka mudah masuk ke dalam ruko tersebut lantaran pintu depannya rusak. Bangunan dua lantai ini setidaknya cukup untuk usaha yang akan di kembangkan oleh Rozi.


"Aku harus mencari siapa pemilik dari bangunan ini," gumam Rozi dengan senyum yang membingkai wajahnya.


"Hai, Tuan."


Mendengar suara lembut memanggilnya, pemuda itu lantas menoleh. "Rozi," jawabnya.


"Ehm, iya ... Rozi. Kenapa ... kau nampak tertarik dengan bangunan kosong ini?" tanya Alenia penasaran. Lagipula, dia ingin tau siapa pemuda ini sebenarnya. Bahkan pertemuan mereka pun terjadi dengan cara yang sangat unik.


"Aku tertarik ... karena tempat ini sangat strategis. Cocok untuk cabang dari usahaku nanti. Kebetulan, memang aku sedang mencari tempat usaha yang baru," jelas Rozi pada Alenia. Jawabannya lantas membuat mulut dan dua mata wanita itu membulat sempurna.


"Waw! Jadi, kau ini seorang enterpreneur muda!" pekik Alinea takjub. Dirinya sama sekali tidak menyangka. Di balik kesederhanaan dan wajah polosnya. Ternyata, Rozi adalah seorang wirausahawan.


"Kau benar, Alenia. Aku memiliki sebuah usaha franchise. Bagusnya, usahaku itu berkembang pesat hanya dalam kurun waktu sekitar lima bulan. Banyak, para pemuda-pemudi yang baru lulus sekolah meminta pekerjaan padaku. Karena itulah, aku berniat membuka cabang yang baru," terang Rozi jujur dan terbuka pada wanita cantik yang baru dikenalnya ini. Meskipun nampaknya, Alenia terlihat lebih tua darinya.


"Berapa usiamu, Zi? Bolehkan aku memanggilmu dengan panggilan pendek itu?" tanya Alenia.


"Boleh, terserah kau saja. Selagi, itu masih panggilan untuk manusia. Aku bahkan pernah mendapatkan panggilan yang lebih buruk dari hewan," jawab Rozi seraya tertawa getir. Mengingat bagaimana nasibnya di masa lalu. Ya, pada saat ini Rozi ada di tahap dimana dirinya mampu menertawakan masa lalunya yang lahir dan kejam itu.

__ADS_1


"Haih, sepertinya kehidupanmu sangat keras anak muda!" ledek Alenia. Ia sengaja bercanda sedikit. Karena tidak mau melihat raut kesedihan tercetak di wajah tampan bak malaikat ini.


"Kerasnya hiduplah, yang pada akhirnya membentuk mentalku seperti sekarang. Aku ingin, semua pemuda seperti ku dapat memanfaatkan masa muda mereka sebaik mungkin. Agar mereka juga dapat menunjukkan skill dan bakat ke permukaan. Miris, ketika para pemuda ini kekurangan lahan untuk mengekspresikan diri mereka. Hingga, pada akhirnya mereka melampiaskan emosi dan jiwa yang tertahan itu dengan hal-hal yang negatif dan berujung merusak, bahkan melukai sesamanya," tutur Rozi dengan embusan napas berat penuh sesal.


Berkali-kali dirinya melihat berita mengenai sikap dan perangai dari para pemuda yang memalukan dan merugikan. Mereka bagaikan sebuah gerombolan bahkan habitat yang mengerikan. Sekumpulan orang yang, di takuti dan layak untuk di hindari. Bagaikan, penyakit mematikan jika sampai kau menyinggungnya.


"Awesome!" Alenia bertepuk tangan setelah mendengar ungkapan hati Rozi. Menurutnya pemuda di hadapannya ini bukan hanya memiliki paras yang rupawan akan tetapi juga isi hati yang sangat mulia dan juga murni. Rozi memiliki berbagai macam jenis kebaikan di dalam hatinya.


Alenia, secara diam-diam semakin mengagumi sikap dan sifat pemuda di hadapan ini. Apalagi, Rozi memiliki pembawaan yang supel tapi santun. Sebagai wanita, Alenia merasa aman dan juga nyaman berada didekat Rozi.


"Mari kita cari pemiliknya!" seru Alenia mengajak Rozi untuk bergerak cepat. Karena mendengar cerita dari pemuda ini membuat dirinya ikut bersemangat. Sehingga, Alenia memiliki beberapa rencana di dalam kepalanya.


Selama ini ternyata motivasi dirinya dalam dalam bekerja. Alenia hanya memanfaatkan, ilmu yang dia miliki untuk mendapatkan uang banyak. Akan tetapi, seorang pemuda seperti Rozi telah membuka mata hatinya.


Bahwa, menjadi orang yang bermanfaat untuk orang banyak itu lebih mulia ketimbang menjadi kaya untuk diri sendiri saja. Alenia akan memanfaatkan ilmunya. Wanita cantik dengan rambut panjang sepunggungnya itu, kebetulan adalah lulusan sarjana management bisnis.


Wanita cantik di hadapannya ini mengangguk cepat dengan senyum manis menghiasi wajahnya.


Kamu cantik dan baik hati, Alenia.


Tapi, ini bukan tentang hati.


Aku, harus segera menemukan siapa pemilik bangunan ini.


Rozi pun ikut tersenyum. Pemuda itu berlalu lebih dulu. Dengan berjalan, di depan Alenia. Kedua Siberian yang anggun ternyata menunggu mereka di bawah tangga.


"Kalian, benar-benar setia," puji Rozi seraya mengelus pucuk kepala Pupu. Kemudian beralih menggaruk belakang telinga hewan itu. Hal yang sangatlah di sukai oleh Pupu.

__ADS_1


Bahkan, anjingku juga nyaman bersamanya. Mereka berdua bahkan menerima pemuda itu dengan mudah.


Alenia tersenyum melihat kedekatan hewan peliharaannya itu terhadap Rozi. Padahal, Siberian Husky termasuk jenis anjing yang cukup sulit beradaptasi dengan manusia asing.


Dengan menggunakan kuasa kaca mata spy. Tentu saja tanpa sepengetahuan dari Aline. Rozi pun menemukan kediaman dari pemilik bangunan tersebut.


"Bagaimana kau bisa tau alamat pemiliknya secepat ini? Bahkan, kita tidak perlu bertanya kepada warga sekitar maupun petugas aparat?" cecar Alenia.


"Aku menemukan kartu nama usang tadi. Ku kira itu alamat lama ternyata benar, pemiliknya masih di sini," jawab Rozi dengan alasan yang ia karang tentu saja.


"Hai, bisa kebetulan sekali!" telisik Alenia. Wanita ini cukup pintar dan kritis. Rozi harus lebih teliti lagi dalam menyembunyikan identitasnya.


"Kau tau, Nia? Em, boleh aku panggil begitu?" tanya Rozi.


"Oh, tentu saja. Itu ... panggilan termanis ku rasa," jawab wanita itu dengan salah tingkah. Karena, pada saat ini Rozi tengah menatapnya intens sambil melipat tangan di depan dada.


"Ku rasa, semesta akan mendukung dan memudahkan jalan mu. Jika niat mau itu baik dan tulus. Kau ingat, aku ingin membuka cabang baru agar para pemuda pengangguran itu memiliki lahan pekerjaan," tutur Rozi, sangat bijaksana di usianya yang masih terbilang muda.


"Kau–kau benar, Zi."


"Aku, siap membantumu, dengan segala ilmu yang ku miliki.


"Benarkah?" Rozi tak percaya dan bahkan pemuda itu tiba-tiba meraih telapak tangan Alenia dengan tatapan berbinar senang.


Alenia pun keluar dari perusahaan tempat ia bekerja sebelumnya demi membantu usaha Rozi.


Membuat iklan bagi siapa saja yang mau bergabung dengan usaha franchise miliknya, melalui selebaran maupun sosial media.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2