Sistem Avatar Menjadi Kaya

Sistem Avatar Menjadi Kaya
Bab. 18. Memutar Balik Keadaan. ( Misi Keenam )


__ADS_3

Mendengar ada yang mengumpatnya, Rozi yang berada di belakang kemudi, langsung keluar dari dalam mobil mewah tersebut. Salah satu mobil SUV yang masuk ke dalam jajaran kendaraan roda empat termewah.


Mitsubishi Pajero sport berwarna putih metalik itu, seharga hampir satu milyar. Rozi tidak menggunakan uang hasil dari reward sistem akan tetapi, uang itu adalah hasil usahanya selama beberapa bulan ini.


"Kau lagi? Masih ku beri kesempatan untuk hidup, jangan cari masalah lagi." Rozi berkata tegas sambil menajamkan tatapannya pada Tora.


Pemuda yang sepantaran dengannya ini entah kenapa selalu saja mencari masalah. Apa Tora tidak tau siapa dirinya sekarang. Tentu sudah bukan sosok lemah yang bisa lagi dia injak dan aniaya sesuka hati.


Jika saja Rozi mau, tempo hari bisa saja Tora di buatnya meregang nyawa. Tapi, Rozi tidak memiliki sifat sekejam itu. Bagaimanapun, nasihat sang papa selalu ia ingat. Bahwa, balas dendam hanya akan merusak hati dan membuang waktumu.


Karena itu, Rozi hanya memberi pelajaran berpikir bahwa Tora akan berpikir ulang jika ingin mengusik lagi. Kenyataannya, Tora tidaklah jera. Pemuda itu kembali berulah karena di sampingnya terdapat beberapa kawan-kawannya yang juga pandai berkelahi.


"Ck. Songong juga lu! Jangan lu kira gua bakal diem dan terima karena lu udah bikin gue ngedekem di rumah sakit selama dua bulan. Duit tabungan gue juga abis buat bayar pengobatan. Sementara, lu yang bukan hanya pernah mencuri uang paman gua ternyata juga mencuri resep ayam krispinya!" teriak Tora dengan telunjuk yang dia arahkan ke wajah Rozi.


Alenia yang kaget dengan tuduhan dari Tora lantas menoleh cepat ke arah Rozi berharap pemuda tampan di sebelahnya ini memberinya penjelasan.


Plak!


Rozi menepis telunjuk Tora yang berada di depan wajahnya dengan keras. Tatapannya pun sangat tajam ke arah rivalnya itu. Padahal, Rozi berharap urusannya dengan Tora sudah selesai. Akan tetapi, tuduhan Tora bisa mencemarkan nama baiknya. Rozi tentu tak bijak jika diam saja.


"Kau, jangan sembarangan bicara! Berikan bukti yang konkret sebelum kau melempar tuduhan padaku!" tegas Rozi. Bahkan suaranya terdengar sangat lantang dengan aura yang berkharisma.


Hal itu membuat Tora mundur ke belakang, nyalinya ciut seketika. Bagaimana bisa, aura dari Rozi yang dulunya lemah jadi sehebat itu. Bahkan, tampangnya begitu keras dan menakutkan. Tora tentu heran dengan perubahan drastis Rozi yang hanya dalam beberapa bulan saja. Bahkan, usaha pria itu begitu cepat berkembang.


Tentu dirinya tak terima, ia akan melakukan apa yang dulu papa dan pamannya lakukan pada kedua orang tua Rozi. Melumpuhkan usahanya agar tidak menjadi batu sandungan di kemudian hari. Produk ayam krispi hanya boleh ada satu-satunya di kota itu, yaitu brand milik paman Bono saja.


Karena itulah, Tora kemudian terpikir untuk melempar tuduhan seperti itu. Karena, kebetulan juga Rozi pernah bekerja di kedai sang paman. Lagipula, usaha pamannya tentu saja menurun lantaran usaha franchise Rozi dimana-mana.


Rozi melangkah maju dan memutari tubuh tinggi Rozi. Seringainya mencuat ke atas. Pemuda itu berniat mengintimidasi, sosok yang selalu menjadi targetnya sejak dulu.


"Hah. Aku tak perlu menunjukkan bukti. Kau pernah bekerja di kedai ayam krispi milik pamanku, lalu kau di pecat karena ketahuan mencuri uang. Mana tau, kau dendam lalu mencuri lagi resep produk paman karena berniat ingin menjatuhkan usahanya. Iya kan!" hardik Tora.


Pemuda itu tak peduli dengan banyaknya orang si sana. Itu justru adalah salah satu rencananya. Membuat Rozi menjadi tontonan. Maka dia akan dengan mudah membuat pria itu kembali terhina.


"Kau itu tak layak menjadi keren dan sukses. Kau hanya seorang pecundang, dan selamanya akan seperti itu," bisik Tora di depan wajah Rozi. Kemudian ia menjauh dan kembali tersenyum remeh.


Rozi mengepalkan buku jarinya di sisi badan. Ingin rasanya ia mencengkram wajah menyebalkan Tora ini. Akan tetapi ia tidak bisa melakukannya. Karena, ia tau jika Tora memang sengaja memancing emosinya. Rozi harus mempertahankan nama baiknya demi kelangsungan usaha yang baru beberapa bulan ia rilis. Apalagi, sudah mulai ada beberapa pengusaha kecil dan menengah yang percaya dan mulai tertarik untuk join.


"Oz. Siapa dia? Kenapa anda diam saja?" cecar Alenia. Wanita itu merasa geram dengan kalimat demi kalimat menjatuhkan yang keluar dari mulut Rozi.


"Dia hanya salah satu orang yang dengki. Mari bayar mobilnya lalu pergi." Alenia pun mengikuti langkah Rozi menemui pihak yang berwenang di showroom tersebut. Membayar dengan uang cash lalu pergi dengan mengendarai mobil tersebut.

__ADS_1


Tentu saja hal itu membuat Tora semakin kalang kabut.


Alenia tersenyum di saat ia berada dalam mobil mewah itu. Meskipun bukan Ferrari maupun Lamborghini. Akan tetapi, jenis kendaraan ini termasuk mewah untuk enterpreneur muda sekelas Rozi. Mengikuti pria itu selama beberapa bulan, cukup mampu buat wanita ini terpesona dan kagum berlipat-lipat.


"Kau hebat, Oz. Tuan Oz," puji Alenia. Wanita inilah yang membuat Rozi kini di kenal sebagai tuan Oz. Semua orang mengikuti caranya memanggil.


Tora yang geram pun menghubungi pamannya dan menceritakan apa yang ia saksikan. Bono sangatlah geram. Pria itu ternyata juga telah menyaksikan sepak terjangnya usaha Rozi selama beberapa bulan ini.


Bahkan dirinya kehabisan pemasok ayam potong yang harganya terjangkau. Karena rata-rata mereka beralih untuk menjalin kerja sama dengan Rozi.


Pada saat itu.


Salah satu peternak ayam berkata.


"Saya sangat senang dan tenang ketika bekerja sama dengan Bos Oz. Pemuda itu sangat penghargaan dan membayar kontan tanpa cicil maupun hutang. Udah saya bisa berputar dengan lancar."


Bono datang dan menggebrak sebuah kandang besar lantaran kesal. Pria itu merasa tersinggung ketika tak sengaja mendengar ucapan pemasok ayam potong tersebut. Karena, dirinya adalah salah satu pengusaha yang suka berhutang bayaran ayam.


"Heh! Gua ngutang juga kan bayar. Seharusnya kalian menghargai pelanggan pertama!" marah Bono.


Sang pemilik usaha ternak ayam pun merasa tak enak. Pria itu sama sekali tidak menyangka akan kedatangan Bono di sana. Pria itu pun mencoba untuk mengklarifikasi ucapannya.


"Halah, gua gak peduli! Pokoknya, antar seratus ayam atau, kerja sama kita batal. Dan, sisa hutang ku ambil lunas!"


"Loh, mana bisa begitu Bos! Kami belum ada pasokan ayam segitu banyak. Anda jangan dadakan begini!"


"Kalau anda berniat begitu kami bisa bangkrut," ucap sang pemilik memelas.


"Itu bukan urusanku!"


Bono pun berlalu dengan amarah di dadanya. Dia tak boleh kalah dari Rozi pikirnya.


Merasa tak terima karena di saingi oleh anak bau kencur, menurutnya. Maka, Bono menggunakan cara licik dan kasar demi menghapuskan jejak pesaingnya.


"Tunggulah, orang kiriman paman. Mereka segera menyusulmu. Kau hanya perlu mengulur waktunya!" titah Bono dari balik telepon.


Tora pun mencegat Rozi di jalan atas perintah pamannya. Membawa beberapa kawannya untuk memberi pelajaran pada pemuda yang menurutnya harus benar-benar ia pastikan mati lagi kali ini.


"Hancurkan dia. Aku yang akan mengurus wanitanya," ucap Tora pada dua kawannya. Mereka pun turun dari mobil. Tak lama, orang kiriman dari Bono pun sampai. Jumlah mereka sekitar lima orang. Ya, Bono pikir mereka semua mampu melumpuhkan seorang pemuda kurus macam Rozi, dengan ilmu beladiri yang baru bertunas.


Rozi pun juga turun dari mobil, ia menoleh pada Alenia.

__ADS_1


"Tetap di dalam. Jika terjadi apa-apa pergilah dengan mobil ini." Alenia tentu ingin menggeleng cepat. Akan tetapi, sorot mata Rozi justru membuatnya mengangguk patuh.


Tiba-tiba...


Ting!


[ Misi keenam untuk anda Tuan. ]


"Al, keadaan sedang genting. Jangan bilang kalau aku tak boleh melawan lagi!" geram Rozi memotong penjelasan dari sistem. Karena tangannya ini sudah gatal ingin membungkam kesombongan Tora.


[ Anda harus membalik keadaan tanpa harus memberi perlawanan pada musuh di depan. ]


"Haish, apa maksudnya, Al!"


[ Berpikirlah! Anda kan pintar. Selain menghemat tenaga anda juga akan mendapatkan reward. ]


"Berapa?"


[ Lihat saja nanti. ]


"Mis tapi hadiahnya rahasia. Mana semangat Al!" protes Rozi.


[ Percaya pada sistem yang memang akan membantu anda untuk kaya, Tuan. ]


"Ya, baiklah!" Rozi pun mengenakan kaca mata spy untuk memindai status komplotan preman pasar itu.


"Keluarkan sekoper uang!" titah Rozi pada sistem Setidaknya ia masih memiliki sejumlah uang di dalam Doku.


"Apa kalian, berkumpul untuk menuruti perintah dari bos miskin itu! Berapa bayaran yang dia janjikan jika aku bisa memberikan sepuluh kali lipat. Setidaknya, nyawa kalian masih selamat. Jadilah, anak buahku ... dan ini akan menjadi milik kalian. Rozi mengeluarkan tangan yang berada di belakang tubuhnya.


Sebuah koper dan Rozi membukanya didepan mereka semua. Tentu saja tumpukan uang yang berbaris rapi didalam koper, menyilaukan mata siapapun yang melihatnya. Tak terkecuali Tora.


"Anjirr! Darimana dia dapet uang sebanyak itu!"


Strategi, Rozi yang memberikan penawaran bayaran lebih tinggi. Pada akhirnya membuat orang bayaran Bono saling pandang, mereka pun maju dan beralih ke belakang pemuda yang menawarkan harga lebih mahal pada mereka.


Kebutuhan hidup yang semakin mahal membuat mereka mengambil kesempatan yang tentu saja bergaji lebih besar. Tak terkecuali kawan-kawan dari Tora. Mereka pun meninggalkannya dan ikut berdiri di belakang Rozi.


"Hei, apa-apaan kalian!"


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2