Sistem Avatar Menjadi Kaya

Sistem Avatar Menjadi Kaya
Bab. 9. Tuduhan Mantan Bos. ( Bono )


__ADS_3

Mendengar suara yang familiar itu membuat, Bono tersentak kaget. Bahkan, pria berusia empat puluh tahun itu terlihat memundurkan tubuhnya dan memindai penampilan pemuda di hadapannya dengan seksama.


Tidak! Dia tidak mungkin anak itu kan? Iya, itu mana mungkin ... karena si Ozi itu buluk, hitam dekil dan kurus.


Bono hanya bisa membatin dengan segala keterkejutannya. Dia belum yakin dengan kemungkinan yang ada dalam pikirannya. Menurutnya itu sangat mustahil.


"Kau mengenalku? Mana mungkin kau itu--"


"Apa kabar, Pak," sapa Rozi sekali lagi. Membuat pria itu memutari tubuhnya.


"Jadi benar, kau itu Rozi!" tebak. pria bertubuh agak gemuk dengan rambut keriting. Bono masih terkaget dengan penampilan pemuda yang pada saat terakhir ia lihat hampir mati di pukuli warga. Ternyata tebakannya benar, meksipun penampilan Rozi berubah 180 Derajat. Dia masih mengenali gestur pemuda itu dan juga suaranya. Bahkan, Rozi menampilkan senyum ramah seperti biasa.


"Ya, tentu ini saya. Rozi, mantan karyawan paling rajin yang dulu anda pecat dengan tidak hormat," ucap Rozi mengungkap perlakuan Bono yang menurutnya sangat tidak adil baginya kala itu.


"Ya, semua itu kan karena kau mencuri dari ku. Memangnya, siapa yang mau mempekerjakan pencuri di restorannya!" sarkas Bono. Seraya memandang Rozi dengan tatapan kebencian.


'Gila! Ternyata pemuda ini si Ozi buluk itu. Bagaimana bisa dia sekeren ini? Lihat saja, pakaiannya bagus, sepatu bahkan dia terlihat putih dan bersih. Kenapa bisa berubah secepat ini? Apa jangan-jangan dia sudah menjadi pencuri kelas kakap? Atau ... ' batin Bono, tak habis pikir. Bagaimana pemuda yang miskin dan sengsara ini bisa terlihat begitu berbeda.


"Nyatanya, saya tidak serendah itu. Meskipun miskin, saya tidak akan pernah mengambil barang yang bukan hak dan milik sendiri. Bukankah, saya telah menyangkal hal itu dengan sabgat jelas? Bahkan, hingga saat ini anda tidak pernah mempunyai bukti yang akurat selain tuduhan yang semena-mena!" tegas Rozi berusaha membela diri demi membersihkan nama baiknya. Karena, semenjak itu namanya telah tercoreng seluruh kampung.


Bahkan, setiap ada warga yang kehilangan apapun itu, maka akan selalu di kaitkan dengan dirinya. Apalagi, ketika Rozi menjadi pemulung.


"Terserah kau mau menyangkal seperti apapun itu. Lihatlah, dirimu sekarang. Baju bagus, sepatu keren. Kulit bersih terawat. Kau dapatkan semua ini darimana? Sudah pasti mencuri kan!" tuduh Bono lagi seraya menudingkan jati telunjuknya ke depan wajah Rozi.


Arga dan Arya yang berdiri tak jauh dari bos mereka itu, merasa tidak terima. Arga hendak bergerak maju untuk membela pemuda yang telah memberikan pekerjaan padanya dan juga sang adik. Sehingga dirinya bisa memberikan makanan yang layak untuk ayah mereka.


Akan tetapi, Rozi memberi isyarat dengan telepak tangan agar anak buahnya itu tidak ikut campur. Karena, dirinya tak mau membuat keributan di toko orang. Walaupun, begitu, bukannya lantas Rozi tidak merasa kesal.

__ADS_1


Justru, saat ini anak muda tersebut, terlihat mengepalkan rahang serta mengeratkan gerahamnya hingga bergemeletak. Pemuda ini memberi sorotan tajam pada sosok pria yang sebelumnya sangat ia hormati itu. Hanya karena lantaran fitnah dari Tora yang merupakan keponakan dari Bono. Maka pria itu seketika merubah sikapnya pada Rozi.


Tora, sejak kecil memang tidak pernah menyukai Rozi. Semenjak papa dan mamanya masih ada dan bertambah semena-mena ketika keadaan keluarga Rozi jatuh miskin hingga kedua orang tuanya itu tiada. Perlakuan, Tora semakin menjadi-jadi.


"Kau marah hah! Ayo, katakan darimana kau mendapatkan semua ini!" hardik Bono sambil mendorong bahu Rozi dengan tatapan remehnya.


Rozi memberikan tatapan tak suka pada bagian bahu yang baru saja disentuh secara kasar oleh Bono. Pria yang memiliki beberapa cabang usaha ayam krispi. Karena itulah, kepalanya agak sedikit besar. Pria itu merasa bahwa dirinya sudah hebat sehingga membuatnya berpikir dapat merendahkan orang seenaknya.


"Apakah, Bapak berpikir jika diri anda sepenting itu? Hingga, saya harus menjelaskan semuanya kepadamu?" sindir Rozi. Sengaja dia melakukannya. Pemuda ini telah bosan selalu direndahkan.


"Berani benar kau melawan kata-kataku sekarang? Sudah punya apa memang? Kau juga kesini ada kepentingan apa? Ini tempat para pengusaha memesan furniture dan perlengkapan mereka. Atau, kau ingin mencuri di sini, hah!" tuduh Bono seraya menelisik ke arah Rozi.


Rozi menghela napasnya menahan muak. Ketika pria di hadapannya ini tak sudah-sudah menuduh hal yang tak pernah ia lakukan. Apalagi, karena mendengar itu beberapa mata terus memandang curiga ke arah Rozi. Tak terkecuali, kasir dari toko tersebut. Wanita itu, menjaga brangkas dengan tatapan waspada ke arah Rozi.


Hingga, terdengar bisik-bisik yang mulai menganggu.


"Iya, Kita harus hati-hati."


Bisik-bisik itu terlalu jelas masuk ke telinga Rozi. Bahkan, Wanda juga ikut merasa gerah. Meskipun dirinya baru mengenal Rozi tapi, gadis itu tidak percaya begitu saja terhadap tuduhan dari Bono.


Rozi mencoba tenang. Ia takkan terbawa emosi. Waktu dan tenaganya lebih berharga. Sebaiknya, ia cepat menyelesaikan urusannya di sini.


Rozi terlihat melangkah ke depan kasir. Akan tetapi, Bono lantas menghadangnya. "Kau mau apa? Ini bukan tempatmu anak muda, sebaiknya kau pergi dari sini sebelum menganggu kenyamanan pelanggan yang lain!" usir Bono seenaknya.


Dengan cepat, Rozi menepis tangan Bono yang mencekal bahunya kencang. Merasakan tenaga Rozi yang kuat, Bono pun terbelalak kaget.


Sejak kapan tenaganya sebesar ini. Sialan! Tanganku sakit sekali.

__ADS_1


Gimana Bono dalam hati. Pria itu tak habis pikir, terhadap perubahan mantan karyawannya yang sebelumnya lemah dan penakut itu.


"Kenapa anda mengusir saya? Semua orang berhak berada di tempat ini. Saya, juga memiliki keperluan, karena itu saya ingin menyelesaikannya dengan cepat!" ujar Rozi, hingga manajer toko itu pun muncul.


"Nak Rozi. Pesanan anda akan kami antar hari ini juga. Tunggu sekitar satu hingga dua jam. Bahkan, pekerja kamu juga akan sekalian memasang etalasenya," jelas sang manager toko.


"Baik. Ini nota pemesanan saya, dan ini sisa pembayarannya!" seru Rozi sengaja kencang agar Bono mendengarnya.


Benar saja, Bono mendekat dan pria bertubuh gemuk pendek itu semakin terkejut hingga rahangnya terbuka lebar. Ketika Rozi mengeluarkan uang untuk membayar semua pesanan perabotannya itu menggunakan uang tunai secara cash tanpa di cicil. Sementara, dirinya masih memiliki dua kali cicilan lagi.


Darimana dia mendapatkan uang sebanyak itu! Apakah dia sudah bekerja pada seseorang?


Bono yang tak percaya masih tak bergeming di samping Rozi.


"Nak, ini uangnya lebih seratus ribu," ucap sang manager.


"Tidak apa, berikan saja kopi dan kue pancong untuk para karyawan anda," sahut Rozi santai dengan senyum ramahnya. Tentu saja sang manager dan para pekerja tersenyum. Kebetulan mereka belum ngopi pagi ini.


Tidak bagi, Bono. Pria itu mencebik melihat kelakuan Rozi yang menurutnya sok sekali.


Bona yang curiga pun langsung berseru bahwa Rozi mendapatkan uang itu pasti dari hasil mencuri.


"Uang hasil mencuri saja sombong!"


Ujaran itu membuat, Rozi seketika mengehentikan langkahnya.


...Bersambung. ...

__ADS_1


__ADS_2