"Kalian persiapkan dengan baik semuanya. Makanan, kamera semua harus sempurna!" titah Wanda pada beberapa kru yang telah ia siapkan untuk menyambut kedatangan Lindsay Sikorsky.
Alenia, melihat sinis ke arah Wanda yang baginya terlalu berlebihan. Sok sibuk hanya demi mencari perhatian dari Bos mereka. Siapa lagi kalau bukan Rozi.
"Ini semua sudah cukup. Kau jangan terlalu berlebihan," ucap Alenia di belakang telinga Wanda.
Gadis itu seketika menoleh. "Sebaiknya kau urus saja pekerjaanmu. Jangan mengaturku!" sinis wanda. Gadis itu melihat dengan tatapan tak suka pada Alenia.
"Haih, aku ini hanya memberi saran. Kenapa jawabnya ketus begitu," balas Alenia pun menatap tajam ke arah sang Wanda.
"Ck. Aku tau apa yang seharusnya di lakukan. Aku, lebih lama berada pada perusahaan ini. Bahkan, semenjak Bos belum memulai usahanya. Jadi, anak baru seperti kamu yang ketemu Bos di saat dia telah sukses, tau apa!" sarkas Wanda.
Ucapannya barusan membuat Alenia mendengus. Wanita itu mencium aroma kesombongan antara senior dan junior.
"Aku memang baru bergabung. Akan tetapi, basic-ku yang berada di jalur bisnis management, nyatanya belajar dengan cepat pada setiap situasi dan kondisi. Aku, mampu memahami dan
mempelajari semua hanya dalam waktu singkat di perusahaan ini," balas Alenia.
Wanda pun bungkam. Ia melengos dan kembali pada pekerjaannya. Bagaimana pun dirinya kalah jika bicara latar pendidikan serta pengalaman kerja.
Alenia lebih segalanya di bandingkan dengan dirinya. Lebih cantik dan lebih pintar. Karena itu, ia sangat tidak suka jika Alenia mengkritik dirinya.
Alenia pun tersenyum penuh kemenangan.
Seketika tatapan mereka beralih pada sosok menawan yang turun dari lantai tiga. Arga adalah salah satu karyawan yang selalu berada di sisi Rozi. Bahkan pada saat ini mereka terlihat masih membicarakan tentang bisnis.
Pemuda yang mulai menunjukkan kesuksesannya di dunia usaha itu nampak serius. Hingga, dirinya tak menyadari jika pada saat ini ada dua gadis yang menatapnya penuh kekaguman.
__ADS_1
Arga yang menyadarinya terlebih dahulu, tak lagi heran. Ia selalu melihat tatapan seperti itu dari para wanita ke arah bos-nya. Ia pun berdehem untuk mengembalikan angan keduanya. Kedua gadis itu pun seketika mengubah ekspresi mereka.
"Aku percaya padamu. Atur saja semuanya," Rozi menepuk bahu Arga. Karyawan kepercayaan yang sangat ia andalkan itu pun membungkuk sekilas hingga pada akhirnya berlalu.
"Bagaimana persiapannya?" tanya Rozi. Akan tetapi dua karyawatinya ini terdiam.
"Hei! Apa salah satu dari kalian tak ada yang bisa menjawab ku?" tanya Rozi lagi, seraya mengibaskan telapak tangannya.
"Kamu bertanya pada siapa? Aku atau --" tunjuk Alenia pada Wanda.
"Tentu saja kalian berdua," jawab Rozi dengan tatapan aneh. Hal sekecil itu saja kenapa harus di pertanyakan.
"Semuanya sudah beres!" Kedua wanita ini menjawab serempak bersamaan.
Rozi tersenyum tipis, hingga kembali membuat keduanya terpesona.
"Aih, Bos. Terimakasih sudah memberi vitamin mood pagi ini," batin Wanda senang.
Lain dengan Alenia.
Wanita di atas usia Rozi itu nampak menggigit bibirnya gemas.
"Oh, Oz. Senyummu menikam jantungku." Alenia berdecak pelan sambil memegangi dadanya yang menonjol dengan blues ketat yang ia kenakan hari ini.
Tak lama wanita yang memang tengah di tunggu kedatangannya, nampak turun dari sebuah mobil mewah mengkilap. Kakinya yang jenjang dan putih adalah hal yang pertama kali terlihat ketika pintu mobil itu di buka oleh sang sopir.
Sekejap kemudian, nampaklah keseluruhan sosoknya yang tinggi ramping. Rambutnya yang berwarna coklat panjang bergelombang menutupi punggungnya yang terekspos. Lindsay mengenakan blues yang pas di tubuhnya dengan bagian punggung yang terbuka. Rok di atas lutut membuat kakinya yang jenjang terekspos sempurna. Sangat cantik.
__ADS_1
Itulah, citra pertama ketika melihatnya.
Lindsay mendapat sambutan dari Alenia dan juga Wanda. Keduanya sempat terkesima ketika melihat sosok model internasional ini secara langsung.
Arya juga berada di antara mereka.
Rozi sengaja mengumpulkan karyawan inti untuk menyambut kedatangan Lindsay.
"Selamat datang Nona!" ucap mereka bertiga serempak seraya menundukkan kepala sekilas.
Hal itu ternyata belum cukup bagi Lindsay. Wanita cantik itu berdecak dan protes.
"Mana Bos kalian? Kenapa dia tidak menyambutku?" tanya Lindsay agak sedikit kesal. Karena ia merasa tidak di hargai. Padahal, selama ini beberapa pengusaha tanah air rela turun dan keluar menyambutnya.
"Maaf, Nona. Bos sudah menunggu anda di dalam. Anda juga terlambat lima menit," jelas Arya dengan berani.
"Huh!" Lindsay menatap Arya tak suka. Ia bahkan melewati pemuda itu tanpa berkata apapun.
"Keterlaluan. Aku kan hanya telat lima menit. Kenapa karyawan itu sampai menegurku. Siapa Bos Oz itu sebenarnya? Kenapa dia sombong sekali?"
Lindsay telah berada di dalam sebuah ruangan khusus. Dan ia melihat punggung belakang Rozi yang tegap.
"Selamat siang, Tuan Oz," sapa Lindsay lembut. Ia memutuskan untuk menyembunyikan kekesalan.
Rozi langsung menoleh, dan pada saat itu kedua mata Lindsay membola.
"Kamu, kan--?"
__ADS_1
...Bersambung...