Sistem Avatar Menjadi Kaya

Sistem Avatar Menjadi Kaya
Bab. 25. Partner Bisnis yang Cantik.


__ADS_3

Rozi langsung berdiri dan memasang senyum ramah, lalu mengulurkan tangannya hendak menjabat Lindsay. Ia tak peduli wajah wanita itu yang terkesiap kala melihatnya. Rozi mulai terbiasa melihat bentuk kekaguman terhadap ketampanan yang ia miliki.


"Selamat datang, Nona Lindsay," ucap Rozi sopan.


"Terimakasih Tuan Oz," jawab Lindsay masih dengan senyum salah tingkahnya. Pemuda yang sejak penyelamatan Snowy, anjing Chihuahua miliknya. Pergi begitu saja. Akan tetapi, Lindsay masih ingat benar bagaimana rupa pemuda tersebut.


Hanya saja yang sekarang nampak lebih bersinar dan tampan.


"Silakan," ucap Rozi lagi mempersilakan tamunya untuk duduk. Tak lama, Wanda membawakan minuman dan juga camilan. Rozi menitahkan dia karyawan wanitanya itu untuk duduk di sebelahnya. Karena ia akan membahas soal kerja sama bisnis dengan Lindsay.


"Luar biasa. Dia bahkan di dampingi para wanita cantik.


Tapi, apa benar dia adalah pemuda itu?" batin Lindsay.


Wanita itu nampak ragu. Apa benar jika pemuda tampan berkharisma yang ada di hadapannya ini adalah penyelamat hewan peliharaannya. Wajahnya nampak mirip sekali.


Akan tetapi, pemuda yang ia temui sekarang ini adalah seorang enterpreneur muda berbakat. Dimana Rozi mulai di bicarakan di beberapa media sosial dan juga mulai di perhitungkan sepak terjangnya oleh pengusaha serupa.


"Sebelumnya, saya pribadi ingin mengucapkan banyak terimakasih kepada Nona Lin. Karena, Beberapa waktu lalu sempat mereview salah satu produk best seller perusahaan kami ini," ucap Rozi dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.


Lindsay pun menanggapi dengan senyum paling menawan yang ia miliki. Senyum yang mampu membuat pria terpikat akan kecantikannya.


"Tak perlu terlalu di besarkan. Saya, awalnya sangat penasaran, lalu mencoba. Ternyata memang sangat lezat. Tidak kalah dengan produk yang berasal dari western itu," jawab Lindsay dengan pujian.


"Anda terlalu berlebihan dalam memuji produk kami, Nona. Setidaknya rakyat kelas bawah pun dapat merasakan makanan yang dianggap mewah oleh sebagian kalangan ini. Dengan cita rasa yang tak kalah bermutu," ucap Rozi lagi merendah.


Lindsay pun tertawa renyah menanggapi ucapan Rozi. Sekejap hal itu membuat Rozi terpana. Sekelebat ingatannya kembali ke awal.


"Sepertinya kita---"


"Pernah bertemu sebelumnya," potong Lindsay menyambung perkataan Rozi.


"Ah, benar ternyata. Anda pemilik Snowy kan?"


Lindsay pun mengangguk dengan senyum yang sangat manis.


"Ternyata, anda juga masih ingat. Oh ya, kenapa pada saat itu anda langsung pergi? Dan juga bagaimana bisa Snowy berada di tanganmu?" cecar Lindsay yang tak lagi bisa menahan pertanyaan yang sejak hari itu ada di pikirannya.

__ADS_1


"Anggap saja kebetulan," jawab Rozi. Ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya bukan.


Sementara itu, Wanda dan Alenia saling tatap. Mereka nampak tak suka dengan kedekatan bos mereka dan Lindsay.


Keduanya nampak begitu akrab dan begitu tenggelam dalam obrolan mereka. Bahkan, bos mereka itu terlihat terus melempar senyum.


"Baiklah. Sejak saat itu saya sangat ingin mengucapkan terimakasih kepada penyelamat Snowy. Kalau saja masa itu anda tidak membawanya, mungkin jiwaku akan pergi saat itu juga," terang Lindsay dengan raut wajah sendu.


Ucapannya membuat ketiga orang itu terkesiap. Bagaimana ada seseorang yang ingin kehilangan jiwa hanya karena kehilangan hewan peliharaan?


"Pada saat Snowy hilang, tak ada lagi gairah dalam hidup. Bahkan, beberapa projek kontrak pun hampir gagal. Mungkin, jika pada saat itu Snowy tidak kembali, tak akan ada Lindsay yang seperti anda lihat saat ini," ungkap model cantik itu lagi.


"Pantas saja, hal itu di jadikan misi pertama, oleh sistem. Jadi, inilah maksud di balik itu semua." batin Rozi.


"Benar-benar kebetulan yang sungguh tak terduga, dan kita bertemu lagi dalam keadaan seperti ini sekarang. Seperti semua telah berkaitan," ucap Lindsay.


"Anda benar, Nona. Nampaknya saya harus berterimakasih kepada Snowy," kelakar Rozi.


Akan tetapi, di tanggapi serius oleh Lindsay.


"Baiklah, saya akan atas jadwal itu segera. Ah, saya sangat senang sekali karena anda berniat ingin mengunjungi Snowy," ucap Lindsay campur pekikan senang. Wanita itu hampir kelepasan dalam bersikap.


Wanda dan Alenia semakin gerah dengan obrolan keduanya. Tak ada pembahasan bisnis sama sekali sejauh ini. Mereka berdua justru nampak sedang bernostalgia.


"Tak ku sangka, kamu sehebat itu Oz. Bahkan, bisa mengenal model se-famous Lindsay. Kamu, memang bukan pemuda yang biasa. Nambah lagi dong sainganku." batin Alenia, bahkan terlihat wanita itu menghela napasnya.


"Baiklah, kita beralih membahas bisnis sekarang." Rozi pun kembali pada niatan awal dari rencananya mengundang Lindsay.


"Tak perlu royalti. Saya akan sangat senang membantu usaha anda, Tuan Oz," ucap Lindsay.


"Tidak begitu. Bisnis tetaplah bisnis," tolak Rozi halus. Hal itu membuat Lindsay benar-benar merasa kagum. Karena pemuda di hadapannya ini sama sekali tidak berniat memanfaatkan dirinya.


Tak lama berselang, pertemuan mereka pun berakhir. Rozi nampak senang memiliki partner bisnis yang mau mengiklankan produknya. Rozi yakin kali ini nama perusahaannya akan melambung tanpa bantuan dari brand yang sudah terkenal.


Rozi ingin brand miliknya berada di atas karena usaha serta kualitas dari mutu produk itu sendiri. Bukan dengan cara mendompleng nama besar pengusaha lain.


Di kediaman Lindsay, nampak beberapa mata tengah memantau.

__ADS_1


Para orang suruhan Draco mengikuti pengasuh yang bertugas menjaga adik kecil kesayangan model cantik itu.


Meksipun, mereka beda ibu. Tetap, Lindsay menyayanginya.


Bahkan, dia sangat bahagia ketika mengetahui bahwa dirinya memilikinya saudara.


"Kami sedang memantau, Bos." Pria yang menjadi orang suruhan Draco melapor melalui telepon.


"Ingat. Bawa ke tempat yang telah ku siapkan!" titah Draco dari balik telepon seluler miliknya. Kemudian pria dewasa yang kebetulan adalah salah satu aktor ternama itu, memutuskan sambungan dan memasukkan kembali ponsel pintar itu ke dalam sakunya.


"Kali ini, mau tak mau ... kamu harus menerima cinta ku, Lindsay!" ucapnya dengan geraham yang mengetat.


Rozi menyiapkan waktu juga untuk menempati janjinya pada Lindsay untuk menemui Chihuahua peliharaannya itu. Padahal semua ucapnya kala itu sebatas kelakar saja. Akan tetapi, sebagai partner bisnis dirinya harus membantu hubungan yang baik bukan? Jika hal ini dapat membuat Lindsay senang, mau tak mau harus ia lakukan.


Sekalipun, dirinya masih sedikit takut dengan hewan berbulu yang bisa menyalak itu.


"Guk guk guk!"


Bener saja dugaannya. Jika kedatangannya langsung si sambut oleh gonggongan hewan itu yang nyaring memekakkkan telinga.


"Dia menyapamu, Oz. Nampaknya, Snowy mengingat pahlawan penyelamatnya," pekik Lindsay kegirangan. Wanita itu benar-benar antusias sekali semenjak menyambut kedatangan Rozi tadi.


Lindsay pun mengangkat hewan berbulu bak salju itu ke dalam gendongannya. Lalu ia menyodorkan Snowy ke arah Rozi. Pemuda itu reflek langsung memundurkan tubuhnya.


"Ah itu, tidak perlu ... ku rasa," tolak Rozi ketika Lindsay menawarkan padanya untuk menggendong Snowy juga.


"Ku pikir kau mau memegangnya," sesal Lindsay yang sadar akan raut wajah kaget dari Rozi.


"Bagaimana bisa, orang yang tak suka anjing tapi mau menyelamatkannya? Pengorbananmu luar biasa, Oz," ucap Lindsay dengan tatapan penuh kekaguman.


Tiba-tiba, seorang pelayan berlari menghampiri Lindsay.


"Ada apa, Bik?"


"N–Nona ... Prince Wilson, diculik."


"Apa! Bagaimana bisa!"

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2