Kacamata berteknologi canggih yang Rozi kenakan pun memindai secara keseluruhan pria di depan Lindsay itu.
Bahkan, kacamata tersebut dapat memindai apa saja yang telah di lakukan olehnya. Sungguh alat luar biasa yang pernah ada. Akan tetapi, hanya Rozi saja yang memilikinya.
Senyum miring terbit di wajah Rozi.
Ketika secara jelas, pemuda itu dapat dengan mudah mengetahui siapa pria itu sebenarnya. Seorang promotor yang memiliki skandal dengan beberapa wanita.
Seorang promotor yang sering bermain kotor dalam meraih kesuksesannya saat ini.
Dengan kaca mata itu, bahkan Rozi tau apa yang sedang direncanakan oleh Draco saat ini. Karena pria itu terus berbicara dalam pikirannya.
"Dasar manusia sampah."
Rozi hanya bisa mengumpat Draco dalam hatinya saja. Seraya menahan geraham dan kepalan tangannya.
"Siapa dia, Lin? Sejak kapan kau membawa pria asing ke dalam penthouse pribadimu?" cecar draco terlihat sekali jika pria itu tidak suka terhadap apa yang nampak di depan matanya.
"Dia kawanku. Partner bisnis dan juga penyelamat Snowy," jawab Lindsay.
"Hah!" kaget Draco.
Makin kesal saja dirinya. Ternyata, Rozi lah pemuda yang sejak awal sudah mengacaukan rencananya.
"Kenapa kau nampak kaget seperti itu, Co?" heran Lindsay.
"Aku ... ah, tidak apa. Hanya, tidak menyangka saja. Nampaknya, Tuan ini bukan orang biasa. Halo ... kenalkan saya, Draco Mezume, promotor terbesar di kota ini,"ucapnya berupaya ramah seraya mengulurkan tangannya.
Berniat meladeni drama yang Draco buat. Rozi pun menyambut uluran tangan pria itu.
__ADS_1
"Saya Rozi Dekheel, dan bukan siapa-siapa. Saya tidak sehebat anda," timpal Rozi merendah.
"Jangan merendah, Oz. Kau itu enterpreneur muda yang sedang naik daun dan diperhitungkan tahun ini. Bahkan kudengar pengusaha franchise ternama se-Asia berniat ingin merekrut usahamu," tampil Lindsay. Ia tak suka jika Rozi merendahkan dirinya di depan Draco yang ia tau bahwa pria ini memiliki sifat tinggi hati.
Draco hanya tertawa kecut, kala secara langsung telinganya mendengar Lindsay, wanita yang tengah ia incar menjelaskan tentang keberhasilan pria di hadapannya ini dengan binar kekaguman di wajahnya. Draco bukan pria bodoh. Ia tau jika wanitanya ini menyukai pemuda tampan yang tinggi dan berkulit putih bak aktor drama china itu.
"Sial! Pemuda ini semakin ku lihat semakin tampan saja. Masih muda juga. Tidak! Kali ini, Lindsay harus benar-benar jatuh ke tanganku." Batin Draco.
"Co, kau bilang ada berita yang hendak kau sampaikan. Apa? Cepatlah! Ada hal yang sedang ku khawatirkan saat ini," cecar Lindsay.
"Baiklah. Tapi kau duduklah dulu. Apapun yang ku katakan ku harap kau tenang. Bagaimanapun aku akan membantumu sekuat tenaga," ucap Draco mencoba mengambil simpati dari Lindsay.
"Baiklah. Kau bisa mengatakannya sekarang," ucap Lindsay.
"Beberapa saat yang lalu. Aku melihat Prince di bawa kedalam mobil Van hitam. Aku pikir, mereka adalah orang-orangmu. Tetapi, setelah aku berada lebih dekat, ku lihat mereka ...," Draco sengaja tak melanjutkan ucapannya demi menciptakan dramatisasi.
"Prince pada saat itu ... di bekap. Maafkan aku Lin. Pada saat itu, aku sama sekali tidak berpikir untuk lapor pada polisi. Aku justru ingin mengabarkannya padamu lebih dulu," kilah Draco.
Pria itu pikir, hal yang ia lakukan dapat mengambil hati dan simpati Lindsay akan dirinya.
"Oh tidak, Wilson ...," tangis Lindsay kembali pecah. Wanita itu sudah membayangkan hal yang tidak-tidak terjadi pada adiknya semata wayang.
"Tenanglah, Lin. Aku berjanji akan membantumu untuk menyelamatkan Prince. Aku tau kau lebih menyayanginya daripada Snowy," ucap Draco.
"Kau salah, Co. Aku menyayangi mereka berdua melebihi diriku sendiri. Baik itu Snowy maupun Wilson," tepis Lindsay.
"Ah ya begitu maksudku." Draco pun mengambil kesempatan untuk membawa raga Lindsay kedalam pelukannya.
Akan tetapi, wanita itu justru menghambur ke dalam pelukan Rozi.
__ADS_1
"Sial! Kau benar-benar memancing kesabaranku, Lin!" batin Draco geram. Kedua matanya menyorot tajam ke arah Rozi. Tatapan penuh ancaman dan juga kecaman itu, nyatanya tidak dipedulikan oleh Rozi.
"Aku tau kau sangat marah, Bung. Ayo, cari masalah. Agar aku memiliki alasan untuk mendaratkan pukulan di wajah mesummu itu!" batin Rozi.
Tak lama kemudian, terdengar dering telepon yang mengagetkan semuanya terutama Lindsay.
Bahkan, dirinya mengangkat gagang telepon itu dengan gemetar. Rozi mengangguk, agar Lindsay tetap tegar dan berbicara dengan tenang.
"Ha–halo ...,"
"Dalam waktu empat puluh lima menit dari sekarang. Lakukan apa yang ku perintahkan, dan jangan sampai terlambat. Karena, jika kau terlambat satu menit saja maka satu jari akan lepas dari tangan atau kaki adik mu yang lucu dan gemoy ini." Suara yang di samarkan itu pun tertawa terbahak-bahak.
"Jangaaaann ....!"
Seiring teriakan Lindsay maka sang penelepon memutuskan sambungannya.
Lalu, Lindsay mendapatkan pesan dari email.
"Bagaimana ini. Apa yang harus aku lakukan!" Lindsay menutup wajahnya dan kembali menangis.
"Lin, ijinkan aku membantumu. Juga biarkan aku mengajak pria ini untuk menyelamatkan Prince!" tunjuk Draco pada Rozi. Karena dirinya memiliki satu rencana untuk pemuda yang sejak tadi mencuri perhatian Lindsay darinya.
"Apa yang akan kalian lakukan? Aku ingin adikku selamat!"
"Kau tenanglah. Percaya pada ku," ucap Rozi lembut dengan tatapannya yang meneduhkan.
"Kau benar-benar cari mati anak muda!" batin Draco lagi semakin memendam kesal pada Rozi.
...Bersambung...
__ADS_1