Sistem Avatar Menjadi Kaya

Sistem Avatar Menjadi Kaya
Bab. 19. Aku memang telah terbius, Oz.


__ADS_3

"Maaf, Bro. Kita nyari yang bayarannya tentu lebih besar," sahut salah satu dari kawan Tora. Rozi pun memberikan uang pada mereka.


Mereka, para preman itu bersorak kegirangan ketika Rozi memberikan masing-masing segepok uang. Rozi melempar sisa uang yang ada di dalam koper ke dalam mobil. Dimana ada Alenia yang membelalakkan matanya.


"Bos Oz, terimakasih banyak!" seru kawanan preman dan juga komplotan Tora itu. Mereka pun melambaikan tangan pada Tora yang masih berdiri terpaku kaku bak patung Pancoran.


"Alzera! Aku menunggu reward-nya!" seru Rozi seraya melipat kedua tangan di depan dada.


[ Anda mendapatkan reward penggantian uang yang anda gunakan untuk para preman tadi sebanyak tiga kali lipat. ]


"Waw, lumayan!"


"Baiklah Al. Buka statusku sekarang!"


[ Nama : Rozi Dekheel.


Umur : 19 tahun.


Jenis kelamin : Laki-laki.


Kepintaran : 90


Kemampuan: Pelari cepat. Pemilik elemen batu dan besi.


Pilar : Rescue dan Medical.


Kecepatan : 80


Kekuatan : 80


Ketampanan : 85.


Sisa koin : 20. 000.


Inventaris : Sertifikat rumah dan sertifikat ruko. Sementara ponsel telah anda berikan bulan lalu.


Sisa uang dalam Doku setelah di belanjakan :





000.


Sisa penukaran koin : 200 juta.


Di gandakan tiga kali lipat menjadi 600 juta.


Sehingga sisa saldo uang anda : 692. 500. 000. ]





Rozi tersenyum sangat lebar karena, sistem telah menjelaskan dengan rinci pemasukan serta pengeluaran uang yang ia dapatkan atas bantuan sistem.


Beda lagi, dengan uang hasil usaha yang ia dapatkan.


Rozi menyimpannya di akun rekeningnya yang lain. Semua itu, di urus oleh Wanda. Sementara, Alenia adalah asistennya sekaligus management bisnis.


Sepertinya, Rozi butuh menambah karyawan untuk beberapa cabangnya.


Usaha yang tak mudah meskipun ia di bantu oleh sistem dan segala kuasa di dalamnya. Tetap saja Rozi bekerja keras dengan memeras otak dan juga keringat.


Apalagi, ketika permintaan semakin tinggi. Hal itu membuatnya kesulitan mencari pasokan ayam potong.


Ia harus bersaing dengan beberapa pengusaha uang menggunakan bahan baku serupa.

__ADS_1


Pak Igon sebagai pemasok langganan keluarganya tak mampu mencukupi permintaan Rozi dari perusahan Rozi yang semakin tinggi.


Hingga, pemuda itu harus masuk ke kampung-kampung yang berada di luar kota sekalipun untuk mencari peternak lain.


"Bos, apa anda lelah?" tegur Arga yang mana pada saat itu memang ikut menemani Rozi.


"Tentu saja lelah Ar. Tetapi kita tidak boleh menyerah meskipun rasa kaki seakan hendak lolos dari badan. Aku ... pernah mengalami kesulitan yang lebih daripada ini." Rozi berkata seraya menoleh dengan tatapan tegas ke arah Arga.


Pemuda yang usianya tak jauh darinya ini setidaknya belum merasakan kesulitan seperti yang ia alami dulu.


Setidaknya Arga masih memiliki keluarga, tidak sepertinya yang sebatang kara sejak beranjak remaja.


"Bos benar. Harusnya saya tidak mudah mengeluh hanya karena Medan yang sulit kita lalui ini," balas Arga dengan tawa malu-malu.


Rozi pun tergelak. Ia menepuk bahu Arga.


"Kita bukan hanya akan menemukan jalan keluar akan masalah penyetok ayam potong. Tapi, kita juga akan banyak menemukan tenaga bantuan di desa ini. Pasti, banyak pemuda dan pria dewasa yang butuh pekerjaan," ucap Rozi kemudian.


Keduanya pun melangkah lagi semakin turun ke bawah bukit.


Benar dugaannya.


Rozi menemukan peternak ayam seperti yang di katakan oleh kepala desa.


Bahkan Rozi bisa mendapatkan harga yang lebih miring.


Walaupun harganya sama saja dengan ketika ia membeli di kota karena dirinya harus menyediakan jasa angkut dengan kendaraan pick up.


"Kalau ada pemuda atau pemudi yang mencari pekerjaan. Bapak bisa menghubungi saya," ucap Rozi yang telah menyerahkan nomer ponselnya.


Masalah per-ayaman telah selesai.


Sang peternak bahkan menghubungi beberapa kawannya yang juga memiliki usaha yang sama.


"Bos, anda benar. Bersakit-sakit dahulu dan mendapat ayam kemudian," seloroh Arga. Mereka pun melihat ke bawah kaki mereka yang penuh tanah dan rumput. Lalu keduanya tertawa tergelak.


"Silakan kalian bersihkan kaki di samping. Tuh ada air pancoran ," kata sang pemilik ternak ayam.


Ketika Rozi tengah membersihkan kakinya. Keluar anak perempuan sederhana dengan wajah manis menghampirinya. "Ka–kakak. Aku .. boleh ikut kerja di kota tidak?" tanya gadis itu kikuk. ia beberapa kali kedapatan menatap Rozi namun kembali menunduk karena malu.


"Berapa usiamu? Bukankah kau seharusnya masih sekolah?" tanya Arga memotong.


"Sudah 18. Saya hanya tamatan sekolah dasar. Tapi, saya jamin bisa masak. Membaca dan berhitung juga bisa. Bahasa Inggris mengerti percakapan saja. Saya mohon, tak ada perusahaan maupun pabrik yang mau menerima saya yang tak punya ijasah ini," ucapnya dengan memelas.


"Ini kartu nama saya. Datanglah ke kota, dengan segala perlengkapanmu. Karena kau nanti akan tinggal di mess karyawan dan hanya bisa pulang sebulan sekali." Rozi pun menjelaskan dengan ramah. Hingga gadis berwajah manis itu tersenyum lebar.


Rozi pun menyenggol Arga yang sempat terpukau beberapa saat.


Pasokan ayam aman dan Rozi juga mendapat tambahan beberapa karyawan untuk cabang barunya.


Para preman dan kawanan itu berlalu dengan mimik muka senang bukan kepalang. Tentu saja karena mereka mendapatkan uang tanpa mengeluarkan keringat sepeserpun.


"Gua cabut dulu, Bro! Sorry, lu udah gak berduit sekarang. Kalo gua jadi si Ozi pasti lu udah gak bisa bergerak sekarang. Untung tu anak kagak perintah kita buat nyerang ente, Bro!" Salah satu kawan Tora menepuk bahunya lumayan kencang.


Tora pun menepisnya dengan gigi yang sudah bergemeletak.


Bisa di bayangkan bagaimana rupa dari Tora pada saat ini. Wajah pemuda itu mengeras bagaikan patung batu. Dengan warna merah legam karena menahan amarah. Secara tak langsung justru Rozi tengah memberi hinaan yang lebih menyakitkan daripada pukulan di tubuhnya.


Rivalnya itu telah memberi hinaan tepat mengenai jantung hingga membekas pada hatinya yang busuk. Tora mengepalkan erat tangannya. Otaknya mengingat bagaimana senyum Rozi yang polos meledek dirinya saat ini. Juga, seringai dari para kawannya yang membelot demi uang.


"Kawan-kawan brengseek kalian!"


"Mana kesetiakawanan lu pada, hah!"


"Mati kalian semua!"


Tora berteriak macam orang gila di tengah jalan raya yang sepi itu. Karena memang tempat itu jarang di lewati orang di waktu siang begini. Pemuda itu tentunya berani melempar makian setelah kawanannya itu pergi.


Tora dengan cepat menaiki kendaraannya, kemudian berlalu dengan kencang. Sesampainya di kedai, pemuda itu menemui sang paman dan mengadu dengan napas memburu.


Bono, nampak mengeratkan rahang dan juga buku-buku jarinya. Pria itu tak terima anak kemarin sore sudah berani melawannya. Rozi bukan hanya menghina keponakannya ini tapi juga dirinya. Omzet usahanya di beberapa tempat turun drastis. Tentu saja hal itu tidak mungkin membuatnya tinggal diam saja.

__ADS_1


"Kau tenanglah. Paman punya rencana." Bono, membuat senyum miring yang mencapai telinganya.


Bono yang memang kesal karena merasa telah disaingi oleh Rozi, membayar beberapa preman untuk menyabotase usaha pemuda itu. Bono, memerintahkan mereka untuk meletakkan ayam tiren. Kemudian membuat Vidio pembuatan ayam garing Lezatos yang sengaja mereka rekayasa, untuk di sebar pada laman semua media sosial.


"Bos, lihat ini!" Arga datang kekantor dengan tablet di tangannya. Napas pemuda itu nampak terengah-engah.


"Apa ini, Ar?"


"Tengoklah, Bos! Masa depan usaha kita terancam dengan Vidio rekayasa yang viral ini!" lapor Arga dengan wajah panik.


Rozi pun meraih tablet yang di sodorkan oleh salah satu anak buah kebanggaannya itu, lalu menekan bentuk segitiga yang terdapat di tengah gambar.


Kedua mata yang berwarna abu-abu terang itu bergerak cepat. Napasnya seketika memburu. Rozi meletakkan tablet itu kasar di atas meja. Kemudian berdiri, dan berjalan mondar-mandir dengan resah.


[ Anda harus bertindak dengan pintar. Lawan kelicikan dengan kepandaian. Reward menanti anda jika masalah ini selesai dengan elegan. ]


"Haih, Al. Masalah pun kau jadikan misi?"


[ Karena tugas saya membantu anda menjadi kaya. ]


"Kau benar juga. Setidaknya, aku tidak akan menguras tenaga dan pikiran dengan sia-sia."


Issue pun merebak dengan cepat. Penurunan omzet drastis. Wanda menemukan cara, jika ingin melawan issue dari medsos harus dengan bukti real.


"Tuan, iya harus membuat video perbandingan. Untuk, melawan Vidio yang berniat menghancurkan nama baik terhadap produk franchise-kita," saran Wanda.


"Wanda benar, Bos. Kita harus bikin video itu segera. Setelahnya, Bos juga harus buat Vidio pers conference," saran Arga.


Mendengar ide-ide daripada anak buahnya ini. Rozi merasa amatlah senang. Setidaknya mereka terus mendukungnya dengan sungguh-sungguh. Mereka bukan hanya karyawan tapi partner. Karena itu, Rozi tak pernah perhitungan untuk membagi kelebihan laba kepada mereka.


"Terimakasih, atas dukungan kalian selama ini. Aku, tidak akan bisa berada di sini tanpa semangatt dan juga dukungan kalian !" ujar Rozi di depan anak buah intinya ini.


Arga, Arya juga Wanda dan Alenia. Mereka adalah karyawan inti yang merupakan pendiri dari usahanya ini. Rozi merasa sangat beruntung bisa menemukan mereka semua.


"Terimakasih Wanda, atas ide yang kau berikan," ucap Rozi dengan senyum menawannya. Sehingga, Wanda langsung salah tingkah. Padahal niat Rozi hanya sekedar ucapan terimakasih saja.


Alenia melihat ekspresi dan body language dari Wanda setiap Rozi melempar senyumnya. Seketika, ia melemparkan pandangannya ke sembarang arah. Entah kenapa hatinya tak suka melihat adegan barusan.


Alenia pun berlalu untuk menyiapkan semuanya.


Mereka pun membuat video ayam krispi yang menggunakan dua jenis ayam segar dan juga ayam tiren. Sengaja mereka akan membuat Vidio perbandingan.


Akan tetapi, mereka agak kesulitan menemukan ayam tiren tersebut, dimana orang menjual bangkai dari ternak ini? Tak ada yang tau. Dengan pintar, Wanda pun merekam kebingungan ini.


Mereka semua akhirnya berhasil membuat Vidio tersebut. Tentunya dengan perjuangan panjang. Mereka membuat perbandingan rasa dan kualitas serta ketahanan antara makanan berbahan dasar segar dengan yang menggunakan bahan baku bangkai atau ayam mati kemaren.


Kini giliran mencari para sukarelawan yang akan menjadi juri dari dua jenis makanan berbeda bahan baku ini. Mereka harus mencari secara acak. Hingga, membuat sayembara di media sosial juga.


Memang the power of media sosial itu luar biasa Gerakan mereka secepat cahaya. Dalam waktu singkat, Rozi telah mendapatkan beberapa orang sukarelawan.


Para sukarelawan yang berasal dari netizen ini untuk pertama kali akan makan produk milik Rozi yang asli. Setelah itu baru mereka akan makan produk yang menggunakan ayam tiren.


Vidio balasan dan rekaman dari konferensi pers yang Rozi buat, pada akhirnya berhasil mengembalikan nama baik dari usaha franchise Ayam Krispi Garing, milik Rozi Dekheel.


"Kau luar biasa Oz. Para netizen tersihir dengan setiap kata-kata yang keluar dari bibirmu. Kau memang pandai bicara," puji Alenia seraya mendekat ke sofa di mana Rozi tengah duduk santai.


"Karena, kata-kata dan visual itu bisa membius. Terutama, untuk kaum wanita."


Alenia tersentak dengan ungkapan Rozi barusan.


Wanita itu hanya berani menatap punggung Rozi yang telah berjalan meninggalkannya.


"Itu real banget! Aku memang telah terbius, Oz. Lalu, bagaimana ini!" batin Alenia.


Para konsumen kini telah kembali memadati setiap kedai yang bergabung dengan perusahaannya.


[ Selamat, Tuan. Masalah anda selesai dan misi anda berhasil. ]


"Aku akan menggunakan kaca mata spy untuk mencari pelaku penyebar hoax ini! Lihat apa yang akan ku lakukan setelah menemukan mereka!"


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2