Bocah laki-laki berambut pirang itulah meronta di atas kursi dalam keadaan tangan dan kakinya terikat. Mulutnya juga di tutup menggunakan lakban hitam.
Air matanya telah menetes dengan deras lantaran ketakutan. Pandangannya mengedar ke sekeliling ruangan.
"Kakak!" batinnya. Memanggil sang kakak yang entah ada dimana.
"Wilson takut." Bocah laki-laki itu mulai gemetar. Ia pun menangis tanpa suara. Sebab hanya erangannya saja yang terdengar. Semua itu karena mulutnya memang di tutup.
Di penthouse.
Rozi nampak baru saja berbicara melalui ponselnya.
Sementara itu, Alenia yang menerima kabar tersebut menjadi gelisah tak jelas.
"Jadi, Oz akan menginap di penthouse milik Nona Lindsay. Haih, apa yang mereka berdua lakukan nanti. Aaa ...!" Alenia bergumam seraya berteriak dan menghentakkan kakinya ke lantai.
Mendengar keributan di lantai atas. Beberapa karyawan pun naik.
"Kak, Ale kenapa?"
"Iya ada apa Kak!"
Mereka pun bertanya serempak.
Hal itu, membuat Alenia kaget dan seketika mengubah ekspresinya.
"Ah, tidak ada. Tadi hanya cicak," jawabnya asal, sembari kikuk.
"Ya ampun, Kak. Kami kira ada apa. Soalnya atap sampai bergetar," celetuk salah satu karyawan laki-laki.
"Hey! Mana ada seperti itu!" protes Alenia mencebikkan bibirnya.
Kedua karyawan itu pun tertawa.
__ADS_1
"Sudah sana, siap-siap tutup kedai. Menu sudah habis kan?" titah Alenia.
"Tinggal ada empat porsi ayam, Kak. Kalau nasi sudah habis," jawabnya.
"Bawa saja sisa ayam ke atas. Untuk kalian makan nanti," ucap Alenia lagi.
Biasanya ayam tak pernah sisa. Mungkin kali ini memang rejeki para karyawan.
"Ah, yang benar Kak?"
"Asekk!" sorak keduanya.
Kebetulan di kedai ini, memiliki sekitar delapan orang karyawan. Alenia yang kebagian jatah menjadi pengawas secara keseluruhan.
Akan tetapi yang tinggal di mess, lantai atas hanya sekitar empat orang. Karena tempat tinggal mereka berada di luar kota.
Rozi akan selalu berada dan memimpin cabang baru sebelum mereka bisa di lepas secara total.
Kali ini, sejak ia mengenal Lindsay. Sejak perusahaannya bekerja sama dengan model cantik itu. Untuk pertama kalinya Alenia merasa khawatir. Karena Rozi malam ini berada di luar rumah.
Bagaimanapun, Ale tau jika kehidupan para artis itu seperti apa. Seperti tidak rela jika kawannya yang polos ini akan dimanfaatkan begitu saja.
"Huh, semoga itu semua hanya pikiran jelekku saja. Oz, tidak akan mungkin dengan mudah tergoda bukan? Tapi ... bagiamana jika, Lindsay menggunakan cara licik seperti yang pernah ku baca di novel-novel. Oh tidak!" Alenia langsung membekap mulutnya seiring pikirannya yang liar.
Sementara itu di penthouse.
Lindsay nampak di temani Rozi di ruang keluarga. Wanita itu terlihat mendekap pakaian serta gadget yang biasa di gunakan oleh Prince.
Rozi lama-kelamaan trenyuh juga. Pemuda ini untuk pertama kalinya peduli dengan wanita. Nampak Lindsay begitu menyayangi adiknya meskipun mereka beda ibu.
Rozi mengulurkan tangannya untuk mengusap bahu Lindsay. Pemuda ini belum pernah menghadapi wanita manapun. Sehingga, ia sedikit kebingungan mendapati wanita ini tak henti menangis di hadapannya.
"Kenapa Draco belum datang juga. Aku harus memeriksa pria itu sebelum melakukan penyelamatan. Aku yakin, ada sesuatu di balik niat pria itu yang sebenarnya." batin Rozi.
__ADS_1
"Oz. Kenapa penculik itu tidak menelepon lagi. Bagaimana jika Wil--"
"Dia akan baik-baik saja. Kau tenanglah. Mereka tidak akan melakukan apapun terhadap adikmu, jika apa yang mereka inginkan belum tercapai," jelas Rozi.
Sontak ucapannya itu, membuat Lindsay menarik napasnya. Sejak tadi, wanita itu seakan kehabisan oksigen.
Tak lama kemudian.
Seorang pelayan dengan tergopoh-gopoh datang menemui Lindsay.
"Ada apa, Bik?" Lindsay yang memang sedang panik langsung berpikir jelek.
"Ada tamu, Non. Namanya tuan Draco," jawab pelayan tersebut. Lindsay pun memutuskan untuk turun ke bawah. Sementara, Rozi berjalan di belakangnya.
"Dia begitu antusias menyambut kedatangan pria itu. Pasti hubungan mereka sangat dekat. Hemm ... ini sepertinya agak pelik," gumam Rozi sambil terus melangkah.
"Maaf aku baru tiba. Jalanan begitu macet," ucap Draco memberi alasan.
Pria itu mendekat pada Lindsay dan langsung ingin memeluknya. Akan tetapi, Lindsay tetap menolak seperti biasanya. Padahal itu merupakan hal wajar di kalangan orang-orang entertainment.
"Lihat saja. Setelah ini apakah kau masih menolakku!" geram Draco dalam hatinya.
Akan tetapi, kedua matanya langsung membulat sempurna dan senyum yang barusan ia tujukan pada wanita cantik di hadapannya ini langsung memudar. Ketika, terdapat sosok seorang pemuda tampan di belakang Lindsay.
"Shitt!"
"Siapa dia!" batin Draco.
Langsung menatap tajam ke arah Rozi.
"Aktifkan kacamata spy," bisik Rozi seraya mengenakan kacamata miliknya.
...Bersambung ...
__ADS_1