Draco, nampak berlari. Pria itu membawa beberapa sosok Prince Wilson. Di bantu beberapa anak buahnya yang mengendarai motor gede.
Dirinya hanya sebatas pengatur strategi.
Karena, bagaimanapun Draco tak pandai berkelahi. Pria itu hanya tau seluk-beluk mengenai usaha gelap serta Domino miliknya.
Penyerbuan mulai dilakukan karena, anak buah Draco telah mengirim pesan jika sistemnya telah berhasil mengacaukan beberapa kendali dalam penthouse mewah tersebut.
Satu lagi model permainannya, untuk dapat mengelabui Lindsay.
Malam ini Draco yang akan menjadi pahlawannya.
Brakk!!
"Ada apa ini, Bibi? Siapa orang-orang itu!" seru Lindsay ketakutan.
Brugghh!!
Seketika Draco maju dan menghalang para komplotan yang hendak menyerang ke dalam penthouse.
Napas pria itu tersengal-sengal. Sorot matanya tajam menukik ke depan. Ia memukul serta melempar apapun yang ada di hadapannya hingga menabrak barang lainnya yang ada di lobi tersebut.
"Shitt!"
"Damn it!"
" ARRGHHH!"
Pria berusia tiga puluh lima tahun ini, terus berteriak sambil melempar apapun yang ada di hadapannya. Ia sangat marah dan benar-benar marah. Iris matanya membesar dengan warna di sekitarnya yang memerah.
__ADS_1
Sementara itu, Prince yang ketakutan bersembunyi di balik pot besar. Anak itu terkena tekanan mental akibat penculikan serta perkelahian yang sangat ia takutkan.
Lindsay, lantas menghampiri salah satu lukisan pada dinding. Menekan salah satu sisinya, hingga terdengar bunyi benda berderak.
Krieekkk!
Brum!
Sebuah lukisan yang lebih besar berputar dan berbalik, lalu menampilkan sesuatu dari sisi belakangnya. Lindsay menghela napas lega.
Tetapi, tiba-tiba.
Tanpa ada yang menyadari, raga Prince sudah tak ada lagi ada lagi di balik pot tersebut..
Di penthouse.
Rozi telah menyerahkan sosok Prince kepada kata pelayan pribadi Lindsay. Anak itu butuh perawatan.
Baru beberapa menit, kedua mata Lindsay di buat membulat seiring dengan mulutnya yang menganga.
"Ini, Film apa? Kenapa pria itu seperti Draco!" seru, Lindsay alangkah terkejutnya. Hingga, ia mendorong kursi agar Rozi itu duduk bersebelahan dengannya.
"Keren kan, nih camilannya!" Rozi menyodorkan semangkuk popcorn yang baru saja ia minta dari pelayan di penthouse itu.
"Minumannya mana?"
"Aku akan memanggil pelayan," ucap Lindsay.
"Perhatikan, filmnya. Jangan terpesona padaku,"
__ADS_1
Uhukkk!
Lindsay seketika merasa tenggorokannya gatal.
"Dia, dia Draco kan? Lalu kenapa dia seperti orang jahat?" bingung Lindsay ketika Rozi menyambungkan rekaman dari apa yang Draco lakukan pada Prince.
"Draco!!" geram Lindsay.
Ketika gambar bergerak di hadapannya kejahatan Draco.
Terkuaklah siapa Draco yang sebenarnya.
" Kau benar-benar hebat! Terimakasih, Tuan Oz," puji Lindsay dengan kedua mata berbinar. Nampaknya ia telah sungguhan jatuh cinta pada pengusaha muda ini.
Lagi-lagi Rozi menolongnya.
Lindsay semakin yakin jika pemuda ini bukanlah orang biasa. Rozi menyembunyikan semua kehebatannya dalam kesederhanaan.
"Cukup, kagumnya nanti saja. Mulai saat ini pria itu takkan meremehkanku lagi," sahut Rozi.
Lindsay segera bersembunyi ketika ia mendengar langkah dari derap kaki.
"Apakah tidak apa membiarkan mereka masuk." Lindsay bertanya-tanya karena Rozi teramat tenang.
Komplotan Draco masuk tetapi mereka berdua justru keluar.
"Sekarang panggil polisi," kata Rozi.
"Aku akan menyerang dari jarak dekat. Karena mereka pasti membawa senjata api," bisik Rozi yang tengah sembunyi bersama Lindsay.
__ADS_1
Bersambung