Skandal Pernikahan Idol

Skandal Pernikahan Idol
Hukuman Ana


__ADS_3

Sekolah elite dengan bangunan megah berdiri sombong sesuai dengan penghuninya yang didominasi para Sultan. Tak heran jika di area parkir saja sudah berjejer rapih mobil mewah dan motor sport yang seharga mobil menjadi gengsi para anak sultan.


Jeco memarkirkan motornya begitupun Rei. Dua sahabat ini selalu kompak datang tepat waktu.


"Kita pisah di sini bro!" Jeco mentoskan kepalan tangannya yang disambut Rei.


"Oke." Rei pun masuk ke kelasnya dan begitupun Jeco yang berbeda kelas, dia masuk ke kelasnya juga.


Jeco segera mendaratkan pantatnya di kursi miliknya sambil mengamati isi kelas.


Pelajaran pun dimulai. Semua murid duduk rapih dan serius melihat ke depan memperhatikan penerangan guru setelah diawali doa bersama dan penghormatan pada guru.


Pelajaran pertama pun dimulai, semua siswa menatap lurus pada penerangan sang guru. Sesekali sang guru membuka laptop lalu menghubungkan dengan smart TV dengan layar lebar menerangkan isi materi dengan teknologi digital. Dan kadang-kadang juga menulis di atas white board. Seteleh 40 menit guru menerangkan, pelajaran pertama pun selesai. Guru segera menandatangani kehadirannya di layar digital yang ada di kelas. Anak-anak langsung bisa bernafas lega, ada jeda untuk mereka bersantai.


Mata Jeco sekilas melihat ke arah gadis culun yang sering dicemooh teman-temannya. Dia duduk sejajar dengan tempat duduknya.


Ahir-akhir ini Jeco sering melerai anak-anak yang sedang membully Ana. Dia merasa kasihan melihat Ana selalu menjadi korban teman-temannya di kelas. Padahal Jeco sendiri kagum pada kepintaran Ana yang genius. Dari awal masuk sampai sekarang nilai raportnya belum ada yang mengalahkan. Cuman sangat disayangkan memang penampilannya agak aneh.


Ana. Penampilannya yang culun, berkacamata tebal, rambut panjang sepinggang yang selalu berkepang dua, gigi berkawat warna-warni lengkap sudah penampilan culunnya.


Anita melangkah mendekati Ana. Kebetulan Astrid teman se gengnya memang sebangku dengan Ana setelah mendapatkan lotre bergilir posisi bangku.


Ana terlihat gemetar, dia langsung membuka buku daripada harus bersitatap dengan Anita.


Anita duduk dengan bersilang kaki di atas meja yang sedang ditempati Ana, lalu menatap tajam pada Ana.


"Hei... jangan otak aja yang diasah! Tuh wajah kali harus diasah juga ke dokter bedah plastik, biar bening dan juga glowing!" Seru Anita pada Ana.


"Whoahaha..." Teman-teman sekelasnya langsung tertawa terbahak-bahak setelah mendengar Anita bicara hal itu.

__ADS_1


Mata Jeco menatap sinis pada Anita. Dia tidak suka dengan sikap Anita yang arogan. Yang ditatap melirik. Dia senang karena sikapnya barusan sudah bisa membuat Jeco terpancing melihatnya.


Jeco yang berparas tampan membuat setiap perempuan mengidam-idamkan dirinya sebagai idola sekolah itu.


Anita sangat menyukai Jeco, tapi selama ini Jeco selalu cuek dan abai pada Anita.


Ana hanya tertunduk. Ini bukan kali pertama Ana dihina oleh Anita dan gengnya yang notabene wanita tercantik, terseksi, tapi otaknya minim.


Ehem-ehem pak Anderson masuk ke kelas setelah ketukan di pintu kelas tidak digubris anak-anak.


Anak-anak langsung kembali duduk serius. Jam kedua ini adalah jadwal guru terkiller seantero sekolah elite itu. Dimana dia mengajar mata pelajaran matematika dan terkenal galak dan juga pelit nilai.


"Hei.. awas ya kalau ulangan nanti tidak ngasih contekan! gue kurung di wc baru nyaho!" Astrid menekan kepala Ana dengan telunjuknya.


Ana dan gengnya memanfaatkan Astrid untuk menekan Ana agar memberikan contekan jawaban soal-soal yang akan dilakukan oak Anderson.


"Kau.. Jeco. Pindah tempat ke tempat Ana! Mulai sekarang kamu duduk disitu!" Suara Pak Anderson yang berwiba langsung membuat ciut nyali semua murid.


Jeco langsung pindah dan Ana pun membereskan alat tulisnya pindah ke tempat Jeco. Mereka bertukar tempat atas perintah pak Anderson.


Meski Anita berwajah culun, kedua orang tuanya adalah salah satu jajaran orang yang terkaya di negeri itu. Tapi Ana tidak mau membuka identitasnya juga melarang orang tuanya ikut campur masalah sekolahnya.


Geng Anita langsung menelan kecewa. Usahanya kali ini lagi-lagi dijegal oleh pak Anderson. Anita yang licik tidak bisa mengalah begitu saja. Dia bertekad akan membully Ana nanti selepas istirahat.


Istirahat pertama pun datang. Anak-anak bersorak lalu mereka keluar dari ruang kelas. Ana mengalah untuk keluar paling akhir. Itu membuat geng Anita menyeringai licik. Setelah teman-temannya keluar dari ruang kelas, Anita langsung mengunci pintu kelas.


"Hhhmmm... kamu kira kamu bisa lepas dengan mudah Ana? Oh no.. no.. Kita akan memberikan kejutan pada kamu agar kamu tidak bisa melupakan hal ini seumur hidup kamu." Ancam Anita sambil mendekati bangku Ana.


"Apa yang akan kau lakukan padaku?" Gemetar Ana sambil menatap takut pada Anita.

__ADS_1


"Hmmm... aku... hanya ingin...kau meminum ini!" Anita menyodorkan sebuah botol berisi air mineral pada Anita.


"Apa yang kalian inginkan?" Lirih Ana semakin bergetar.


"Jangan takut Ana! Aku ingin kamu meminum ini saja! Tak lebih." Ucap Anita dengan niat jahatnya.


"Apa ini?" Ana melihat botol mineral itu dengan tatapan penuh curiga. Bisa saja Anita memberi racun padanya.


"Ini hanya air Ana. Coba kamu minum. Ini tidak beracun. Iya gak teman-teman?" Anita mengedipkan matanya memberi kode pada semua teman-teman gengnya.


"Aku.. tidak mau. Kenapa kamu tidak minum saja?" tolak Ana dengan menahan ketakutan luar biasa.


"Hei... jangan menolak! Apa kamu ingin memilih yang lain yang mungkin saja bikin kamu lebih terkenal Ana?" Anita mengelus halus leher Ana dan membisikkan di telinga Ana sesuatu yang membuat Ana lebih takut lagi.


Deg


"Baik.. aku minum air. Tapi kalian janji tidak akan mengganggu aku lagi." Dengan tangan gemetar karena ketakutan, Ana memilih meminum air itu, daripada harus mengikuti pilihan ke dua.


"Oke... kita lihat nanti! Kalau kamu tidak membuat ulah, kita tidak akan mengganggumu lagi." Jawab Anita berbohong.


"Baik aku akan meminum ini." Ana langsung mengambil botol itu. Anita dan teman-teman gengnya sudah tidak sabar menantikan aksi Ana berikutnya, setelah mencampur air itu dengan sesuatu.


Brak...


Pintu terbuka karena sebuah tendangan keras, membuat semua orang dalam ruang kelas itu terhenyak kaget.


"Apa yang kalian lakukan pada Ana?" Jeco mengawasi Ana, agak curiga. Pasalnya Ana tidak keluar dari kelas. Dia langsung menyusul kembali ke kelas begitu Ana tidak ditemukannya.


"Kita cuman mau ngasih minum Ana kok."

__ADS_1


__ADS_2