Skandal Pernikahan Idol

Skandal Pernikahan Idol
Antara tega dan tidak


__ADS_3

"Siapa?" Orang yang di samping pak Judi menoleh.


"Ini.. pengawalnya nona Ana. Katanya ingin bicara pada tuan. Nona Ana sedang kritis." Pak Judi menyampaikan apa yang baru saja Jo katakan.


"Kritis? Biar aku yang bicara?" Daniel langsung mengambil handphone pak Judi yang mempunyai nama Judhiraharjo itu ke arahnya. Lalu menempelkan di daun telinganya dengan rasa penuh penasaran.


"Halo.. Jo.. aku Daniel. Ada apa kamu menelpon?" Tanya Daniel, meski barusan sudah tahu dari pak Judi bahwa adiknya sedang kritis. Daniel sama sekali tidak tahu keadaan adiknya yang kini sedang hamil. Sudah hampir sembilan bulan lebih memang Daniel tidak bertemu dengan Ana. Dan Daniel yang sama sibuknya, sama sekali tidak curiga dengan apa yang sedang dialami Ana selama ini.


"Maaf tuan Daniel. Mmm... saya mau bicara sama tuan besar. Ini penting sekali." Jawab Jo menahan diri untuk tidak berkata yang sebenarnya.


"Iya.. ada apa? Papih lagi bicara dengan pak menteri. Masa iya aku harus menerobos?" Jawab Daniel agak ketus.


"Kalau sama nyonya?" Tanya Jo lagi. Berharap nyonya besar bisa bicara dengannya saat ini.


"Sama. Mamih juga sedang di dalam menemani papa. Ada apa sih? Katanya Ana kritis. Apa Ana sedang sakit?" Tanya Daniel tak sabar. Dia berharap Jo segera menjawab dengan cepat.


"Mmm... maaf tuan Daniel. Gimana ya?" Jo bingung. Antara harus mengatakan atau tidak. Sekarang Jo seperti sedang dihadapkan dengan buah simalakama.


"Ya udah.. kalau gak ada yang penting, ngapain kamu nelepon?" Ancam Daniel kesal. Apakah pengawal adiknya itu menganggap dirinya tidak penting sehingga menahan diri untuk tidak bicara terus terang.


"Maaf tuan Daniel... mmmm... nona Ana... nona Ana." Jo masih kelu untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Iya.. ada apa dengan Ana?" Setahu Daniel Ana jarang sekali membuat masalah. Jadi dia sangat penasaran kenapa Jo malah kebingungan untuk bicara.


"Ya sudah.. aku tutup teleponnya." Ancam Daniel hendak menutup sambungan telepon.


"Nona Ana... kritis di rumah sakit." Jo akhirnya tak bisa menahan lagi rahasia yang harusnya dia jaga.


"Apa??? Kenapa dengan dia? Lalu sekarang ada di rumah sakit mana?" Cemas Daniel akhirnya menempelkan handphonenya kembali di telinga. Rungunya begitu tertusuk mendengar adiknya sedang berada di rumah sakit dalam keadaan kritis. Daniel agak kaget, pasalnya memang dirinya tidak mendapat kabar apapun sebelumnya.


"Di rumah sakit xxx kota xxxx Korea." Jawab Jo agak sungkan.

__ADS_1


"Lah... kenapa ada disana? Memangnya Ana sedang piknik?" Daniel menyangka Ana sedang liburan di Korea. Sekian lama tidak bertemu, tiba-tiba adiknya berada disana.


"Maaf tuan... bisakah anda datang secepatnyasecepatnya? Kalau tidak.. " Jo menjeda ucapannya.


"Kalau tidak kenapa?" Daniel masih bingung dengan yang diucapkan Jo.


"Nona Ana... bisa meninggal." Jawab Jo tak kuasa mengatakan hal itu.


"Apa???" Daniel tanpa sadar sudah meninggikan suaranya.


"Sstt... " Tuan Judi menepuk bahu Daniel untuk mengingatkan.


Daniel sebentar menoleh ke arah pak Judi, lalu tersadar dengan kesalahannya.


"Baik.. aku akan ke sana sekarang." Ucap Daniel langsung menutup teleponnya. Dia tak bisa menunggu orang tuanya selesai meeting. Dia harus mengambil tindakan lebih awal untuk menemui Ana di Korea.


Daniel merogoh benda pipih mikiknya. Lalu menekan nomor seseorang.


Meski perjalanannya ke negeri gingseng tak bisa ditempuh dengan cepat, setidaknya dia harus gerak cepat. Dia juga tak lupa menelepon sekretarisnnya untuk meng-handle semua pekerjaan selama dia pergi. Dan menyuruhnya untuk memesan tiket ke negeri gingseng dengan penerbangan paling awal.


"Pak Judi.. tolong katakan pada mamih dan papih buat menyusul jika meeting nya sudah selesai! Ana kritis di sana. Aku duluan berangkat ke bandara. Aku sudah menyuruh istriku mengambilkan paspor dan bertemu di bandara agar semuanya bisa cepat." Daniel langsung berlari dari ruangan yang sedari tadi sedang menunggu ayah dan ibunya melakukan meeting.


Pak Judi mengantuk. Mengiyakan apa. yang dikatakan Daniel barusan.


Daniel pun berlalu ke luar dari gedung menuju area parkir. Dengan diantar sopirnya kini dia sedang menuju bandara. Istrinya pun sudah menunggu di sana setelah tadi Daniel menyuruhnya membawakan beberapa surat-surat penting untuk keberangkatan nya ke negeri ginseng. Sepanjang Jalan Daniel terus berkomunikasi dengan Jo memantau dan menanyakan keadaan Ana.


Tapi Jo sama sekali tidak menyinggung penyebab Ana kritis. Dia hanya mengatakan Ana sakit.


Tak lama kemudianDaniel sampai di bandara lalu segera menemui istrinya.


"Ada apa yang..? Kok buru-buru? Memangnya ada acara dadakan?" Tanya sang istri melihat Daniel yang baru saja menghampirinya.

__ADS_1


"Mmm... katanya Ana kritis. Aku harus segera pergi kesana." Jawab Daniel lalu mencium pucuk kepala istrinya.


"Kritis? Kritis kenapa? Lalu Ana sedang ada dimana? Kok papih sama mamih gak pernah cerita?" Beberapa pertanyaan langsung diutarakan istrinya Daniel. Pasalnya selama ini sang mertua tidak terlihat cemas ataupun menyinggung Ana.


"Aku juga tidak tahu pasti. Papih sama mamih juga tidak tahu karena masih meeting. Setidaknya aku akan pergi lebih dulu sebelum terjadi apa-apa pada Ana." Jawab Daniel yang memang tidak tahu apa-apa. Dan dia tidak mungkin bertanya pada kedua orang tuanya apa yang sedang menimpa Ana sekarang.


"Ya.. Hati-hati yang! Semoga Ana tidak apa-apa. Kalau ada apa-apa, kabari aku secepatnya ya!" Ucap sang istri memeluk Daniel untuk perpisahan.


"Iya. Kamu juga hati-hati juga ya! Aku pergi dulu!" Daniel mencium kening istrinya lalu pergi meninggalkan bangku loby untuk masuk ke dalam.


Sementara itu Mira dan Jo masih setia menunggu di rumah sakit. Dokter belum keluar dari dalam ruangan karena masih menangani Ana.


"Jo... apa tuan besar dan nyonya sudah bisa dihubungi?" Tanya Mira cemas.


Jo menggelengkan kepalanya.


"Aku jadi takut Jo. Tadi sebelum melahirkan anaknya nona sudah mengucapkan kata perpisahan padaku. Aku jadi takut Jo kalau nona Ana akan meninggal. Firasatku tidak enak." Mira memegang dadanya. Wajah kusut juga bingung memenuhi auranya. Sebagai manusia biasa, dia merasakan kecemasan.


"Kita berdoa aja. Semoga nona Ana selamat." Jawab Jo yang sebenarnya dia sama takutnya juga. Tapi dia tak mau terlihat lemah.


"Terus bagaimana nanti kalau tuan Daniel datang? Apakah kita harus bicara terus terang?" Tanya Mira cemas.


"Aku sedang menunggu jawaban tuan besar. Mudah-mudahan dalam satu jam ini tuan besar ada menghubungi kita. Karena kita tidak bisa mengambil tindakan gegabah. Kalau tidak, kita nanti yang akan disalahkan." Jawab Jo lebih hati-hati.


"Kasihan nona dan bayi itu. Bayi itu sangat lucu sekali. Sayang dia harus dibuang dari kehidupan nona. Nona sendiri sekarang diambang kematian. Aku jadi kasihan sekali sama mereka Jo." Mira menatap kosong ke arah depan memikirkan nasib dua manusia yang menjadi tanggungjawab nya.


"Sebenarnya aku juga tak tega membuang bayi itu. Tapi bagaimana lagi? Bayi itu harus segera dibawa setelah selesai diurus perawat


Kita harus menjalankan perintah tuan besar sesuai rencana semula." Jawab Jo patuh pada perintah tuannya.


"Bagaimana kalau aku yang bawa Jo? Aku akan titipkan ke panti asuhan. Aku tak tega membuangnya begitu saja." Mira mengusulkan ide.

__ADS_1


__ADS_2