
Daniel merasakan gerakan halus diatas kepalanya. Semakin lama gerakan itu semakin terasa nyata.
Daniel yang sedang tertidur pun perlahan membuka mata, ternyata gerakan yang dirasakannya bukanlah mimpi.
"Ana.. " Daniel langsung kaget begitu menoleh melihat tangan Ana sedang menjulur mengusap rambutnya.
"Kakak.. " Suara serak juga lirih terdengar di telinga Daniel. Adiknya, Ana... ternyata sudah sadar dari komanya. Dia mengucek mata meyakinkan apa yang sedang dilihatnya.
"Ana.. kau.. sudah bangun sayang.. " Daniel mendekati Ana. Menatap dengan inten wajah Ana yang masih terlihat lemas.
"Iya kak.. ini aku. Apakah kita ada di rumah sakit kak?" Ana melihat ke sekeliling ruangan.
"Iya." Daniel tersenyum. Dia sangat bahagia sekali melihat Ana telah sadar.
"Sebentar kakak panggil dokter dulu ya!" Daniel meminta izin keluar untuk memanggil dokter guna memeriksa Ana.
Ana mengangguk lemah. Dengan matanya yang sayu dia menatap punggung Daniel menjauh dan meninggalkan ruangan itu.
Krekkk...
Suara pintu digeser terdengar tak lama kemudian di telinga Ana. Sepasang bola mata menajam melihat siapa gerangan yang datang dari arah pintu.
"Sayang... " Suara itu sangat dikenal di telinga Ana. Suara yang selama ini dicintainya juga telah melahirkannya ke dunia sama seperti hal dirinya sekarang. Ana telah menjadi seorang ibu, dari bayi yang pernah dilahirkannya, meski sekarang dia tidak tahu akan nasib anaknya.
Tatapan sendu Ana begitu kentara. Tatapan rindu yang teramat dalam akan kasih sayang yang selama hampir satu tahun ini tak dirasakannya. Meski hati kecil Ana menaruh rasa kecewa, tapi rasa rindu yang membuncah, kini mengalahkan rasa kecewanya.
Ibunya Ana juga ayahnya menghampiri Ana dengan wajah bahagia. Tak ada orangtua yang tak sayang meski jalan dan caranya berbeda cara mencintai nya. Setelah satu minggu Ana dalam keadaan koma, mereka tak sabar ingin segera menemui Ana begitu tadi Daniel keluar dari dalam ruangan.
__ADS_1
Daniel memberitahu kedua orangtuanya tentang kondisi Ana sebelum memanggil dokter.
"Mih... pih... " Panggil Ana lirih. Ada rasa sakit dalam hatinya ketika kembali melihat wajah mereka yang setelah satu tahun mereka enggan menemuinya.
"Iya sayang.. " Keduanya kompak menyapa lalu mengelus pucuk kepala Ana dengan lembut.
"Maafkan Ana.. mih... pih.. " Netra Ana menatap wajah mereka bergantian. Ana tak kuasa menahan air mata nya untuk tidak keluar dari sepasang bola matanya yang indah mengurai sebab dalam hati dan mengartikan apa yang tertuang dari segala maksud.
Ibunya Ana mengangguk lembut. Dia tahu, Ana sangat bersedih juga kecewa terhadap mereka, tapi hatinya yang baik malah berucap maaf. Bisa saja Ana membenci keduanya, tapi Ana tak bisa. Hati nurani Ana berkata lain. Rasa sakit ketika melahirkan dan perjuangannya ketika mengandung itu semua membuat Ana mengerti, bagaimana sulit nya menjadi seorang ibu. Dia tidak pernah akan bisa membenci mereka meski kecewa hadir dalam hatinya.
Srekkk
Pintu kembali tergeser, dan semua mata beralih melihat ke arah pintu. Kedua orang tua Ana langsung menegakan badan dan bergeser ke belakang memberi kesempatan untuk dokter juga tim medis untuk memeriksa Ana.
"Bagaimana nona Ana masih terasa pusing?" Tanya dokter bertanya pada Ana.
"Nanti saya resepkan vitamin. Sekarang nona bisa minum dan makan untuk menstabilkan kembali tubuh agar kembali fit." Dokter memberi saran setelah selesai memeriksa Ana. Dia menuliskan resep di sebuah kertas dan memberikan pada perawat untuk menyiapkan vitamin juga obat untuk Ana.
"Terimakasih dok!" Ucap keduanya.
"Sama-sama. Kalau besok sudah baikan, nona sudah diperbolehkan pulang. Makan yang banyak dan cepat pulih ya!" Dokter memberi kabar baik pada Ana juga kedua orang tuanya tak lupa memberi semangat.
Setelah selesai memeriksa Ana, dokter juga para perawat. keluar dari dalam ruangan Ana. Daniel. kembali masuk setelah dokter keluar dari dalam ruangan.
"Bagaimana dengan kondisi Ana?" Daniel tak sabar mendengar kondisi Ana. Tadi Daniel sengaja menunggu di luar agar dokter leluasa memeriksa Ana karena di dalam sudah ada kedua orang tuanya.
"Semuanya baik. Kalau besok sehat, Ana sudah diperbolehkan pulang." Jawab ibunya Ana menoleh ke arah Daniel.
__ADS_1
"Baguslah. Kamu semangat ya Ana! Apa kamu mau minum?" Daniel menawarkan Ana minum. Dia melihat Ana membasahi bibirnya yang kering dengan lidahnya. Mungkin Ana kehausan setelah satu minggu lamanya terbaring di atas blangkar tanpa ada yang masuk ke dalam bibir nya.
Ana mengangguk mengiyakan. Memang benar, rasanya air liur Ana pun ikut mengering. Kerongkongannya begitu terasa sakit karena kekeringan tanpa ada minuman yang selama satu minggu ini masuk ke dalam mulutnya.
Daniel pun menyodorkan satu botol air minuman mineral yang sudah diberi sedotan agar memudahkan Ana meminumnya sambil terbaring. Tak lupa Daniel pun sedikit mengganjal tubuh Ana agar nyaman menyandarkan tubuhnya ke belakang.
Segar rasanya setelah Ana menarik air dari sedotan dan mengaliri kerongkongannya dengan air itu. Rasa yang kering pun berganti menjadi basah meski belum sepenuhnya terasa menyegarkan tubuhnya. Butuh waktu sedikit demi sedikit untuk mengembalikan stamina tubuhnya.
Ana melihat satu persatu wajah yang ada di depannya. Dia seperti penasaran, ada yang ingin ditanyakan pada mereka.
"Mmm... mih.. pih.. kak... bolehkah aku bertanya sesuatu pada kalian?" Tanya Ana hati-hati.
"Mmm... tanyakanlah!" Daniel tanpa beban menjawab. Berbeda dengan kedua orang tuanya yang langsung memasang raut wajah tegang.
"Mmm... bagaimana dengan kondisi anakku? Apa. dia sehat?" Meski anak yang dilahirkan Ana di luar nikah, Ana merasa bahwa anak itu tidak bersalah apapun. Dia penasaran karena tak ada ranjang bayi atau apapun yang menandakan keberadaannya.
Daniel melihat ke arah ayah dan ibunya. Dia tak bisa menjawab apapun. Dia tidak tega menyampaikan kabar duka pada Ana. Dia memilih terdiam dan memberikan kesempatan pada kedua orang tuanya untuk menjelaskan nya.
Ibunya Ana dan ayahnya saling menatap, lalu tak lama kemudian ayahnya Ana mengangguk memberikan kesempatan pada istrinya untuk bicara pada Ana langsung.
"Ana... kami mohon maaf. Karena anak itu tidak bisa tertolong sewaktu kamu melahirkan. Ketika dokter menghadapkan pada dua pilihan yang sulit, pada kami, terpaksa kami memutuskan, maka waktu itu untuk memilih kamu Ana." Ibunya Ana sangat hati-hati memilih kata agar Ana tidak kecewa.
Ana terdiam mencerna apa yang barusan didengar nya. Rasa sedih kini bergelayut di wajah Ana.
"Terima kasih untuk kalian untuk memilih ku." Ana tertunduk. Kedua bola matanya kembali meneteskan air mata tanpa bisa dicegah. Ana tergugu terisak menahan rasa sedih.
Daniel segera memeluk Ana. Butiran-butiran bening berjatuhan saling menyusul. Daniel mengusap bahu Ana lembut tanpa tahu harus berkata apa.
__ADS_1