Skandal Pernikahan Idol

Skandal Pernikahan Idol
Misi penyelamatan


__ADS_3

"Baik." Jawab sopir taxi mengikuti perintah Jeco.


Mira yang membawa keranjang bayi tidak mencurigai bahwa mobilnya diikuti. Bahkan pandangannya selalu terbagi antara melihat jalanan dan bayi itu.


"Kamu bayi yang lucu. Tapi sayang nasib kamu tidak beruntung. Maafkan aku! Aku hanya bisa menolongmu sebisanya. Selebihnya kamu harus berjuang sendiri. Jika hidupmu beruntung kamu akan jadi orang sukses. Dan aku berharap pengorbanan aku tidak sia-sia." Ucap Mira pada bayi merah yang masih belum mengerti apa yang baru diucapkannya.


"Oek... oek..." Bayi itu tiba-tiba menangis.


"Sst... kamu jangan nangis sayang... kita belum sampai tempat tujuan." Ucap Mira kembali.


Tapi anehnya bayi itupun menurut seolah mengerti apa yang diucapkan Mira. Tangisnya terhenti dan dia kembali tidur terlelap dalam sebuah keranjang.


"Good boy!" Mira tersenyum senang melihat bayi itu tak lagi menangis. Karena jika dia menangis, Mira harus menghentikan perjalanan untuk meredakannya. Kebetulan Mira hanya seorang diri dalam mobil itu. Otomatis kalau ada apa-apa dengan bayi itu, dia harus menanganinya sendiri.


Jantung Jeco yang baru saja tenang sekarang kembali berolahraga. Ketegangan menyelimuti seluruh wajahnya. Untungnya dia memakai masker dan juga topi sehingga wajah tegangnya tidak dapat dilihat oleh siapapun.


"Mudah-mudahan aku tak mendapatkan masalah." Ucapnya dalam hati. Takut kalau pengintaian nya diketahui Mira atau yang lainnya.


Mobil yang sedang ditumpangi Jeco masih mengikuti mobil yang berada di depannya. Meski tidak kencang, tapi lumayan juga tidak lamban. Mungkin karena Mira membawa bayi dia berusaha mengendalikannya dengan tenang.


Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai Mira mengarah ke satu bangunan dimana di depannya terdapat papan nama 'panti asuhan'


Mobil yang dikendarai Mira pun masuk ke dalam bangunan itu.

__ADS_1


"Pak.. kita berhenti di sini!" Ucap Jeco pada sang sopir.


"Baik." Sang sopir pun patuh menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang lumayan tidak terlalu dekat dengan gerbang bangunan panti asuhan yang baru saja dimasuki oleh Mira. Tujuannya agar tidak membuat kecurigaan pada Mira juga yang lainnya atas pengintaian yang Jeco lakukan.


Setelah memarkirkan mobil dengan rapih di halaman yang cukup luas, Mira pun menghentikan mesin mobilnya. Lalu membuka sabuk pengaman dan menoleh ke arah ke ranjang.


"Kamu benar-benar baik boy! Persis ibumu yang selalu patuh. Mari kita ke tempat baru dimana kamu akan punya banyak teman juga kebahagiaan!" Ucap Mira dengan senyum, meski yang diajak bicaranya adalah seorang bayi merah yang masih tertidur.


Tanpa diduga kedua ujung bibir bayi itu mengangkat seperti sedang membalas tersenyum.


"Eh.. senyum.. " Mira menatap gemas bayi itu lalu replek jari-jarinya meraih pipi gemas tambun bayi itu lalu menyentuhnya dengan halus. Mira pun ikut tersenyum melihat respon bayi lucu yang kini sedang berada di depannya.


"Ah.. kenapa kamu lucu sekali boy? Membuatku tak tega menyimpan kamu disini. Jangan buat aku tersentuh boy!" Ucap Mira memprotes pada bayi lemah yang sedang ditatapnya. Hati nurani Mira tak bisa bicara bohong.


"Ah.. aku tidak boleh lemah pada bayi ini!" Mira langsung menegakkan badannya lalu keluar dari bangku kemudi, menguatkan diri untuk tidak berlarut pada rasa ibanya. Lalu memutar membuka pintu yang satunya lagi untuk membawa keranjang bayi meski terasa berat di hati.


"Ish.. kenapa kamu sekarang menangis?" Mira menatap bayi itu dengan mata penasaran. Hati dan akal berperang antara tidak tega dan harus tega, Mira pun melangkahkan kakinya menuju ke dalam panti dengan menenteng keranjang bayi yang masih terdengar suara tangisan.


"Loh... bayinya menangis?" Suara wanita paruh baya muncul begitu Mira masuk di ruangan yang biasa menyambut para tamu. Lalu pandangannya beralih ke ke keranjang bayi yang sudah diletakan di atas meja disusul dengan kedua tangannya yang langsung mengangkat bayi merah itu ke dalam dekapan nya. Mata ketulusan terpancar menatap bayi tak bersalah itu. Ya layaknya seorang ibu pada anaknya.


Mira yang tidak punya pengalaman mengurus bayi hanya melihat saja tanpa tahu harus berbuat apa. Dia hanya bisa memperhatikan apa yang dilakukan wanita paruh baya itu dengan khusyuk.


"Cup.. cup.. " Bayi yang masih dibungkus kain pernel itu pun didekap kepala panti dalam dadanya. Dia tersenyum manis sambil menatap bayi itu seolah sudah kenal lama. Mulut bayi yang sedang di dalam gendongan pun sedikit terbuka mencari-cari sesuatu yang bisa disentuh oleh mulutnya. Insting bayi yang merasa kelaparan terlihat jelas sedang mencari sesuatu yang bisa masuk ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Duh.. sayang... dia kelaparan.. " Ucap kepala panti melihat gerakan mulut mungil ke kiri dan ke kanan.


"Maaf saya tinggal dulu untuk membawa susu untuk bayi ini. Dia rupanya haus dan lapar." Kepala panti yang sudah berpengalaman puluhan tahun mengurus anak yatim piatu, tentu tahu betul kalau bayi yang sedang didekapnya membutuhkan air susu untuk rasa laparnya.


"Iy.. iya baik." Mira mengangguk melihat punggung perempuan itu masuk ke dalam untuk membawakan susu sambil menggendong bayi yang baru saja disimpan di atas meja


"Ah.. semoga kamu betah disini ya! Aku tak bisa berbuat banyak untukmu bayi kecil. Semoga suatu hari nanti kamu tidak menyalahkan ku atas perbuatanku ini." Mira bergumam sendiri untuk rasa bersalahnya.


Tak lama kemudian kepala panti sudah kembali ke ruang tamu dengan sebotol susu yang sedang di masukkan ke dalam mulut bayi lucu itu. Dengan lahapnya bayi itu menghisap susu dari botol yang baru saja diberikannya. Rupanya dia benar-benar kelaparan.


"Wah.. lapar ya sayang?" Ucap kepala panti sambil menatap wajah bayi itu. Dia merasa senang melihat bayi itu kini menyusu. Lalu dia melangkahkan kakinya dan mendaratkan pantatnya kembali di kursi sofa yang ada di ruangan itu.


"Dia mau minum susu nyonya?" Tanya Mira menggeser duduknya mendekati kepala panti untuk melihat bayi itu. Rupanya dia penasaran apa yang sedang dilakukan bayi itu.


"Mmm... dia bayi yang lucu. Lihat matanya dia sedang menatap ke arahku?" Ucap kepala panti pada Mira. Dia senang melihat bayi itu asik menghisap susu dari mpeng karet yang ada di botol susu sambil menatapnya.


"Iya ya.. lucu sekali. Sungguh menggemaskan." Jawab Mira ikut menatap bayi itu dengan perasaan senang juga gemas.


"Mmm... kamu tahu kenapa semua bayi itu selalu terlihat menyenangkan?" Tanya kepala panti menoleh ke arah Mira.


Mira menggelengkan kepala.


"Bayi yang lahir ke dunia itu bersih dari dosa. Meski kedua orang tuanya adalah pendosa sekalipun. Dia adalah penggembira dan obat dari rasa sakit seorang ibu. Seorang ibu dengan mudahnya melupakan rasa sakit melahirkan begitu dia melihat bayi yang dilahirkannya. Itulah karunia Tuhan pada manusia. Jadi.. alangkah buruknya jika ada orang yang mau membuang bayi bahkan membunuhnya." Ucap kepala panti pada Mira.

__ADS_1


Mira yang mendengarkan penuturan kepala panti mengerutkan dahi. Dia baru tahu jawaban itu sekarang.


"Maafkan aku nyonya... aku tidak tahu harus berbuat apa untuk menyelamatkan bayi ini. Hanya ini yang aku bisa nyonya. Aku tak tega kalau aku harus membuang bayi ini. Dan aku juga tidak punya pilihan lain selain menitipkan dia padamu." Ucap Mira meneteskan air mata, karena hati kecilnya merasa tersentil. Sebagai seorang wanita rasa sedih juga menyesal mendera perasaan Mira saat ini. Dia tidak tahu harus bagaimana. Satu sisi rasa kemanusiaannya berkata 'dia harus menyelamatkan bayi itu' dan sisi lain dia harus setia pada majikannya saat ini.


__ADS_2