
"Jeco, apakah kamu sudah agak baikan?" Tanya sang manager yang sedari tadi terus melihat jam di lingkaran lengannya.
"Ya..aku sudah agak baikan. Mari kita pergi!" Ucap Jeco cukup tahu diri dengan kecemasan sang manager. Karena jika dia harus menunggu habis isi infus, itu tak cukup waktu.
"Apakah kamu tidak apa-apa jika kita memutuskan untuk segera pergi?" Tanya Rei mengajukan hal yang sama dengan sang manajer.
"Tak apa. Aku sudah agak baikan kok." Jawab Jeco yang kini sudah merasa agak baikan dibandingkan sebelumnya. Rasa mualnya yang selama ini dideritanya juga mendadak hilang.
"Tapi... apakah boleh kalau nanti aku kembali lagi ke rumah sakit ini?" Tanya Jeco agak mengejutkan sang manager.
Sang manajer mengerutkan kening. Lalu tangannya beralih meraba kening Jeco. Dia rasa suhu badan Jeco sudah normal. Tapi dia masih heran kenapa Jeco meminta kembali ke rumah sakit. Apa dia merasakan sesuatu sehingga perlu kembali ke rumah sakit. Pikiran sang manager sedang berputar-putar memikirkan artis asuhannya.
"Baik. Jika itu yang kamu mau. Apa kamu merasa sakit Jeco?" Tanya sang manager.
"Ya.. aku ingin beberapa pemeriksaan. Sepertinya ada yang kurang sehat dengan badanku. Tapi itupun kalau tidak memberatkan. Aku bisa pergi kesini sendirian nanti. Aku tahu setelah ini ada beberapa acara yang mesti kau tangani." Jeco sedang mencari celah agar dia kembali ke rumah sakit tanpa hambatan juga kecurigaan.
"Baiklah. Nanti aku pikiran." Sang manager pun menyuruh perawat mencabut selang infus yang masih tersisa banyak. Dia memutuskan untuk secepatnya datang ke tempat acara. Karena panitia tidak bisa mengubah waktu yang telah mereka rencanakan.
Jeco, Rei juga managernya berangkat ke tempat acara. Sepanjang perjalanan pandangan Jeco seperti kosong. Dia memikirkan apa yang terjadi dengan Ana. Dia belum bisa tenang kalau belum melihat Ana juga anaknya. Apakah anak yang dikandung Ana adalah anaknya atau bukan. Dia perlu membuktikan secara medis. Tapi sisi lain Jeco takut kalau ketahuan dia mempunyai kasus.
"Kamu... melamun terus Jeco?" Rei yang dari tadi memperhatikan Jeco menatap curiga.
"Tidak. Mungkin karena tubuhku masih lemah jadi pikiran ku sulit fokus." Jawab Jeco menyembunyikan kegugupan nya di depan Rei.
"Ya sudah nanti aku antar jika kamu ingin kembali ke sana. Atau cari rumah sakit yang lebih dekat saja bagaimana?" Rei tak bisa membiarkan Jeco sendirian apalagi di Korea Jeco tak ada kerabat ataupun yang dekat dengannya selain dengan dirinya.
"Ga ga usah. Kamu sibuk. Jangan sampai nanti image kita buruk di depan manager. Kita sudah berjuang cukup jauh sampai titik ini. Jangan sampai karirmu ikut-ikutan terganggu. Biar aku sendiri yang sakit!" Jeco tak mau Rei pun mengetahui kelemahannya juga aibnya.
__ADS_1
"Baik. Kalau itu yang kamu inginkan. Aku akan bersamamu jika kamu membutuhkanku." Rei menepuk bahu Jeco sebagai bentuk dukungan untuk menguatkan mentalnya. Jeco mengangguk lalu menggenggam tangan Rei. Dia sangat bersyukur mempunyai sahabat sebaik Rei. Kalau bukan karena dia, mungkin dia akan terlunta-lunta di negeri ginseng tanpa sanak ataupun saudara.
Tak lama kemudian mobil van yang ditumpangi Rei juga Jeco sudah sampai di tempat acara. Mereka langsung turun dengan pengawalan ketat. Sebelum masuk ke dalam ruangan tempat temu fans, Rei dan Jeco masuk ke ruang rias untuk didandani. Meski wajah Jeco sedikit pucat tapi tak mengurangi wajah tampannya sedikitpun.
Setelah siap, mereka pun berjalan ke tempat acara. Jeco dan Rei nampak begitu menarik perhatian. Semua fans langsung menjerit histeris begitu sang artis masuk ke dalam ruangan. Penampilan Jeco dan Rei sangat menarik. Selain tampan alami tanpa operasi, kemampuan mereka juga di atas rata-rata teman se grupnya. Olah Vokal Rei juga Jeco sudah melampaui teman-teman satu grupnya.
Tak terasa acara jumpa fans pun berakhir. Sang manager manager mengarahkan artis-artisnya ke ruang ganti. Begitupun Jeco dan Rei.
"Ah.. akhirnya acaranya berjalan lancar." Ucap Rei menghela nafas lega.
"Mmm." Jeco meraih botol mineral lalu meneguk air itu untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.
"Bagaimana keadaan kamu Jeco? Apa kamu masih terasa lemas?" Tanya Rei memastikan keadaan Jeco.
"Masih terasa lemas sedikit. Eh.. apa. aku sudah boleh meninggalkan tempat? Aku mau melanjutkan perawatan di rumah sakit tadi." Ucap Jeco mencari alasan untuk menutupi tujuannya datang ke rumah sakit.
Jeco berharap dia bisa diizinkan keluar.
Tak lama kemudian sang manager menghampiri Jeco yang sedang memejamkan mata sambil menyandarkan tubuhnya di kursi. Tak dipungkiri kepalanya masih terasa pening. Maklum diet ketat juga minim nutrisi banyak dialami para artis untuk tetap menjaga berat tubuh ideal mereka. Tak jarang dari mereka drop dan berakhir dengan jarum infus.
"Jeco.." Panggil sang manager.
"Ya?" Jeco langsung membuka mata dan menegakkan tubuhnya menoleh ke arah sang manager.
"Kamu... mau melanjutkan perawatan?" Tanya sang manager menatap detai wajah Jeco yang masih sedikit pucat.
"Ya. Itupun kalau diizinkan." Ucap Jeco.
__ADS_1
"Baiklah. Kamu akan diantar sopir. Dan dia akan mengurus mu disana." Ucap sang manager.
"Terima kasih." Jeco membungkukkan badan sebagai rasa terima kasihnya.
"Yes.. " Jeco bergumam dalam hati.
"Kamu tidak mau aku temani?" Rei menghampiri Jeco setelah managernya keluar dari ruangan.
"Tidak. Nanti sore pun aku akan kembali ke mes. Kamu tenang saja! Kalau kita berdua pergi, manager kita akan bingung nanti." Jeco bangkit dari tempat duduknya lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian biasa. Tidak lupa Jeco memakai topi juga masker untuk menutupi wajahnya agar tidak dikenali para penggemar.
"Baiklah. Sembuh ya bro! Aku tunggu di mess." Ucap Rei bertoz ria.
"Jangan lupa hubungi aku ya kalau ada apa-apa!" Jeco berpesan pada Rei sebelum meninggalkan ruang ganti.
"Baik. Kamu tenang saja!" Ucap Rei ikut mengantar sampai pintu.
Jeco berjalan bersama seorang laki-laki yang akan mengantarkannya ke rumah sakit. Dia sopir manajemen yang biasa disuruh-suruh oleh manajer artis. Keduanya pun berlalu menuju tumah sakit tadi dimana Jeco dirawat.
Mobil yang dikemudikan pun sudah sampai di rumah sakit. Sang sopir pun lantas menjalankan tugasnya membantu Jeco mendapatkan ruangan khusus VIP untuk perawatannya. Dan dia kembali ke tempat kerjanya meninggalkan Jeco sendirian di rumah sakit. Pikirnya Jeco sudah aman tanpa ada dia di sampingnya. Karena ada dokter juga perawat yang selalu siap menjaga Jeco.
Jeco pun sudah berganti pakaian layaknya pasien rumah sakit dan melanjutkan perawatan di ruangan setelah dokter melakukan pemeriksaan terlebih dahulu.
Ini kesempatan Jeco untuk meminta bantuan para medis untuk mencari keberadaan Ana di rumah sakit itu.
"Suster.. " Panggil Jeco pada salah satu suster yang masih berada di ruangannya itu.
"Iya?" Suster rumah sakit merasa senang mendapatkan panggilan dari Jeco, karena selain tampan dia tahu ruangan itu pasti disewa oleh orang bukan sembarangan.
__ADS_1
"Bolehkah aku minta bantuanmu?" Jeco mengedipkan mata genit ke arah suster.