
Sementara itu Ana yang terus merasakan sakit di perutnya, menangis tidak tahan. Ternyata rencana operasi cesar gagal total dikarenakan Ana sudah mengalami kontraksi dan pembukaan nya pun relatif cepat.
"Apa sesakit ini melahirkan?" Ucap Ana diselang pembukaan. Ana tak tahan merasakan sakit yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya. Ana jadi teringat akan ibunya. Mungkin sewaktu ibunya melahirkan pun rasanya tak jauh beda dengan apa yang dirasakannya kini.
"Mira... " Panggil Ana pada pengawalnya.
"Iya nona." Mira langsung mendekati Ana yang sedang kesakitan. Tangannya yang sedari digenggam oleh Ana pun semakin terasa dicengkram kuat.
"Bilang pada mama... maafkan Ana.. " Suara Ana terbata-bata. Bahkan bibir nya meringis menahan rasa sakit.
"Sabar nona..Nona harus kuat!" Ucap Mira yang tidak tega melihat Ana seperti itu. Dia merasa kasihan pada Ana. Di saat seperti ini seharusnya ada orang terdekat yang mendampinginya. Biasanya seorang suami atau kedua orang tuanya yang mendampingi seorang perempuan yang sedang berjuang antara hidup dan mati.
Ya perjuangan seorang perempuan melahirkan sangatlah berat. Apalagi ditambah kondisi mental yang lemah seperti Ana sekarang. Dia menahan kesedihan, kesepian juga terbuang selama kehamilannya. Jiwanya begitu tergoncang disaat lemah tak berdaya kedua orang tuanya tak ada disamping nya.
"Kalau aku mati nanti.. tolong titip anakku ya! Kalau mama sama papa tak mau mengurusnya, tolong titipkan di panti saja! Jangan sampai anakku dibuang." Ucap Ana sambil berderai air mata.
"Nona.. nona pasti kuat. Jangan berkata seperti itu!" Mira terus memberi motivasi meski dia sendiri belum punya pengalaman melahirkan. Tapi melihat penderitaan Ana, hatinya ikut sakit. Dia tak ingin Ana kehilangan semangat hidupnya.
"Ini sakit sekali... " Ana memejamkan mata lalu kepalanya bergerak ke kiri ke kanan.
"Dokter... bagaimana ini? Apa bisa dioperasi saja?" Tanya Mira yang tidak tega melihat penderitaan Ana.
"Ini hampir pembukaan tujuh... sebentar lagi bayinya akan keluar. Mohon sabar dan kuatkan pasien!" Dokter menginterupsi Mira. Dan dia pun membimbing Ana agar mengatur nafas juga tidak banyak bicara agar tenaganya bisa fokus untuk melahirkan.
Keringat mengucur memenuhi dahi dan seluruh badan Ana. Di nafas terakhir juga perjuangan yang begitu besar, Ana berhasil mengeluarkan bayi yang dikandungnya dengan selamat.
Dan akhirnya, suara bayi pun terdengar menyeruak di seisi ruangan Ana berjuang antara hidup dan mati dalam melahirkan bayi itu. Apalagi usia sangatlah muda.
Semua badannya terasa lemas. Semua energinya habis untuk melahirkan bayi itu secara normal. Telinga Ana sayup-sayup mendengar tangisan bayi, tapi cahaya di ruangan itu semakin meredup dalam bayangan Ana. Dan Ana pun pingsan setelah melahirkan bayinya.
__ADS_1
"Dokter... Nona kami... " Mira panik melihat Ana terkulai lemas dan menutup mata.
Dokter langsung memeriksa Ana dengan detail. Sebaiknya anda keluar dulu, pasien kritis. Tolong bawakan darah yang sama untuk pasien!" Dokter menginterupsi perawat yang membantunya.
"Dokter.. bagaimana dengan nona kami?" Mira masih berdiri di samping Ana meski dokter menyuruhnya keluar.
"Sebaiknya anda keluar dulu. Kami akan menangani pasien. Di usianya yang muda juga lemah, dia sangat rawan untuk melahirkan secara normal." Ucap Dokter pada Mira selalu wali keluarga yang menemani Ana sejak awal di ruangan itu.
Mira keluar dari dalam ruangan dengan langkah gontai. Dokter dan tim medis sedang menangani Ana yang sedang masuk fase kritis.
"Bagaimana dengan nona Ana?" Tanya Jo panik yang sejak tadi menunggu di luar.
Mira bukannya menjawab, dia malah sesenggukan menangis.
"Mira.... apa yang terjadi dengan nona Ana?" Jo menggoyang-goyangkan bahu Mira ingin tahu keadaan anak dari majikannya. Dengan ekspresi Mira yang sedang menangis bisa diperkirakan anak majikannya sedang tidak baik-baik saja.
"Nona Ana kritis... " Jawab Mira lirih. Dia sangat sedih melihat anak majikannya tergolek lemah di atas blankar yang tidak tahu nasibnya akan bagaimana.
Jo tersentak. Dia panik dengan berita yang dibawa Mira dari dalam. Dia bingung. Bukan hanya karirnya yang akan berakhir, tapi bisa-bisa Mira bersama dirinya akan masuk penjara kalau sampai anak majikannya ada apa-apa.
"Aku telepon dulu nyonya dan tuan." Jo dengan hati bimbang meraih benda pipih untuk menelpon majikannya. Beberapa kali nada panggilan tapi mereka tak juga mengangkat nya.
Sebagai sesama perempuan Mira ikut merasakan hal yang sama. Dia merasakan kesedihan Ana yang selama ini merasa kesepian. Bahkan dia tidak tega melihat anak majikannya hidup seperti itu.
Ditambah sejak tadi Mira meliaht perjuangan nya yang besar melahirkan bayi yang dikandung Ana tanpa dukungan orang terdekatnya. Itu benar-benar membuat Mira sebagai orang yang mendampingi nya selama ini turut hancur. Kata-kata terakhir Ana membuat Mira sangat ketakutan.
"Bagaimana kalau benar nona Ana meninggal Jo?"
Jo yang sedang bolak-balik menekan nomor majikannya menoleh ke arah Mira.
__ADS_1
"Jangan katakan itu! Kita berdoa saja! Semoga nona baik-baik saja." Jo memberikan saran pada Mira agar tetap optimistis. Padahal jauh dalam lubuk hatinya dia pun merasa cemas.
"Duh.. kenapa nyonya dan Tuan sulit dihubungi." Keluh Jo melihat layar di depannya hanya menampilkan nada memanggil.
"Ah.. kenapa nyonya dan tuan tega sekali." Mira dengan berurai air mata merasa kesal juga marah atas perlakuan majikannya itu. Seolah tak peduli dengan nasib Ana yang sekarang diujung tanduk.
"Bagaimana ini? Kita tak mungkin membiarkan nona Ana kritis dan kita tidak memberitahu mereka." Jo selain panik, dia juga merasakan hal sama dengan Mira.
"Bagaimana kalau menghubungi kakaknya nona Ana. Kita tak bisa menyerah begitu saja sampai nanti kita juga yang akan disalahkan." Ucap Mira memberikan ide.
"Tapi... tuan dan nyonya sudah berpesan jangan sampai berita tentang nona ada yang tahu." Jo teringat akan pesan majikannya itu.
"Kamu sudah hubungi asistennya tuan?" Tanya Mira sambil menyeka air mata nya.
"Belum." Jawab Jo.
"Coba tanyakan pada dia, mungkin dia bisa menyambungkan pada nyonya ataupun tuan." Mira lagi-lagi memberikan solusi.
"Baiklah. Akan kuhubungi dia." Jawab Jo lalu menekan nomor yang dimaksud Mira.
Tak lama kemudian terdengar suara sambungan aktif.
"Halo." Suara diseberang telepon menjawab. Jo sedikit agak lega bahwa sambungannya bisa terhubung.
"Maaf bisa bicara dengan tuan besar?" Tanya Jo berharap majikannya bisa berbicara dengannya dengan cepat.
"Maaf... ini dengan siapa ini?" Tanya asisten ayahnya Ana.
"Aku Jo. Pengawal putrinya, nona Ana." Jawab Jo.
__ADS_1
"Oh.. maaf... tuan besar dan nyonya sedang ada meeting dengan pejabat negara. Aku tak mungkin menyampaikan telepon ini sekarang. Tunggu saja sekitar setengah jam sampai satu jam lagi." Ucap sang asisten.
"Apa??? Tapi ini penting sekali. Nona Ana sedang kritis."