
"Siapa yang telah menghamilimu sayang? Ayo katakan pada mama!" Nyonya Susi berusaha selembut mungkin agar Ana mau berterus terang mengenai kehamilan Ana.
Tuan Bertrand yang mendengar anaknya hamil tentu tidak bisa menguasai emosinya. Makanya dia menyuruh istrinya untuk melakukan mediasi. Dia hanya berdiri di dekat jendela dengan menaruh satu tangannya di dada dan satunya lagi memijat-mijat keningnya.
Ana yang ditanya oleh ibunya hanya diam. Matanya terlihat mengembun. Dia tak bisa menjawab siapa ayah dari bayi itu. Dia sama sekali tidak ingat siapa yang melakukan hal itu padanya. Hanya satu yang dia ingat, bahwa Jeco pernah bersamanya di satu apartemen, tapi dia tak bisa mengingat sedikitpun apa yang dilakukan Jeco sebelum dia sadar waktu itu.
"Ana.. ini bukan main-main. Lama kelamaan perut kamu akan terlihat, anak di dalam perut kamu butuh ayah biologis. Apa kamu mau anak kamu tanpa ayah?" Nyonya Susi, membujuk Ana agar berbicara jujur.
"Ana tidak tahu mih.. pih.. " Sesudah Ana diberi minuman itu Ana pingsan dan tidak tahu siapa yang menghamili Ana." Ucap Ana jujur. Dia tak mau menduga-duga siapa yang telah melakukan hal itu padanya.
"Kurang ajar! Aku akan balas semua perlakuan dia setimpal dengan perbuatannya." Geram tuan Bertrand marah-marah. Sebenarya Anita sudah masuk penjara karena dia dijebak Jeco untuk balas dendam. Tak ada satu pun yang tahu apa yang dilakukan Jeco pada Anita waktu itu. Akhirnya dia masuk penjara karena kedapatan membawa narkoba dan menjadi pemberitaan publik.
Ayahnya Ana malah belum melakukan apapun pada Anita. Setelah mendengarkan laporan dari Ana mengenai putra pejabat itu, dia semakin geram. Dia ingin sekali menghancurkan anak itu seperti dia menghancurkan masa depan anaknya. Tapi dia bukan tipe orang yang seperti itu, dia akan membalasnya dengan cara lain. Dia tidak akan memberikan lagi dukungan financial pada pejabat itu. Biar dia merasakan kesusahan.
Nyonya Susi menghentikan pertanyaannya pada Ana.
"Mamih kecewa sama kamu Ana. Padahal dengan prestasi kamu, masa depan kamu masih panjang. Kenapa kamu memilih hidup seperti ini Ana?" Sepertinya nyonya Susi sedang menahan marah pada Ana. Selama ini pasangan suami istri itu hampir tidak pernah memarahinya. Tapi entah melihat keadaannya sekarang semua kebanggaan hancur sudah. Anak emas yang selalu dijaganya malah kecolongan hamil di luar nikah tanpa tahu siapa ayah biologisnya.
__ADS_1
"Maafin aku mih!" Ana meneteskan air mata tak kuasa melihat ibunya dirundung kecewa karena melihat keadaannya.
"Mulai sekarang kamu akan hidup terpisah dari mamih dan papih. Mamih tidak mau mengakui anak yang ada di perut kamu itu. Karena kamu tidak bisa mengatakan siapa ayah biologisnya." Nyonya Susi langsung berdiri dari kursi meninggalkan ruangan rawat inap dimana Ana dirawat.
"Mih.. " Tuan Bertrand mengikuti langkah istrinya. Dia tahu istrinya sangat sedih melihat kondisi anak kesayangannya seperti itu. Tuan Betrand langsung memeluk istrinya di luar ruangan. Nyonya Susi langsung menangis menumpahkan segala isi hatinya pada suaminya itu.
"Apa salah mamih pih? Apa salahku sampai anak kita seperti ini?" Lirih nyonya Susi.
"Sabar mih. Kita tak boleh kalah dengan keadaan. Mamih harus tenang. Apalagi Ana sedang mengandung dan tidak boleh stress. Kalau ibu hamil stres bisa-bisa dia nekad mih." Tuan Betrand pun sangat kecewa pada keadaan anaknya seperti itu. Tapi dia boleh larut dalam kekecewaan. Ana masih mempunyai masa depan yang panjang.
"Kita harus bagaimana pih?" Tanya Nyonya Susi. pada suaminya. Dipandanginya wajah suaminya, dia sedang mencari jawaban atas masalah Ana. sekarang.
"Diasingkan? Apa tidak terlalu keras pih?" Nyonya Susi sebagai ibu pastinya tetap hatinya tidak tega kalau harus menghukum anaknya seperti itu.
"Biar Ana lebih belajar mandiri mih. Kalau tidak dia akan kekanak-kanakan terus. Dia harus bisa menjaga diri tanpa kita. Itu akibat kita selalu memanjakan dia selama ini. Jadi dia bahan bullyan di sekolah."
"Tapi bagaimana nanti kalau mamih kangen? Apa. papih juga tidak kangen?" Tanya nyonya Susi. yang belum bisa melepaskan begitu saja Ana. Meski dia sering meninggalkan Ana karena kegiatan bisnis, mereka pasti kembali dan tidak pernah putus komunikasi.
__ADS_1
"Mamih.. harus tega. Kalau tidak Ana akan dibully terus-terusan karena tidak mempunyai mental kuat." Ucap tuan Betrand berapi-api.
"Iya.. tapi pih.. Bagaimana nanti dengan anaknya?" Nyonya Susi memikirkan nasib anak yang dikandung Ana saat ini.
"Ana akan melahirkan anak itu. Tapi kita akan membuang anak itu di panti asuhan. Aku tidak mau menanggung anak yang tidak jelas asal-usulnya. Biarkan jika suatu hari nanti ketemu bapak biologisnya, anak itu akan kita berikan padanya. Ana harus tahu anak itu mati." Rencana tuan Betrand membuat nyonya Susi kaget.
"Pih.. bagaimanapun itu kan keturunan kita." Nyonya Susi tidak setuju dengan rencana suaminya.
"Tadi mamih bilang tidak mau mengakui anak itu. Kok sekarang malah berubah haluan? Papih jadi pusing mih!" Tuan Betrand menyangka istrinya tadi bicara serius mengenai tidak akan mengakui anaknya Ana.
"Tadi mamih hanya menggertak saja pih, agar Ana mau mengaku." Jawab Nyonya Susi mengatakan apa yang sebenarnya.
"Apa Ana terlihat akan jujur pada kita? Dari tadi juga tak dapat jawaban. Jadi kita coba dengan jalan ekstrim agar kita tahu siapa ayah bayi itu." Ucap tuan Betrand akan menekan Ana.
"Ya kita coba saja. Tapi kalau bisa pih jangan terlalu sadis. Mamih takut kita malah akan kehilangan Ana. Mamih tidak sanggup pih.. hiks hiks. hiks." Nyonya Susi kembali menangis. Naluri ibu tidak bisa dibohongi. Meski di mulut bilang A, bisa jadi di hatinya adalah B. Itu yang sekarang terjadi dengan Ibunya Ana. Satu sisi dia marah dan kecewa dan satu sisi dia tak ingin kehilangan putri kesayangannya itu.
"Mamih tenang aja! Gimana papih aja deh. Papih juga masih punya rasa sayang sama Ana. Papih mengambil tindakan ini demi kebaikan Ana nantinya mih." Ucap Tuan Betrand sambil mengelus lembut punggung istrinya itu.
__ADS_1
"Janji ya pih! Papih tidak akan main kasar?" Ucap nyonya Susi meminta kejelasan akan tindakan suaminya yang khawatir melampaui batas.
"Iya papih janji. Mamih harus setuju dulu dengan rencana papih sekarang." Tuan Betrand menatap serius netra istrinya. Berharap rencananya berhasil.