
"Ana." Lirih Jeco tak percaya melihat perempuan yang sedang melihat ke arah mobilnya dengan pandangan seperti minta dikasihani. Wajahnya yang sayu menyiratkan banyak beban. Dia heran kenapa Ana sampai ada di negeri gingseng? Apa dia menyusulnya?
Wah gawat. Kalau dia sampai mengejar aku, bagaimana dengan karirku?
Jeco khawatir jika kedatangan Ana akan menghambat karirnya di dunia intertaiment. Hatinya jadi cemas dan tidak tenang melihat keberadaan Ana saat ini. Apalagi setelah dia terlibat hubungan intim dengan Ana. Akankah dia akan menuntutnya? Jeco yang baru saja debut tak mau nama baiknya rusak gara-gara ada tuntutan Ana.
Rei melambaikan tangannya pada Ana. Dia penasaran akankah gadis yang terlihat sedikit culun itu akan melihatnya atau tidak. Rei sedang menguji apakah kaca gelap ini bisa ditembus oleh perempuan yang sedang melihat ke arahnya atau tidak?
Perempuan yang sedang melongo di jendela mobilnya pun ikut melambaikan tangannya seolah dia melihat gerakan Rei. Rei menatap Ana begitu terkejut tak menyangka bahwa dia akan mendapatkan balasan.
Lah.. dia bisa melihatku?
Rei bicara dalam hati melihat reaksi Ana seolah melihatnya.
"Tuh.. aneh kan? Dia seperti melihat aku." Tukas Rei tidak percaya bahwa kaca mobilnya tidak tembus pandang, kini malah bisa dilihat dari luar. Meski sebelumnya dia pun percaya. Tapi melihat reaksi itu mendadak kepercayaannya berubah.
"Masa iya sih?" Jeco jadi ikut-ikutan tak percaya apa yang dikatakan sahabatnya itu. Dia melihat ke arah Rei.
"Kamu mau coba?" Rei agak mundur sedikit ke belakang mengalah agar Jeco mencoba apa yang baru saja dia lakukan. Mata Rei melihat ke arah Jeco.
Mata Jeco terus melihat ke arah netra Ana.
Benarkah kamu Ana? Kenapa kamu ada disini?
Jeco bicara dengan dirinya sendiri. Melihat sosok yang dikenalinya ada di depan mata. Apa jadinya kalau Ana melihatnya. Jeco sedikit ragu untuk mencoba.
__ADS_1
Rei yang kebetulan waktu itu murid pindahan, dan tidak terlalu akrab dengan siapapun, tidak heran kalau dia tidak mengenali Ana. Selain itu juga Rei hanya berada di kls 3 saja satu semester berhubung orang tuanya kembali ke Korea. Dan panggilan untuk audisi keburu datang, sehingga Rei tidak banyak teman juga kenalan selama satu sekolah dengan Ana, termasuk Ana sendiri. Dia kenal dengan Jeco karena kedua orang tuanya sejak dulu sudah berhubungan bisnis dengan keluarga Rei. Jadi tidak salah selama dia bersekolah hanya Jeco yang paling akrab diantara teman-temannya.
"Kamu lihat kan dia terus melihat ke sini?" Rei yang sudah mengalah dengan memundurkan posisi duduknya kini hanya memiringkan kepalanya saja melihat Ana dari kursi.
"Tapi gak mungkin ah." Jeco kembali duduk bersandar di tempat duduknya kembali, tak ingin melihat ke arah luar. Dia juga sebenarnya takut, kalau Ana melihatnya. Dia tak mau Rei curiga kalau dia mengenal Ana.
Ana yang diluar sana sebenarnya tahu kalau di dalam mobil van itu pasti di dalamnya adalah artis-artis korea. Itu menurut cerita teman-temannya dulu. Juga yang dia tahu dari drama-drama yang pernah ditonton nya.
Ana sendiri hanya merasa jenuh harus lama di dalam mobil karena macet. Jadi dia iseng-iseng melihat keluar lalu melambaikan tangannya pada mobil yang berada di sampingnya. Bukan karena dia melihatnya. Cuman entah apa yang membuat antara Rei dan Ana seperti ada ikatan batin. Ketika Rei melambaikan tangannya, seolah itu balasan dari Ana. Padahal dia sama sekali tidak bisa melihat ke dalam mobil van itu.
Rei malah membuka jendela van nya.
"Hai.. " Rei menyapa Ana begitu saja. Wajah Ana yang polos seperti daya tarik tersendiri bagi Rei.
Ana yang disapa kaget. Dia hanya melongo melihat sosok yang muncul di balik jendela. Dia tak menyangka jendela itu akan terbuka dan muncul wajah tampan dengan make up cukup tebal untuk ukuran seorang laki-laki. Dia tersenyum ramah menyapa Ana.
"Ish.. " Rei hanya berdesis. Dia tahu bahwa dirinya sudah melanggar aturan yang sudah ditetapkan Sang manager.
"Ada apa. kalian ribut-ribut?" Sang manager yang dari sedang menerima telepon tidak terlalu jelas apa yang sedang dilakukan Jeco dan Rei di belakang kemudinya.
"Tidak apa-apa. Kami hanya sedang bercanda saja." Jawab Jeco menyembunyikan apa yang dilakukan Rei.
Ana yang masih melihat ke arah jendela pun ditegur Mira.
"Maaf nona. Jangan membuka kacanya!" Mira langsung menutup jendela kaca secara otomatis dari depan. Ana pun menggeser duduknya agak tengah setelah ditegur. Mobil yang berada di jajaran mobil yang Sedang ditumpangi Ana perlahan bergerak. Polisi sudah mengatur kemacetan dengan buka tutup jalan.
__ADS_1
Rei masih memperhatikan mobil Ana yang bergerak perlahan.
"Dia sedang hamil?" Lirih Rei yang melihat perut bagian Ana buncit begitu mobilnya bergerak. Tadi dia tidak melihat bagian tubuh Ana karena posisi Ana sendiri menempel di pintu.
Jeco yang mendengar Rei bicara, menoleh ke arahnya. "Siapa yang hamil?" Tanya Jeco penasaran karena mata Rei masih melihat keluar.
"Cewek tadi yang aku sapa, dia sedang hamil." Jawab Rei melihat ke arah Jeco.
"Apa hamil?" Sekarang Jeco yang kaget sampai suaranya naik satu oktaf.
"Kenapa kamu kaget gitu? Kaya mendengar hantu saja." Rei menatap heran wajah Jeco yang mendadak pucat seperti kaget melihat hantu.
Dada Jeco tiba-tiba berdegub kencang.
Benarkah dia hamil? Apa dia hamil anakku? Apa dia sengaja mencariku untuk meminta pertanggungjawaban dariku?
Wajah Jeco pucat pasi. Tiba-tiba banyak ketakutan berselimut di pikirannya.
"Kamu, baik-baik saja? Wajahmu kok pucat?" Tanya Rei agak cemas, melihat wajah Jeco seperti itu.
"Mmm.. gak pa-pa. Aku.. baik-baik saja kok! Jangan khawatir!" Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori Jeco karena kecemasan berlebih. Dia menjawab dengan gugup membuat Rei agak mengernyitkan dahinya melihat perubahan Jeco yang tidak normal.
"Lebih baik kamu ke rumah sakit saja! Dari pada nanti pas wawancara kamu malah pingsan. Itu pasti mengganggu perfomance kita." Rei memberi saran.
"Kenapa dengan Jeco?" Sang manager yang sudah tidak menerima telepon dari panitia acara, bertanya pada orang yang di belakangnya. Karena pembicaraan Rei dan Jeco kini jelas terdengar.
__ADS_1
"Kayanya kita mesti ke rumah sakit dulu deh. Jeco terlihat pucat begini." Rei memberi keterangan pada Sang manager.
"Baik. Di depan ada rumah sakit. Kita mampir dulu sebentar. Mungkin asam lambung kamu naik gara-gara tegang." Ucap manager yang sudah tahu kelemahan dari masing-masing artis yang dipegangnya.