Skandal Pernikahan Idol

Skandal Pernikahan Idol
Salam perpisahan


__ADS_3

Jeco terbangun lebih dulu. Dia melihat ke samping tempat tidur. Ternyata Ana masih tertidur lelap


"Maafkan aku Ana... aku harap kamu tidak kecewa." Jeco menyesali perbuatannya yang di luar kendali.


Dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.


"Ah.. gara-gara obat laknat itu aku jadi menodai seorang wanita yang tak bersalah." Sesal Jeco.


Dia segera menuntaskan mandinya.


Jeco segera keluar dari kamar mandi dan memakai pakaiannya kembali. Dia menoleh melihat Ana yang masih tidur tenang. Lalu menghampiri Ana dan menyibakkan rambutnya.


Mari akhiri hubungan sesaat ini Ana. Jangan pernah menyesal dan jangan jatuh cinta padaku! Ini hanyalah kecelakaan.


Jeco bergumam dalam hati.


"Ana.. bangunlah! Kita pulang! Kamu mandi dulu!" Jeco harus membangunkan Ana lebih cepat sebelum semua perbuatan nya diketahui orang.


Ana mengerjap. Lalu menoleh ke arah Jeco. Matanya yang rabun tak bisa melihat Jeco dengan jelas. Tapi begitu menyibakkan selimut.


"Awwww... apa ini?" Ana kaget dengan keadaan tubuhnya yang tanpa benang sehelai pun. Dia menarik selimutnya sampai menutupi leher dan melihat ke arah Jeco.


"A.. apa yang.. telah kau lakukan?" Tubuh Ana gemeteran.


"Kamu dalam pengaruh obat yang diberikan Anita. Apa kamu tidak ingat apa yang telah terjadi?" Tanya Jeco sambil kerung.


Ana terdiam. Mengingat-ingat kejadian sebelumya. Tapi dia tak sedikitpun mengingat apa yang telah terjadi dengan dirinya.


"Aku tak ingat apapun." Lirih Ana.


"Ya sudahlah! Kamu jangan ingat apapun. Kalaupun ingat, lupakanlah!" Jeco melengos keluar kamar dan menunggu Ana di sofa sambil berselancar di handphone.


"Ana mencari kacamatanya dan memakainya. Tanpa alat itu dia tak bisa melihat dengan jelas apa yang ada di sekitarnya.Setelah semua nampak jelas Ana turun dari ranjang.


"Aww.. kenapa sakit banget?" Ana meringis kesakitan. Bagian intinya seperi terluka dan tercabik-cabik. Dia berjalan pelan sambil memunguti baju-bajunya. Dia bergerak perlahan menuju kamar mandi dan mengalirkan air hangat di bathtub.


"Apa yang telah terjadi denganku? Kenapa aku bisa seperti ini?" Ana masih merenung di dalam batin memikirkan apa yang sedang dirasakannya.


"Ana.. cepatlah!" Jeco mengetuk kamar mandi, khawatir terjadi apa-apa dengan Ana.

__ADS_1


"Iya. Sebentar." Ana berdiri sambil meringis. Meski bagian intinya berkurang rasa sakitnya tapi Ana masih merasakan ada sesuatu yang mengganjal di bawah.


"Ana.. kamu baik-baik saja?" Jeco terus memeriksa Ana. Dalam hatinya dia sebenarnya takut Ana mengingat sesuatu lalu nekad untuk melakukan sesuatu yang tak terduga.


"Iya.. aku sebentar lagi keluar." Lirih Ana sambil memakai baju.


Tak lama kemudian Ana keluar dengan berjalan agak condong. Jeco memperhatikan Ana yang berjalan seperti itu.


Apa dia kesakitan? Katanya kalau perawan pasti akan merasakan nyeri luar biasa. Ah... kenapa aku harus menodai dia... ini semua gara-gara Anita sang iblis betina itu.


"Aku tuntun Na.. duduklah!" Ana tak menolak pertolongan Jeco. Dia duduk di meja rias.


"Biar aku sisir rambutmu Ana. Aku akan menggunakan hairdryer agar cepat kering." Ucap Jeco yang sudah tidak tenang berlama-lama di apartemen milik Rei.


Tadi dia sudah mengganti sprei dengan sprei baru begitu Ana masuk ke kamar mandi agar Rei tidak curiga ada noda darah di atas sprei. Sprei yang terkena noda sudah dimasukan ke dalam kresek untuk dibawa ke loundry.


"Mm... Terima kasih!" Ucap Ana sambil malu-malu. Dia tak berani melihat ke cermin. Sedangkan Jeco sesekali melihat wajah Ana di cermin sambil mengeringkan rambutnya.


"Mmm.. Ana.." Jeco agak ragu untuk bicara pada Ana.


"Iya." Ana mengangkat wajahnya lalu melihat Jeco di cermin.


Ana terdiam sambil berpikir.


Jangan-jangan dia telah menyentuhku?


Ana berbalik ke belakang melihat Jeco. Sebaliknya Jeco menatap Ana.


Ana ingin melihat kebenaran di mata Jeco.


"Kamu... yang menyentuhku?" Dengan bibir gemetar Ana bicara sambil menatap Jeco serius.


"Mmm.. tapi... itu tidak sengaja. Kita sama-sama dalam pengaruh obat Na.. "


"Maafkan aku... " Jeco langsung bertekuk lutut di depan Ana.


Ana menghela nafas panjang.


"Apa Anita yang membuat kita seperti itu?" Lirih Ana sambil menatap Jeco yang sedang menunduk.

__ADS_1


Jeco hanya mengangguk.


"Mmm... apa kamu mengingat perbuatan kamu padaku?" Ana ingin tahu apakah Jeco juga sama seperti dirinya.


Hening.


Jeco sedang berpikir keras apa yang terbaik yang harus dikatakan pada Ana. Kalau dia mengatakan yang sesungguhnya pastinya dia akan dimintai pertanggungjawaban oleh keluarganya. Padahal Jeco tidak mencintai Ana. Dia hanya simpati dan iba saja pada Ana selama ini.


Sedangkan Jeco pun tak bisa menikah di usia muda. Dia ingin meraih impiannya terlebih dahulu sebelum dia benar-benar menikah. Menikah dengan Ana di usia muda itu hal yang mustahil dia lakukan meski keadaan memaksa. Dia lebih baik di penjara daripada menghabiskan waktu bersama orang yang tidak dicintainya.


"Aku tidak mengingat apapun." Jawab Jeco berbohong. Dia tak berani mengangkat wajahnya takut Ana bisa melihat kebohongan yang dia ucapkan.


"Sudahlah.. anggap kita adalah korban." Ana membalikkan tubuhnya melihat dirinya di cermin.


"Kita rahasiakan kejadian ini sama-sama! Jangan sampai ada yang tahu bahwa... " Ana menggantung bicaranya.


"Aku janji. Aku akan merahasiakannya seumur hidup aku. Mari kita berpisah! Aku besok akan berangkat ke Korea dan tak akan bertemu kamu lagi Ana. Jadi rahasia kita aman." Ucap Jeco meski senang, tapi ini benar-benar membuat dadanya sesak.


"Ka kamu.. pergi ke Korea?" Ana kaget mendengar akan kepergian Jeco. Dari awal Jeco suka membelanya. Ana sudah menyimpan rasa suka pad Jeco sejak saat itu. Tapi.. itu hal yang tak mungkin Jeco balas karena dia tahu Jeco sedang berhubungan dengan Jeni.


Hubungan Jeco dengan Jeni bukan rahasia lagi. Satu sekolah pun sudah tahu hubungan antara keduanya. Jadi buat Ana, menyukai Jeco dalam diam adalah hal terbaik yang dilakukannya selama ini.


"Iya.. aku akan meniti karir di sana setelah kemarin aku lulus audisi. Aku harap... kamu bisa menjaga diri selagi aku tidak ada. Jangan biarkan Anita dan gengnya mengganggu kamu lagi!" Ucap Jeco untuk terakhir kali.


"Mmm.. baik. Aku akan berusaha." Jawab Ana dengan wajah mendung.


"Jeco.. "


"Ya?"


"Apa kamu bisa mengabulkan keinginan aku untuk yang terakhir?" Entah apa yang mendorong Ana untuk berkata seperti itu.


"Apa yang kamu minta dariku?" Jawab Jeco dengan perasaan tak tenang.


"Bolehkah aku men***mu untuk yang terakhir?"


"Apa?" Jeco terhenyak kaget mendengar permintaan Ana.


"Mmm.. kalau tidak bisa tidak apa." Lirih Ana.

__ADS_1


"Baiklah.. biarkan aku yang melakukannya Ana. Karena kamu pantas menerimanya dariku." Jeco tanpa ragu me**** bibir Ana dengan lembut.


__ADS_2