
Rei kembali ke mes dimana masa karantina artis dilakukan. Langkahnya agak lemas. Pasalnya ketika dia masuk ke rumah sakit Jeco malah berbohong. Katanya sakit malah tak ada di tempat. Hari ini pikirannya agak runyam juga. Ayahnya Rei menelponnya dan menyuruh Rei untuk mengundurkan diri dari artis karena dia harus melanjutkan kuliah dan nantinya dia akan melanjutkan bisnis ayahnya di perusahaan.
Tadinya dia ingin bertukar pikiran dengan Jeco. Tapi melihat sahabatnya saja seperti sedang bermasalah. Dia mengurungkan diri untuk bicara masalah dirinya. Apalagi kontrak yang sudah ditandatangani tak bisa diputuskan begitu saja. Kalau tidak dia akan terkena sangsi dan denda yang cukup besar.
"Kenapa? Ada masalah?" Tanya manager yang duduk di samping Rei, dia melihat artis asuhannya itu dengan wajah kusut.
"Aku bingung hyung. Ayahku menuntut aku untuk keluar. Sedangkan kontrak aku saja baru mulai. Apa Hyung ada solusi?" Rei menoleh ke arah samping apakah orang yang selama ini mengurus karirnya mempunyai solusi.
"Mmm... begitu ya?" Sang manager melipat tangannya yang satu di dada dan dan satu tangannya lagi menopang dagu sedang berpikir.
"Nanti aku akan bicara dengan manajemen. Sebenarnya aku hanya mengusahakan sesuatu yang terbaik untukmu. Tapi jika kamu merasa tidak bisa, mungkin posisi kamu agan digeser yang lain. Apa kamu akan keberatan?" Tanya sang manager.
"Aku.. juga bingung Hyung. Satu sisi aku senang berada disini. Tapi satu sisi ayahku menuntut aku untuk melanjutkan bisnisnya. Jadi pastinya aku tidak akan bisa fokus ke depannya jika waktuku terbagi-bagi dengan kuliah." Rei menjelaskan pada managernya tentang kesulitan dirinya dalam memilih karir juga membagi waktu.
"Aku mengerti. Tapi.. kamu juga sudah tahu, jika kamu mengundurkan diri dari kontrak yang sudah ada, pastinya kamu sudah tahu kan konsekuensi yang harus ditanggung?" Manager Lee membalikkan badannya melihat ke arah Rei.
"Mmm aku tahu. Buat ayahku tidak masalah kalau aku harus mengganti denda yang akan dikenakan manajemen." Ucap Rei menyampaikan apa yang ayahnya ucapkan waktu itu. Buat keluarga Rei, uang bukan masalah. Karena bisnis yang dimiliki keluarganya benar-benar takkan habis tujuh turunan.
"Baiklah kalau begitu. Nanti aku akan bicara dengan manajemen. Karena disini aku bukan orang yang berkuasa atas hal itu." Sang manager menepuk bahu Rei.
"Terimakasih hyung. Aku sangat berterima kasih atas kebaikan hyung." Ucap Rei dengan wajah sumringah.
"Baiklah. Sekarang istirahatlah! Aku akan pergi ke rumah sakit melihat Jeco. Mungkin dia membutuhkan baju ganti dan kebutuhan lainnya." Manager Lee berdiri bangkit dari kursi hendak pergi ke rumah sakit.
__ADS_1
"Hyung sudah menghubungi dulu?" Tanya Rei agak was-was.
"Belum. Memangnya kenapa? Kan dia gak kemana-mana. Kenapa aku harus menghubungi dia dulu? Bukankah ketika tadi kamu ke sana dia ada di rumah sakit?" Tanya manager Lee pada Rei menatap agak heran. Karena menurut pikirannya kenapa juga harus menghubungi Jeco dulu. Toh orangnya tidak kemana-mana.
"Mmm.. iy iya.. hyung." Rei menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena mencemaskan Jeco. Khawatir Jeco seperti tadi.
"Ya udah.. aku berangkat dulu! Aku sudah ditunggu di bawah sama sopir." Ucap Manajer Lee hendak melanjutkan langkah nya.
"Iy.. iya hyung. Hati-hati!" Ucap Rei sedikit gugup.
Rei buru-buru merogoh handphonenya menghubungi Jeco. Dia ingin memastikan sahabatnya itu berada di tempat ketika managernya berkunjung ke rumah sakit. Entahlah hati Rei sekarang merasa was-was. Melihat perbuatan Jeco tadi membuat Rei tidak percaya pada sahabatnya itu. Dia tidak tahu apa yang sedang dihadapi sahabatnya itu sehingga membuat skenario harus dirawat di rumah sakit, tapi dirinya malah pergi entah kemana. Tentu itu membuat gelisah Rei saat ini.
Satu sisi Rei mempunyai masalah, yaitu tak bisa melanjutkan kariernya di dunia entertainmen. Satu sisi sahabatnya yang mempunyai kesempatan besar malah bermain-main dengan nasib.
Di lain tempat Jeco sedang menggeret tiang infus dengan mengendap-endap ke arah ruangan dimana Ana sedang dirawat. Tanpa disangka ketiga orang sedang berbincang-bincang di kursi mengenai Ana.
Jeco berdiri tak jauh dari mereka bertiga dan kembali menguping pembicaraan mereka. Jeco merasa beruntung karena dia tak harus cape-cape masuk ke ruangan Ana untuk mengetahui keadaannya. Dari obrolan mereka bertiga Jeco sudah tahu bagaimana keadaan Ana sekarang.
Wajah Jeco tiba-tiba dirundung penyesalan. Padahal tadi dia bertekad untuk tidak peduli. Tapi hatinya menuntun untuk ingin tahu bagaimana keadaan Ana selanjutnya. Dan itu tidak bisa ditolak Jeco sehingga dia kembali melangkah mendekati ruangan Ana.
Di saat Jeco masih berdiri menguping dengan menyandarkan diri di belakang tembok dekat lorong pembatas antar ruangan dia mendengar suara langkah kaki dari belakang. Dan langkah itu semakin lama semakin dekat.
Tiba-tiba jantung Jeco berdetak lebih cepat manakala seseorang dibelakangnya itu menelpon seseorang.
__ADS_1
"Gila.. kemana tuh anak. Aku ke ruangannya dia malah tak ada." Nada kesal terdengar begitu jelas di telinga Jeco
"Hyung..???" Jeco terkejut lalu memejamkan matanya dia tak sanggup jika matanya harus bersitatap dengan managernya. Apalagi kini dia ketahuan sedang tidak ada di ruangannya.
Jeco sedikit bergeser dan membalikkan tubuhnya agar menghadap tembok agar manager Lee tidak mengenali dirinya begitu dia melewati dirinya.
Dan tak disangka manager Lee malah berdiri diantara persimpangan melihat ke kiri dan ke kanan tepatnya di depan Jeco yang sedang berdiri menyembunyikan identitas dirinya. Dia sedang mencari arah yang dicarinya.
Sekujur tubuh Jeco berkeringat deras, jantungnya kian berlompatan ketika managernya berdiri di sana masih berkomunikasi dengan seseorang.
"Ah.. masa iya dia pergi ke kantin?" Suara manager Lee jelas sedang mencari keberadaan Jeco berdasarkan petunjuk dari seseorang yang di teleponnya.
"Ya.. ya.. aku sedang mencarinya. Dan aku akan menyusul nya khawatir dia mendapatkan masalah. Bagaimana kalau ada fans yang mengenalinya? Bisa berabe." Lanjut manajer Lee melihat ke samping kiri. Dia melihat tiga orang yang sedang duduk yang mungkin bisa ditanyainya. Dan benar saja, langkah manajer Lee melangkah ke sebelah kiri dimana disana ada Jo, Mira dan Daniel.
Dan kesempatan itu di ambil Jeco untuk membalikkan badannya dan melangkah setengah berlari untuk kembali ke ruangannya sebelum manajer Lee kembali.
Dan sialnya ketika dia sedang buru-buru dia malah tersandung kaki kursi dan berakhir badannya terhuyung ke depan.
Brukk
Akibat tiang infus terjatuh dan menimpa kursi tentunya itu menimbulkan suara lumayan keras. Belum lagi badan Jeco juga menimpa kursi.
Manager Lee yang baru saja akan melayangkan pertanyaan langsung kaget mendengar suara yang barusan didengarnya.
__ADS_1