
Ana tak mau bersitegang dengan kelompok Anita yang sudah lama mereka membully nya.
Ana langsung membuka botol air mineral lalu meneguknya sampai habis setengah botol. Dia tak berpikir panjang apa yang telah dicampurkan Anita ke dalam air mineral itu. Karena warna airnya masih terlihat bening.
"Ana... " Mata Jeco terbelalak melihat Ana dengan cepat meneguk air itu. Hati Jeco jadi resah setelah melihat Ana meminum air itu. Entah apa yang telah dimasukkan Anita pada botol itu sehingga membuat Jeco was-was. Tak mungkin kalau Anita hanya memberi minum cuma-cuma kalau tidak ada maksud dibalik itu. Karena geng itu senang sekali mengerjai Ana.
Sedangkan geng Anita terlihat ingin tertawa tapi mencoba menahannya. Dia tak ingin ketahuan oleh Jeco, apa yang telah direncanakannya.
Anita sendiri sedikit kaget melihat Ana nekad mau meminum air itu meski ada Jeco yang sedang memperhatikanya.
Ah dasar bego.. ngapain juga dia minum itu? Dikira si Jeco gak bakal muncul. Sial.. gue pasti kena ancam nih sekarang.
Anita bergumam sendiri dalam hati. Dia juga merasa takut, kalau Jeco mengetahui apa yang sudah dimasukkan ke dalam air itu.
Baru beberapa menit reaksi air itu dengan cepat menjalar ke seluruh tubuh Ana. Ana merasakan hawa panas di tubuhnya seperti terbakar. Dia mengosok-gosok tengkuknya dan mengibas-ngibaskan buku yang tadi dipegangnya agar panas yang menyergap tubuhnya bisa menghilang.
Bukannya menghilang, kini badannya malah berkeringat seperti kegerahan. Tanpa Ana sadari Ana telah membuka kancing atas baju seragamnya karena tak tahan menahan gejolak yang menyerang tubuhnya.
Jeco yang sedari awal memperhatikan Ana, menatap curiga Anita.
"Apa yang kau masukan ke dalam air itu Anita?" Nada tinggi yang diucapkan Jeco membuat geng Anita kaget. Spontan mereka mengurut dadanya karena kaget.
Anita hanya menggidikkan bahu. Pura-pura tidak tahu dan tidak mau bertanggungjawab melihat Ana gelisah.
Jeco yang tidak mau ribut, langsung mendekati Ana. Ya Ana sedang kelimpungan menahan sesuatu yang kini bergejolak dalam tubuhnya.
"Bereskan buku kamu Ana!" Jeco memerintahkan Ana untuk membereskan buku-bukunya ke dalam tas.
Ana patuh menuruti apa yang dikatakan Jeco meski pikirannya agak tidak fokus.
__ADS_1
Jeco mendugaa bahwa Ana telah dicekoki Anita dengan satu obat yang Jeco tak mau menebak-nebak sebelum dia menemukan buktinya.
Jeco akan membawa Ana keluar sekolah. Kalau sampai Ana dibiarkan di kelas, takutnya Ana akan kehilangan akalnya lalu nekad berbuat sesuatu di luar kendalinya. Jeco tak mau Ana kena hukuman oleh guru atau parahnya ada laki-laki yang memanfaatkannya di saat lemah.
Ana yang ingatannya jadi setengah tidak sadar, tapi masih bisa mendengar Jeco memasukkan buku-bukunya.
Setelah terlihat selesai, Jeco menarik tangan Ana dan membawanya keluar kelas dengan ceoat. Badan Ana setengah terhuyung terseret tarikan Jeco.
Anita dan gengnya menatap ke arah Jeco pergi. Mereka kaget melihatJeco membawa Ana keluar kelas. Sepertinya mereka akan pulang mendahului jam sekolah. Apalagi sisa air botolnya dibawa Jeco ke dalam tasnya.
Habislah aku...
Anita menepuk jidatnya.
"Aku gerah Jeco.. " Ana mengeluhkan sesuatu yang sedang dia rasakan begitu sampai di area parkir.
"Tahan! Kita pulang saja Ana! Bahaya kamu kalau sampai ada laki-laki yang memanfaatkanmu. Kamu bisa celaka." Ucap Jeco sambil menuntun Ana naik ke motornya.
"Kita akan cari tempat untuk memulihkan kondisi kamu!" Jeco segera menyalakan mesin motornya. lalu menjalankan motornya ke luar gedung sekolah.
Sambil mengendarai motor Jeco sedang berpikir, kemana dia akan membawa Ana. Tak mungkin dia membawa Ana ke satu hotel karena mereka masih berseragam.
Ke rumah? Wah itu sangat tak mungkin. Bagaimana kalau mamanya tahu dia bolos sekolah dan membawa seorang perempuan culun. Itu bakal jadi masalah besar baginya.
"Apartemen Rei?" Jeco menemukan satu ide. Rei mempunyai sebuah apartemen yang dibeli oleh kakaknya atas nama dirinya. Apartemen itu khusus digunakan jika kakaknya sedang liburan di Jakarta. Kebetulan kakaknya Rei sudah lama tinggal di luar negeri.
"Untung aku tahu nomor sandinya." Ucap Jeco perlahan.
Tangan Ana yang sedang berpegangan ke perut Jeco perlahan-lahan tangan itu bergerak menelusuri dada Jeco. Meski tubuhnya terhalang baju seragam, tetap saja Jeco merasakan seperti ada aliran listrik yang menyengat tubuhnya. Badan Ana yang menempel dipunggung Jeco pun ikut terasa aneh di badannya. Meski Jeco pernah punya pacar, tapi Jeco tidak pernah melakukan hal-hal di luar batas apalagi seintim sekarang.
__ADS_1
Hawa panas yang dirasakan Ana menuntut sesuatu untuk di penuhi. Ana bukan hanya menelusuri bagian depan tapi bibirnya malah menggigit punggung Jeco menhan hasrat yang sulit dikendalikan. Jeco yang merasakan ada sesuatu gerakan di badannya tentu saja pikirannya langsung traveling.
Setelah memacu motor sport nya, akhirnya motor Jeco sampai juga di area parkir apartemen Rei. Jeco melepaskan tangan Ana yang sudah melingkar di pinggangnya.
"Kamu turun Ana!" Perintah Jeco pada Ana.
"Aku gak tahan!" Suara seksi setengah ******* Ana begitu jelas di telinga Jeco. Itu membuat bulu kuduk Jeco meremang.
Aish... bisa-bisa aku terangsang sama dia sih? Sadar Jeco. Dia gadis buruk rupa. Meski otaknya seperti Albert Einstein.. tapi ingat, wajahnya mirip tokoh Beti lavea...
Teriak batin Jeco yang berusaha mengingatkan Jeco.
"Ana turun! Lama-lama kamu aku seret, kamu mau?" Jeco agak membentak Ana yang masih menempel di punggungnya.
"Tolong aku Jeco.. aku mau mandi... badanku panas sekali!" Lirih Ana yang sudah tak tahan melawan gejolak aneh yang sedang menyergap tubuhnya.
"Iya.. kamu turun dulu! Aku mau nolong kamu gimana, kalau kamu nempel kaya perangko." Jeco menggerutu. Dia tak bisa bicara halus lagi karena Ana sedang setengah tidak sadar.
Ana dengan lemas menurunkan tubuhnya dari atas motor. Dia langsung bergelayut di tangan Jeco dengan menyandarkan kepalanya di bahu Jeco.
"Kamu jangan begini! Nanti bagaimana kalau ada yang lihat?" Jeco menoyorkan pelipis Ana agar bisa tegak.
"Maafkan... tapi tolong aku sudah tidak tahan!" Ana berusaha untuk mempertahankan kesadarannya walaupun tinggal sedikit.
Mereka berdua menaiki lift. Setelah sampai di lantai yang dituju mereka keluar dari lift lalu berjalan ke arah apartemen Rei.
Klik
Pintu terbuka setelah tombol pintu berhasil dibuka password nya.
__ADS_1
Ana dan Jeco pun masuk ke apartemen Rei.
"Maafkan aku.. Hummppp." Ana langsung mendaratkan bibirnya di bibir Jeco dengan rakus. Hasrat yang menggebu meledak tak bisa ditahannya lagi.