
Ana tak bisa menahan gejolak yang menyerang tubuhnya. Begitu merasa aman dia langsung menyergap Jeco dengan agresif.
Jeco yang menjadi pelampiasan Ana, seakan terbawa arus. Laki-laki mana yang tahan dengan gerayangan Ana yang terus-menerus mendesah meminta sesuatu pada Jeco.
"Ana.. sadarlah!" Meski badan Jeco sudah panas dingin menerima aliran listrik beribu volt, dia tak ingin berbuat lebih.
"Aku gak tahan... " ******* Ana yang terdengar seksi membuat Jeco ikut terangsang
"Sebaiknya kamu mandi! Atau berendam di bathtub ya! Aku bantu mengairi baknya dulu." Langkah Jeco terseret-seret karena terus saja digelayuti Ana.
"Tunggu kamu disana!" Ucap Jeco menyuruh Ana duduk di keramik wastafel.
Ana duduk seperti orang mabok yang tak sadarkan diri. Sebentar-sebentar melenguh sebentar-sebentar mendesah, membuat pikiran Jeco traveling pada hal yang berbau dewasa.
"Airnya sudah siap." Jeco membalikkan badan.
Degg...
Jantungnya seakan mau berpindah tempat. Jeco begitu terhenyak melihat penampilan Ana yang sudah tak berpakaian.
Mata Jeco kini ternodai.
Ini tidak benar Jeco! Jangan tergoda!
Jeco beberapa saat menggeleng-gelengkan kepalanya agar otaknya tetap waras.
Ini kali pertama Jeco melihat aurat seorang perempuan. Sebelumnya Jeco pernah berpacaran tapi tidak pernah melihat apalagi menyentuh perempuan.
"Jeco... please.. tolong aku...!" Ana merangkul Jeco kembali lalu mendaratkan bibirnya. Jeco langsung membalikkan wajahnya agar Ana tidak menyentuhnya
Jeco dibuat lemas dengan aksi Ana yang agresif.
Jangan begini Ana! Aku... aku... bisa khilaf Ana.
Jeco memejamkan matanya tak mau melihat lebih, apa yang ada di dalam diri Ana. Dia hanya ingin menolong Ana semata, tak ingin menodainya sedikitpun.
"An..aku... keluar dulu..." suara Jeco ikut-ikutan tercekat. Lama-lama otaknya ikutan tidak waras jika berlama-lama bersama Ana di kamar mandi.
"Please.. Jeco!" Ana memelas agar Jeco membantu menuntaskan gejolak yang tak bisa ditahannya..
__ADS_1
"Jangan begini Ana! Nanti kamu menyesal! Sebaiknya kamu berendam untuk memulihkan kondisi kamu yang dalam pengaruh obat itu." Jeco menyeret tubuh Ana agar mendekati bathtub.
"Ahh... " Tubuh Ana terhempas ke dalam bathtub. Baju Jeco basah terkena cipratan air dalam bathtub karena Ana tak bisa menguasai tubuhnya.
"Yah... basah deh!" Jeco mengeluh karena bajunya kebasahan. Dia segera melangkah keluar kamar mandi. Dia membuka baju seragam yang dipakainya dan menggantungkan di atas kursi.
"Gila.. brengsek banget si Anita. Bagaimana mungkin dia memberikan obat itu pada Ana. Bagaimana kalau Ana celaka di tangan laki-laki lain? Ssah.. sial akan kubalas kau!" Rutuk Jeco yang tahu apa yang telah diperbuat Anita dan gengnya pada Ana.
Dia mengeluarkan handphonenya untuk mengirimkan pesan pada Rei.
"Rei.. sorry gue pinjem apartemen elu. Gue lagi suntuk nih!" Pesan itu segera terkirim. Terlihat ada centang dua abu di layar handphonenya.
"Ah... dia lagi jam pelajaran kali!" Ucap Jeco yang belum melihat balasan dari Rei.
Tanpa dia sadari karena kerongkongannya haus Jeco mengambil air yang ada di pinggir tasnya. Dia langsung meneguk begitu saja air itu. Padahal air itu adalah sisa yang diminum Ana. Jeco malah menghabiskannya sampai tak bersisa.
"Ah.. seger." Jeco kembali menyimpan botol kosong yang sudah diminumnya di atas meja.
Beberapa menit kemudian. Jeco merasa kulit tubuhnya jadi panas juga.
Kenapa dengan diriku? Kok gerah begini?
Jeco belum sadar kekhilafannya barusan. Semakin lama badannya semakin tidak karu-karuan.
Jeco mulai kegerahan. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya pandangannya seperti agak kabur.
Dia melihat botol yang berdiri setia di atas meja.
Jangan-jangan aku barusan... minum.. sisa air racun itu?...aah.. sial..
Jeco tiba-tiba saja menjadi ceroboh. Dia berdiri agak sempoyongan dan melangkah ke arah dapur. Dibukanya kulkas dan diambilnya air es. Dia meneguk air es agar badannya bisa kembali normal. Namun hasilnya sia-sia. Air es tak mampu meredam obat laknat itu di tubuhnya. Hawa panas yang menyerangnya tak sedikitpun bergeming. Air es yang masuk ke tubuhnya tidak bisa menghilangkan efek obat yang tadi sudah dicampurkan di dalam air botol itu.
"Sialll... " Jeco merutuki dirinya sendiri.
Dia melangkah ke kamar mandi agar tubuhnya bisa dikendalikan. Dia berpikir mungkin dengan mengguyur tubuhnya reaksi itu akan berkurang.
Brakkk
Pintu kamar mandi terbuka lebar. Mata Jeco merah menyala, nafasnya tersenggal-senggal.
__ADS_1
"Ah.. mana air.. mana air.. aku gak tahan... " Jeco berteriak-teriak di dalam kamar mandi.
Ana yang sedang berendam di dalam bathtub sambil memejamkan matanya pun jadi terbangun.
Kacamata Ana yang tadi di simpan di atas nakas membuat pandangan Ana pun lamur tak jelas.
Jeco meraba-raba dinding mencari shower. Akhirnya dia menemukan kran yang menghubungkan dengan shower tempat membilas mandi.
Jeco yang sudah tidak tahan melemparkan begitu saja baju ********** ke area kering. Dia segera mengguyur kepalanya yang seakan mau meledak.
"Ah... " Teriakan itu kembali menggema. Air shower tidak mampu meredam panasnya hawa tubuh Jeco yang seperti cacing terkena matahari. Dengan tubuh basah dan jalan sempoyongan dia mendekati bathtub.
Ana yang sedang berendam di air dingin tak mampu menatap Jeco.
"Ana.. mau kan kita menuntaskan bersama? Aku sangat menderita sekali." Ucap Jeco yang setengah kesadarannya sudah hilang bersama obat laknat itu.
Ana hanya mengangguk patuh.
Jeco yang menerima sinyal hijau pun langsung mengangkat tubuh Ana dari dalam bathtub. Dia membawa tubuh Ana ke dalam kamar lalu menaruhnya di ranjang. Ditariknya selimut untuk menutupi badan keduanya. Jeco tak mampu lagi menahan.
Di luar sekolah Rei tak melihat motor Jeco di parkiran.
"Kemana dia? Masa iya kabur?" Rei hanya bicara sendiri melebarkan pandangannya mencari motor Jeco. Ternyata Rei belum melihat handphone yang tadi sudah Jeco kirim pesan.
"Hai.. Rei... " Jeni mantan pacar Jeco menyapa Rei.
"Hai.. " Rei seperti biasa cool tak pernah banyak basa-basi menjawab sapaan Jeni.
"Mmm.. mana Jeco?" Jeni tak melihat motor kesayangan Jeco terparkir.
"Tau." Rei segera menyalakan mesin motornya.
"Eh.. Rei.. Apakah kamu sudah membuka pengumuman audisinya? Elu sama Jeco lulus lho..!" Jeni memberi tahu Rei mengenai pengumuman audisi jadi artis k-pop di negeri ginseng.
"Oh ya?" Rei tak merespon lebih.
"Iya. Itu kan impian kalian berdua. Makanya Jeco minta putus dari gue." Jeni dan Jeco sudah tidak lagi menjalin hubungan. Disebabkan Jeco ingin berkarir di dunia hiburan.
"Ma kasih infonya." Ucap Rei sambil menggerakkan motornya. Dia tak berniat membuka pengumuman sekarang.
__ADS_1
"Aih.. masa gituan doang sih? Traktir dong!" Jeni berteriak begitu motor Rei melaju meninggalkan area parkir sekolah.
Jeni mendengus kesal karena Rei dan Jeco begitu sama cueknya. Dia berharap suatu saat dia bisa kembali pada Jeco jika karirnya sudah sukses. Sekarang dia ingin mendukung Jeco agar bisa mencapai impiannya menjadi artist K-pop di negeri ginseng. Perjuangan Jeco dan Rei tidaklah mudah untuk lolos audisi kesana. Jadi dia memilih bersabar.