
Ana pasrah. Dia hanya mengikuti perintah Jo juga Mira. Mau dibawa kemanapun sepertinya dia tak punya kuasa ataupun kekuatan. Apalagi bobot berat kehamilannya membuat Ana begitu lemah.
Mobil yang dibawa Jo sampai di rumah sakit. Begitupun mobil Van yang membawa Jeco dan juga Rei. Bahkan mobil itu kembali berdampingan.
"Tunggu dulu di sini! Aku akan membawa kursi roda." Ucap Jo yang baru saja memarkirkan mobilnya.
Disaat yang sama sang manajer pun turun untuk membawa blankar.
Dua orang keluar dari pintu rumah sakit dengan diikuti perawat. Bedanya yang satu membawa kursi roda dan yang satu lagi membawa blankar.
Dua orang turun dari mobil dan menduduki alat yang berbeda. Mereka didorong secara bersamaan masuk ke pintu rumah sakit.
Jeco yang tertidur lemas di atas blankar menoleh ke arah samping. Dia semakin terhenyak melihat sosok yang dikenalinya. Sejenak matanya memandang orang yang sedang di dorong di kursi roda. Perut buncit dan wajah pucat duduk dengan pandangan yang kosong. Seolah raganya tanpa nyawa.
"Ana... itukah kau?" Lirih Jeco.
Entah kenapa, suara Jeco yang hampir tak terdengar malah seperti ada panggilan di telinga Ana. Ana merasa ada yang memanggilnya mau tak mau menoleh ke arah sumber suara.
"Jeco... " Ana pun berkata pelan. Dia seperti bermimpi melihat sosok laki-laki yang dulu pernah dikenali nya. Ana mengucek matanya memastikan itu bukan hanya sekedar halusinasinya.
Blankar dan kursi roda yang sedang di dorong perawat begitu berdampingan. Seolah takdir yang harus mempertemukan mereka.
Tanpa sadar Jeco mengulurkan tangannya ke arah Ana. Begitupun sebaliknya Ana dia seperti ingin memegang tangan Jeco.
Manager dan pengawal Ana melihat curiga pada kedua orang yang memperlihatkan gelagat aneh. Sang pengawal langsung menarik kursi roda itu agar tidak terlalu berdekatan dengan arah blankar. Jo bahkan mendorong lebih cepat membuat perawat yang sedang mendorong Ana pun terhenyak kaget. Begitupun Ana.
__ADS_1
"Sakit... " Rintih Ana yang mendadak perutnya seperti diremas. Rasa sakit yang belum pernah dia rasakan sebelumnya membuat Ana meringis kesakitan.
"Maaf tuan. Tolong pelankan dorongan anda! Itu membuat pasien syok." Tegur sang perawat melihat Ana kesakitan.
"Nona.. apa anda merasakan mulas?" Tanya Jo panik.
"Aku tak tahu.. yang jelas perutku sakit sekali. Akhhhh... " Ana mendadak berteriak. Rasa sakit di perut nya bertambah.
"Dia kontraksi sepertinya." Ucap perawat itu melihat perubahan Ana yang tadinya tenang seperti merasakan sakit mau melahirkan.
Jo dengan sigap langsung menggendong Ana. Dia tak lagi mendorong kursi roda itu. Dia membawa lari ke ruang Igd. Pikirnya jika Ana didorong lebih cepat malah membuat Ana kesakitan. Perawat dan Mira pun ikut berlari mengikuti Jo. Dan perawat menyuruh beberapa tim medis untuk melakukan persiapan untuk melahirkan.
Sementara Jeco yang melihat Ana seperti itu langsung bangkit dari pembaringannya. Dia merasakan kecemasan yang amat sangat. Dadanya naik turun tak tenang. Tapi managernya dengan sigap mendorong kembali badan Jeco agar kembali berbaring.
"Tidurlah! Jangan ikut-ikutan panik!" Ucap sang manager yang tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Jeco saat ini.
"Hei... kamu jangan macam-macam! Ini rumah sakit. Jangan membuat keributan nanti membuat perhatian banyak orang." Ucap Rei sambil menenangkan Jeco yang nampak aneh. Apalagi sekarang statusnya bukan orang biasa. Tapi seorang artis entertainment. Otomatis harus menjaga image di hadapan umum.
Jeco baru tersadarkan setelah Rei mengatakan hal itu. Dia kembali berbaring, meski pikirannya tak tenang.
Ana dibawa ke ruang tindakan persalinan. sedangkan Jeco terbaring di Igd untuk mendapatkan perawatan sementara. Menurut pihak dokter Jeco mengalami penurunan tekanan darah dan juga kekurangan nutrisi. Mungkin dikarenakan selama ini Jeco mengalami muntah-muntah entah kenapa sebabnya. Terpaksa Jeco harus di infus untuk mendapatkan kondisi badannya yang harus fit.
"Berapa kira-kira dok adik saya harus diinfus?" Tanya sang manager agak panik. Karena acara temu fans akan segera tiba. Tak mungkin Jeco yang menjadi anggota yang paling disorot malah tidak bisa hadir.
"Ya... sekitar 1jam mungkin." Jawab dokter memperkirakan infus itu habis dalam jangka satu jam.
__ADS_1
"Apa satu jam?" Tak sadar sang manajer mengeraskan suaranya karena kaget harus menunggu selama itu. Kalau sedang tidak ada acara mungkin tak jadi masalah. Tapi sekarang itu akan menjadi masalah karena waktu temu fans tak lebih sama sekitar satu jam lagi.
"Ssttt.. anda bisa tenang kan? Disini banyak pasien." Dokter agak marah melihat reaksi yang disebabkan sang manajer.
"Oh iya maaf.. " Sang manajer langsung membungkuk tanda meminta maaf. Dokter tadi melengos sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Duh bagaimana ini?" Sang manajer bolak-balik karena bingung.
"Rei tunggu dulu disini! Aku mau keluar sebentar." Ucap sang Manager menyuruh Rei menunggu Jeco.
"Ya." Rei tak menolak dia duduk di samping Blankar Jeco sedangkan Sang manajer keluar dari ruangan Igd untuk menelpon panitia acara agar bisa mengundurkan waktu tayang. Dan dia tahu itu sangatlah tidak mungkin. Tapi dia harus mencobanya terlebih dahulu meski nanti akhirnya mendapatkan penolakan.
"Jeco.. kamu kenapa sih? Aku lihat kamu begitu cemas." Tanya Rei yang masih kebingungan melihat sahabatnya itu seperti orang linglung.
"Mmm... aku... " Jeco menatap ke arah Rei tanpa meneruskan bicaranya.
"Katakan! Apa ada yang ingin kau sampaikan? Aku melihat kamu agak aneh. Apalagi setelah melihat perempuan yang tadi di dorong kursi roda. Apa kamu mengenalnya?" Tanya Rei yang tadi tidak jelas melihat wajah Ana. Kebetulan Rei berjalan dibelakang dan tidak melihat bahwa yang duduk di kursi roda itu adalah Ana, yang dilihatnya sewaktu macet.
Deg
Jantung Jeco seakan berhenti sejenak. Antara takut, cemas juga khawatir menjadi satu. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Apa dia harus peduli dengan Ana? Atau harus abai saja?
Dalam hati nuraninya masih tersimpan rasa kemanusiaan Jeco untuk mengasihani Ana. Apalagi dia ingat betul apa yang dilakukan malam itu. Jangan-jangan Ana mengandung anaknya. Itu yang sekarang ada dalam pikiran Jeco. Tapi bagaimana kalau sampai ketahuan bahwa Ana hamil karena dirinya? Habislah mungkin karir keartisan nya karena skandal itu.
Jeco memejamkan mata, "Maafkan aku Ana.. kamu harus menanggung sendirian. Aku harap itu bukan anakku... " Lirih Jeco dalam hati.
__ADS_1
Takdir mempertemukan keduanya masuk ke ruang Igd untuk sama-sama ditangani.