
"Ah kau.. hampir jantungan." Jeco mengusap dadanya karena kaget.
"Untung aku yang datang. Kalau tidak, pastinya kamu beneran jantungan." Rei melipat tangannya di dada sedang memperhatikan sikap sahabatnya yang baru saja datang.
"Ngapain kamu datang?" Jeco duduk lalu meneguk minuman yang ada di atas meja yang dibawa Rei.
"Bukannya syukur, malah nanya gitu! Ya jelas aku khawatir lah... " Rei menggelengkan kepala tak habis pikir dengan sikap Jeco yang telah pergi dari ruangan rawat inap.
"Mmm... sory. Tadi aku keluar dulu ada perlu." Jawab Jeco balik melihat Rei yang sedang memperhatikan dirinya.
Rei mencondongkan badannya, lalu berbisik. "Apa yang sedang kamu sembunyikan dariku hah?" Rei menduga ada sesuatu yang sedang disembunyikan Jeco darinya. Dia menduga pastinya penting. Kalau tidak, mana mungkin dia sampai pura-pura sakit dan ingin dirawat di rumah sakit, dan barusan pergi entah kemana.
"Aku ada perlu dulu. Kebetulan aku lagi disini. Kalau lagi mes aku sulit untuk keluar sembarangan." Jawab Jeco tak mau menjawab terus terang.
"Mmm... apa ini ada hubungannya dengan kejadian tadi?" Rei asal tebak. Dia mencurigai, kejadian tadi ada hubungannya dengan keluarnya Jeco dari rumah sakit.
"Apa???" Jeco seperti kaget mendengar Rei menanyakan hal itu.
"Ingat, jangan gegabah kamu Jeco! Kamu bisa-bisa menghancurkan karir kamu sendiri kalau sampai ketahuan manajemen. Kamu sudah berjuang sampai titik ini. Jangan sia-sia kan pengorbanan dan perjuangan kamu karena hal yang merugikan kamu!" Rei mengingatkan Jeco untuk tidak bertindak gegabah.
"Mmm... kamu gak bawa makanan? Aku lapar nih!" Perut Jeco keroncongan seolah menagih sesuatu untuk mengalihkan pembicaraan.
"Ish.. dasar!" Rei berdecih. Tak habis pikir dengan temannya itu. Di saat dia bicara serius, dia malah menagih makanan.
"Tuh disana! Aku sudah menyimpannya di kulkas." Ucap Rei yang kebetulan sebelum berangkat ke rumah sakit dia tadi mampir dulu ke minj market untuk membeli beberapa minuman, makanan termasuk cemilan dan buah.
"Ma kasih bro!" Jeco berdiri mendekati kulkas lalu membawa sekaleng minuman juga buah apel yang ada di dalam kulkas. Lalu dia kembali duduk di kursi di dekat Rei sambil menikmati buah apel segar juga sekaleng minuman.
__ADS_1
"Kamu kaya abis maraton gitu?" Ucap Rei yang terheran-heran melihat cara minum Jeco yang seperti kehausan.
"Emang haus, dari tadi aku belum minum." Jawab Jeco yang memang sedari tadi belum minum ditambah perjalanan yang lumayan menegangkan tadi membuat kerongkongannya dehidrasi.
"Kamu jadi dirawat? Kok selang infus nya tak ada?" Tanya Rei penasaran.
"Aku mau dirongsen dulu. Baru diinfus. Aku pengen tahu kenapa kemarin sempat mual-mual sama pusing tak karuan. Kali aja ada penyakit membahayakan. Jadi harus jaga-jaga sedari awal." Jawab Jeco ingin memastikan kesehatannya baik-baik saja.
"Mmm.. " Rei hanya mengangguk - angguk tak berani bertanya lagi.
"Aku ganti pakaian dulu. Aku mau ke ruang ronggsen sekarang." Ucap Jeco berdiri akan mengganti bajunya dengan baju yang biasa dipakai para pasien.
"Mmm... apa perlu aku antar?" Tanya Rei menawarkan bantuan.
"Tak usah! Kamu tunggu disitu saja. Aku akan diantar suster yang ada di ruang jaga." Jeco telah selesai mengganti pakaiannya dan tak lupa memakai masker untuk menutupi identitas sekaligus prosedur rumah sakit.
"Rei.. " Panggil Jeco mendekati Rei.
Rei menoleh pun berdiri menunggu Jeco mendekatinya.
"Kamu bisa kan tidak mengatakan pada manager kalau aku tadi keluar dari rumah sakit?" Jeco memastikan Rei kalau dia tidak akan menceritakan dirinya yang sempat keluar dari rumah sakit.
"Jangan khawatir! Asal kamu jangan gegabah! Nanti aku tak bisa menutupi kamu lagi. Kalau sudah begitu, aku angkat tangan." Ucap Rei kembali menasehati sahabatnya.
"Mmm.. " Jeco hanya berdehem mengiyakan apa yang barusan Rei katakan.
"Semoga kamu baik-baik saja!" Rei menepuk bahu Jeco memberikan semangat. Dia tidak memaksa Jeco untuk bercerita. Mungkin suatu saat Jeco akan menceritakannya jika keadaan sudah siap.
__ADS_1
"Ya.. Hati-hati di jalan!" Ucap Jeco mengantarkan Rei sampai pintu.
"Kamu juga!" Rei berpelukan sebelum keduanya berpisah lalu Rei pergi meninggalkan Jeco.
Jeco menatap punggung sahabatnya yang kini kian menjauh. Lalu setelah tubuh sahabatnya menghilang dari pandangannya Jeco berjalan ke arah ruang jaga suster. Dia meminta untuk mengantarkannya ke ruang rongsen sesuai dengan petunjuk dokter saat memeriksanya.
Di lain ruangan, Ana masih tergolek lemah. Dia masih ditunggu perawat di dalam ruangan. Dari arah lain terlihat Mira berjalan dengan langkah panjang mendekati Jo yang masih berjaga di depan pintu.
"Bagaimana keadaan nona?" Mira yang masih terengah-engah tak sabar ingin menanyakan kabar anak majikannya itu.
"Masih sama. Dia belum sadarkan diri." Jawab Jo dengan raut muka sedih.
"Apa sudah kau hubungi dokter?" Tanya Mira yang tadi sudah meninggalkan rumah sakit kurang lebih satu jam, penasaran apa analisa dokter tentang Ana.
"Sudah... katanya disuruh menunggu. Barusan baru dikontrol, semua alat vitalnya aman. Mungkin kita harus menunggu lebih sabar." Jo tak tahu lagi harus bicara apa. Karena dia tidak tahu kenapa Ana belum juga sadarkan diri, padahal masa kritisnya sudah lewat.
"Apa nona Ana merindukan seseorang?" Mira tiba-tiba mengucapkan kalimat itu. Dia teringat dulu saat ibunya melahirkan dirinya. Katanya ibunya juga sempat koma karena saat dia melahirkan, ayahnya yang sedang bekerja di luar pulau, telat datang saat diberitahu bahwa istrinya melahirkan. Tapi begitu ayahnya datang ibunya langsung sadarkan diri dari komanya. Entah itu hanya prediksinya Mira saja.
"Ya.. mungkin saja. Mudah-mudahan setelah tuan Daniel datang nona Ana bisa kali sadar." Jo mengiyakan apa yang baru saja Mira prediksi. Mungkin saja prediksi Mira benar. Karena selama ini nona Ana tidak pernah dijenguk oleh keluarganya. Mungkin dalam alam bawah sadarnya dia sedang merindukan orang-orang yang dicintainya.
"Kalau tuan besar dan nyonya bagaimana?" Tanya Mira kembali. Dia penasaran dengan majikannya. Apakah mereka merasa khawatir atau tidak mengenai kondisi anaknya yang seperti sekarang. Jangan-jangan nanti mereka malah menyalahkannya.
"Sudah. Mereka sudah berangkat menyusul tuan Daniel begitu mendapatkan kabar dari asistennya. Tadi sempat menelpon." Jawab Jo menyampaikan informasi tentang majikannya.
"Apa dia menanyakan ku?" Tanya Mira dengan mata mengerung.
"Mmm... aku sudah menjawabnya. Bahwa kamu sudah membereskan bayi itu." Jawab Jo agak rikuh.
__ADS_1
"Syukurlah. Dari semua tugas yang aku lakukan paling berat ketika aku disuruh membunuh orang yang tak berdosa. Meski aku terlatih untuk tidak memakai perasaan, tapi begitu melihat bayi lucu itu rasanya aku tidak tega membunuhnya." Mira menunduk ada perasaan berdosa akan perbuatannya jika sampai dia harus membunuh bayi itu.