
Daniel menatap sendu wajah adiknya yang sudah lama tak bertemu. Ada perasaan bersalah menyelimuti wajahnya. Setelah hampir satu tahun dia tidak tahu kabar adiknya, kini begitu mendapatkan kabar dia sedang kritis di sebuah rumah sakit.
Ada sejuta penyesalan yang berkumpul dalam hatinya. Selama ini dia hanya sibuk mengurusi perusahaan dan juga keluarganya sendiri tanpa peduli apa yang terjadi padanya.
Daniel tahu Ana adalah tipikal anak penurut. Jadi meski dia tidak bertanya, dan tak mendapatkan kabar dari kedua orangtuanya, dia yakin kalau Ana baik-baik saja.
"Kenapa bisa begini? Apa yang terjadi?" Daniel menatap Ana lekat, yang masih setia tergolek lemah dengan selang infus juga alat bantu oksigen di sekitar mulut dan hidungnya. Sejak kedatangannya Daniel tak lepas dari menggenggam tangan adiknya itu.
Jo maupun Mira tak berani menjawab. Keduanya terdiam membisu.
"Hei.. apa kalian dengar apa yang barusan aku tanyakan?" Daniel meninggikan volume suaranya tak sabar menunggu jawaban dua pengawal yang menjaga adiknya selama ini.
"Maaf tuan Daniel... sebaiknya tuan Daniel nanti bisa bertanya pada tuan besar dan nyonya. Jika kami menyampaikannya sekarang, kami takut salah bicara. Jo menarik Mira untuk keluar dari ruangan agar tidak kena marah tuan mudanya itu.
"Sial... kenapa dengan mereka? Apa ada yang mereka sembunyikan selama ini? Ah... jangan katakan ini semuanya papa sama mamanya yang buat." Daniel menghela nafas kasar, merasa kesal rasa penasarannya tak bisa dijawab cepat. Dia harus menunggu kedua orangtuanya datang jika menginginkan jawaban atas apa yang terjadi dengan Ana.
Pandangan Daniel kembali tertuju pada Ana.
"Ana... ini kakak sayang.. maafkan kakak ya! Selama ini kakak selalu abai padamu... " Daniel membisikkan kata-kata itu ke dekat telinga Ana. Berharap banyak adiknya mendengar apa yang baru saja dikatakannya.
Ana masih terdiam tidak memberikan respon. Nafasnya begitu tenang seolah sedang tidur dan bermimpi panjang.
"Ana.. ini kak Daniel sayang... kamu bisa dengar kakak sayang? Maafkan kakak yang terlambat datang. Kakak sangat menyayangimu... maafkan kakak yang lalai menjagamu sayang.. " Daniel tergugu, dia terisak sambil menggenggam tangan lemah Ana di depan wajahnya. Dia sangat menyesal karena selama ini terlalu sibuk akan urusan bisnisnya. Bahkan hampir seperti tidak pernah mengenal Ana sebagai adiknya. Dia benar-benar abai dalam hampir satu tahun ini.
__ADS_1
Jari-jari Ana bergerak sedikit. Daniel yang sedang tertutup pun langsung memandang jari-jari lentik yang sedang digenggamannya. Lalu beralih melihat wajah Ana berharap adiknya akan sadar.
"Ana.. Ana... kamu mendengar kakak sayang?" Tanya Daniel sambil melihat wajah Ana lekat. Dia berharap Ana memberikan respon yang lebih. Tapi mata Ana masih tertutup rapat begitu juga dengan mulutnya, masih sama. Hanya terlihat menarik nafas juga mengeluarkan udara saja tanpa ada gerakan lain.
"Hah... " Daniel menghela nafas seperti kecewa. Dia mengeluarkan nafas kasar dari mulutnya begitu melihat Ana masih tetap sama.
"Ana..Jangan khawatir! Kakak akan menunggumu disini menemanimu tidur sampai kamu kenyang bermimpi. Sebentar lagi papa sama mama akan datang menjenguk mu sayang... " Ucap Daniel meski Ana masih tergolek koma.
Tet.. tet.. tet.. tet..
Sebuah alat pendeteksi jantung tiba-tiba saja berbunyi keras menandakan si pasien sedang tidak baik-baik saja. Daniel yang mendengar alat itu langsung melepaskan genggaman dan menekan tombol merah tanda panggilan pada tim medis.
Jo dan Mira yang mendengar bunyi itu pun langsung masuk ke dalam ruangan.
"Ada apa tuan muda? Kok tiba-tiba alat itu berbunyi?" Tanya Jo heran. Karena yang berada di dalam ruangan hanya ada Daniel seorang.
Tak lama kemudian dokter juga perawat masuk ke dalam ruangan.
"Kenapa dengan pasien dok?" Tanya Jo dengan bahasa Korea.
"Pasien kembali kritis. Sebaiknya kalian keluar dulu! Kami akan mengambil tindakan." Ucap dokter memberikan interupsi pada Jo juga pada lainnya yang bukan tim medis.
"Mari tuan kita keluar dulu! Nona Ana kritis kembali. Dokter akan mengambil tindakan untuk nona Ana." Ajak Jo sambil menarik Daniel yang masih berdiri mematung karena kaget juga tak mau meninggalkan adiknya sendirian.
__ADS_1
Daniel akhirnya keluar setengah diseret karena dia penasaran dengan kondisi adiknya itu. Lalu Jo mendudukkan Daniel di kursi tunggu yang berada di luar ruangan.
"Tenang tuan Muda! Dokter sedang menangani nona sekarang. Mungkin nona Ana sedikit syok." Ucap Jo menenangkan Daniel yang nampak syok juga. Karena tadi setelah dia mengatakan bahwa kedua orang tuanya akan datang, alat pendeteksi jantung tiba-tiba berbunyi dan Ana dinyatakan kembali kritis.
"Apakah ada hubungannya perkataan aku tadi dengan kritis Ana?" Daniel bergumam lirih dengan badan sedikit gemetar. Dia benar-benar ketakutan.
"Minum ini dulu tuan. Mungkin tuan syok!" Mira menyodorkan sebotol air mineral pada Daniel agar tuan mudanya bisa tenang. Dia melihat wajah Daniel tiba-tiba memucat setelah keluar dari ruangan itu karena kaget melihat kondisi Ana yang kembali kritis.
Tangannya yang masih bergetar menerima sebotol air itu lalu Daniel meneguk air dalam kemasan untuk membantu menenangkan keterkejutan nya.
Setelah terlihat tenang Jo duduk di samping Daniel begitupun Mira.
"Apa yang tadi katakan tuan muda pada nona Ana?" Tanya Jo memberanikan diri. Pastinya keadaan kritis Ana ada hubungannya dengan apa yang Daniel katakan. Meski keadaan koma tapi otak bawah sadarnya masih berfungsi merespon dari luar.
"Aku tadi sempat mengatakan 'jangan khawatir karena papa sama mama akan datang' Tapi entah kenapa setelah mengatakan hal itu, alat itu langsung mendeteksi lonjakan detak jantung Ana yang meningkat. Aku... jadi penasaran. Apa yang terjadi dengan Ana? Apa yang ayah ibuku lakukan pada Ana? Coba katakan padaku!" Dengan mata menajam Daniel memohon pada Jo untuk mengatakan apa yang terjadi sebenarnya pada Ana.
"Maaf tuan. Kami tidak berani." Jawab Jo menunduk.
"Kenapa? Kalian takut ayah ibuku menghukum kalian?" Kini matanya berubah marah pada Jo.
"Kami bekerja. Dan kami harus melaksanakan sesuai dengan perintah tuan." Jawab Jo menjawab tegas. Sebagai pengawal dan orang bayaran Jo tak boleh lengah dan lemah. Dia harus melaksanakan tugasnya profesional.
"Meski ayah dan ibuku memerintahkan kalian untuk membunuh?" Tanya Daniel sorot mata merah menyala.
__ADS_1
"Maafkan kami. Itu sudah pekerjaan kami tuan muda. Jadi mohon tuan muda mengerti!" Jawab Jo tak mau Daniel salah pengertian.
"Hah.. gila. Kenapa dengan ayah ibuku? Apakah Ana melakukan kesalahan sehingga harus dihukum keras? Aku tak percaya, bahwa Ana sanggup melakukan perbuatan kekerasan yang membuat dia harus diasingkan juga dikawal kalian sepeti ini." Dengus Daniel sambil mengusap wajahnya kasar.