
Sang suster pun terpesona dengan ketampanan Jeco. Meski dia belum tahu kalau dirinya adalah seorang artis, tapi karena pesonanya membuat orang tertarik. Entah, kalau dia mengetahuinya pastinya akan terjadi kehebohan.
"Mmm... apa yang ingin kubantu?" Jawab suster yang kira-kira berumur 25 tahun itu menghampiri Jeco. Ternyata pesona Jeco bisa meluluskan niatnya. Buktinya, suster itu dengan senang hati akan membantunya.
"Ada family ku bernama Ana. Dia seorang pasien disini. Tadi dia melahirkan di rumah sakit ini dan aku ingin sekali menengoknya. Bisakah kamu membantuku mencari ruangannya?" Ucap Jeco dengan wajah memelas.
"Baiklah. Akan kubantu mencarinya." Suster itu tak berani menolak permintaan Jeco. Dia langsung menyanggupi permintaan Jeco tanpa syarat apapun. Sebagai pasien Vip yang selalu diistimewakan keberadaan nya, suster pun harus menjaga nama baik rumah sakit demi kepuasan pelanggan.
"Terima kasih." Jeco sumringah setelah mendapatkan jawaban dari suster itu. Dia berharap Ana bisa ditemukan. Dia berniat akan melihatnya tanpa langsung bertemu.
Tak lama kemudian, berkat informasi dari suster tadi, Jeco bisa menemukan ruangan dimana Ana dirawat. Tapi Jeco tidak bisa masuk ke dalam ruangan dikarenakan di depan pintu ada pengawal yang duduk menjaga keamanan Ana.
"Ah.. kenapa dijaga begitu ketat?" Keluh Jeco tak bisa melihat Ana lebih dekat. Jeco yang memakai masker tidak bisa dikenali pengawal juga orang sekitarnya.
Baru juga Jeco akan melangkah, ada seseorang yang keluar dari ruangan Ana.
"Bagaimana keadaan nona Ana?" Tanya Jo pada Mira.
"Masa kritisnya sudah berlalu tapi.. nona belum juga sadarkan diri. Mungkin kondisi tubuhnya terlalu lemah.
Jeco menahan langkanya dan menahan diri untuk mencuri dengar.
Jeco dan Mira sama sekali tidak mencurigai keberadaan Jeco yang masih berdiri tak jauh dari mereka.
"Lalu bagaimana dengan rencana mengambil bayi itu?" Ucap Jo pada Mira.
"Aku tadi sudah menghubungi panti asuhan. Mereka mau menerima bayi itu. Aku tak mau bayi itu dibuang begitu saja. Aku benar-benar tidak tega." Ucap Mira menaruh iba.
"Apa yang akan mereka lakukan dengan bayi Ana? Apakah mereka berencana membuangnya?" Jeco mengerutkan dahi, terhenyak dengan apa yang baru saja didengarnya.
__ADS_1
"Heran ada apa dengan Anita? Kenapa mereka merencanakan mengambil bayinya? Kenapa harus dibuang dan disimpan di panti?" Dan tanpa Jeco mengerti kenapa dia merasa dadanya terasa sakit mendengarkan hal itu.
"Ya sudah.. cepat lakukan sebelum tuan Daniel datang! Tuan besar sudah mewanti-wanti agar tak ada seorang pun yang tahu masalah Ana." Jo mengingatkan Mira akan tugasnya sebagai pengawal juga orang suruhan majikannya.
"Baiklah. Aku akan segera membawa bayi itu. Dan kamu, tolong jaga Ana dengan baik! Jangan sampai lengah!" Ucap Mira pada Jo. Jo menganggukan kepala.
"Ya.. cepatlah kalau bisa!" Jo menepuk bahu Mira agar secepatnya membereskan masalah yang ditugaskan sang majikan.
Jeco yang masih berdiri di tempat, langsung melangkahkan kaki perlahan. Agar tidak dicurigai bahwasanya dia telah menguping pembicaraan antara Jo dan Mira.
"Hei kamu... " Jo yang menoleh melihat punggung Jeco memanggilnya tiba-tiba.
Dan sontak itu membuat jantung Jeco berdetak lebih cepat. Antara kaget dan takut Jeco merasakan detak jantungnya bermarathon. Keringat dingin mulai bercucuran karena takut ketahuan aksinya yang telah menguping pembicaraan rahasia mereka. Jeco terus melangkahkan kaki pura-pura tuli.
"Hei.. " Jo menepuk bahu Jeco dan seketika itu pula Jeco menghentikan langkahnya. Lalu berbalik menghadap Jo. Meski dia gugup dan ketakutan, itu tak boleh ketahuan oleh Jo. Jeco harus bisa bermain akting dengan baik untuk menutupi perbuatannya agar tidak ketahuan.
Jeco memasang senyum terpaksa.
Jeco diam sejenak. Apa yang harus dijawabnya. Entah ide darimana tiba-tiba Jeco kepikiran untuk pura-pura tuli dan bisu.
"Aa... ii.. uu.. " Ucap Jeco bicara tak jelas. Dia berharap aktingnya bisa mengelabui Jo dan dia bisa terbebas dari Jo saat ini.
"Kamu tuli dan bisu?" Tanya Jo sambil mengamati gerak-gerik Jeco.
Jeco memberi isyarat dengan jarinya pada arah bibir juga telinganya.
Jo yang memperhatikan bahasa isyarat yang ditunjukkan Jeco, berpikir bahwa orang yang ada di depannya memang tuli dan bisu. Mengajaknya banyak bicara pun bakal percumapercuma pikir Jo setelah mengetahui bahwa orang yang di depannya tuli dan bisu.
"Ah.. untung dia tuli dan bisu, kalaupun dia bisa mendengar bukankah orang Korea tidak akan mengerti bahasa Indonesia? Berati apa yang tadi aku bicarakan aman." Ucap Jo bergumam dalam hatinya.
__ADS_1
Jeco yang sedang didera ketakutan akan ketahuan aktingnya, terus berdoa dalam hati. " Semoga dia percaya kalau aku tuli dan bisu." Jantung Jeco berdebar makin kencang seperti pelari maraton manakala mata Jo melihatnya tajam sedang menilai Jeco. Sungguh ini lebih nervous dibandingkan dia harus konser ataupun akting main drama.
"Mmm... maaf aku kira kamu bisa bicara." Ucap Jo terlihat percaya dengan akting yang dilakukan Jeco. Jo pun membalikkan badan kembali ke tempat semula untuk tetap berjaga di depan ruangan Ana setelah dia merasa aman dan percaya bahwa Jeco memang tidak mencurigakan.
Karena di dalam ada suster yang sedang berjaga, Jo pun menunggu di luar sambil menunggu Mira menyelesaikan pekerjaannya.
Jeco bisa menghela nafas sejenak. Dia mengambil nafas beberapa kali dan mengeluarkannya perlahan. Perlahan jantungnya pun kian tenang. Dan Jeco melanjutkan langkahnya menjauh dari Jo untuk kembali ke ruangannya.
"Hah. hah...gila jantungku hampir copot. Untungnya dia percaya dengan aktingku." Ucap Jeco sambil meraba dadanya yang tadi sempat maraton karena terkejut. Setelah dirasa tenang Jeco lalu melangkah mendekati lemari yang dimana bajunya digantung di sana.
"Aku harus segera menyusul perempuan itu. Agar aku tahu kemana perempuan itu membawa bayi itu." Jeco segera mengganti bajunya dengan baju yang tadi dipakainya. Lalu tidak lupa dia memakai topi juga masker agar tak ada orang yang mengenalinya.
Jeco perlahan menggeser pintu ruangannya lalu menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memastikan bahwa di sekitarnya aman dari pantauan.
Setelah dirasa aman, Jeco lalu keluar dari ruangannya dan menggeser pintu kembali tertutup.
Dengan langkah cepat Jeco berjalan menuju area parkir rumah sakit untuk mengikuti Mira.
Jeco memantau beberapa CCTV, dia harus lebih teliti agar layar CCTV tidak menangkap wajahnya. Setelah dirasa aman Jeco bersembunyi di balik dinding untuk memata-matai Mira.
Jeco pun tak lupa sudah memesan taxi untuk menjalankan aksinya. Setelah mobil taxi datang dia langsung masuk ke dalamnya.
"Tolong tunggu sebentar! Aku sedang menunggu seseorang." Ucap Jeco pada sang sopir.
Sopir pun mengangguk, mengerti.
Mata Jeco terus mengawasi pintu lift dimana pintu akan dilewati Mira, jika dia benar-benar keluar dari rumah sakit itu.
Setelah menunggu beberapa saat. Mata Jeco melihat pintu lift terbuka. Dan benar seperti dugaannya, ternyata Mira keluar dari pintu itu sambil menenteng satu keranjang yang bisa diduga itu adalah keranjang bayi.
__ADS_1
"Tolong ikuti mobil yang dia tumpangi!" Jeco menyuruh sopir untuk mengikuti mobil yang ditumpangi Mira.