Skandal Pernikahan Idol

Skandal Pernikahan Idol
Main kucing-kucingan


__ADS_3

"Apa itu?" Semua orang kaget mendengar suara itu. Pandangan semua orang melihat ke arah asal suara walaupun tak nampak, karena posisi Jeco memang berada di lorong yang terhalangi tembok.


Tapi hal itu menguntungkan Jeco. Karena manager dan tiga orang yang tadi dikupingnya tak bisa melihat Jeco.


Jeco segera bangkit dari jatuhnya. Meski kaki dan lututnya terasa sakit, dia memaksakan diri untuk segera berdiri takut ketahuan.


Jeco melangkahkan kakinya dengan langkah cepat seperti lari dari kejaran polisi. Meski tertatih-tatih dan merasakan nyeri di bagian kaki yang terbentur dengan kaki kursi juga yang tertimpa besi infus yang di geretnya.


"Hah.. hah.. hah.. " Jeco mengeluarkan nafas kasar karena lelah setengah berlari ditengah ketakutannya akan ketahuan manajernya.


Sejenak Jeco berdiri tidak langsung masuk ke dalam ruangan sambil berpegangan pada handle pintu.


"Tuan.. apa anda perlu bantuan?" Sang perawat yang tak baru saja melewatinya menawarkan bantuan pada Jeco, karena dari kejauhan dia melihat Jeco berjalan pincang dan tanpa dia sadari kaki yang terkena benturan sudah berdarah mengenai baju pasien.


"Mmm... " Jeco melirik ke arah perawat yang sedang melihatnya.


"Anda terluka tuan." Perawat itu menunjukkan jarinya ke arah luka yang baru saja berdarah.


"Oh my God." Jeco baru menyadarinya begitu pandangannya mengikuti jari perawat yang sedang menunjukkan darah yang menempel di celana yang tadi terkena benturan.


"Mari saya bantu tuan!" Perawat itupun memapah Jeco ke dalam ruangan. Lalu menyuruhnya duduk di sofa dan menaikan kakinya ke atas meja. Lalu perawat tadi membawa alat-alat juga obat-obatan yang bisa mengobati luka Jeco.


"Awww... " Teriak Jeco kesakitan begitu alkohol mengenai luka di tulang rawan kakinya.


"Maaf.. ini sedikit sakit!" Ucap perawat pada Jeco yang meringis kesakitan karena luka tadi dibersihkan terlebih dahulu memakai alkohol sebelum diobati memakai antiseptik.


"Anda terjatuh?" Tanya perawat mendongak melihat Jeco karena posisi perawat sedang berjongkok mengobati luka Jeco.


"Mmm.. " Jawab Jeco pendek.


"Besok mungkin Anda harus dirongsen. Khawatir ada retak atau tulang yang terkilir ucap perawat memberitahu Jeco.


"Mmm.. " Jawab Jeco singkat.


"Saya ambilkan dulu pakaian ganti Anda. Nanti akan ada perawat laki-laki yang akan membantu anda memakaikannya jika anda merasakan kesulitan." Perawat itu berdiri karena sudah selesai mengobati luka Jeco.

__ADS_1


"Baik. Terimakasih." Ucap Jeco.


Perawat itupun berlalu dari ruangan Jeco.


Jeco menyandarkan tubuhnya di sofa lalu memejamkan matanya merasakan nyeri di bagian tulang rawan bagian betisnya.


"Ah... segini juga masih untung daripada harus ketahuan." Gumam Jeco pelan.


Srekkk


Suara pintu terdengar digeser.


Jeco membuka mata lalu melirik ke arah pintu.


Degg


Manager Lee sudah berdiri di depan pintu dengan membawa beberapa kresek yang berisi makanan.


"Jeco... kamu kenapa?" Mata manager Lee terbelalak melihat luka yang ada di kaki Jeco. Dia langsung melangkah dan mendekati meja dimana kaki Jeco sedang berselonjor bekas diobati perawat.


"Mmm.. anu... tadi... tidak sengaja jatuh." Ucap Jeco agak bingung.


Jeco menganggukkan kepalanya berusaha menutupi kesalahannya.


"Oh my God... pantesan saja feeling ku tadi kaya gak enak. Kenapa kamu tidak hati-hati sih?" Tanya manager Lee menegur Jeco.


Jeco menggaruk kepalanya sambil nyengir tak jelas.


"Ya.. namanya celaka mana kita tahu." Jawab Jeco berharap manajernya tidak bertanya lebih detail.


"Kamu sudah panggil dokter?" Tanya manajer Lee khawatir.


"Mmm... kata perawat besok harus di rongsen. Mungkin karena sekarang sudah malam." Jawab Jeco memberitahu.


"Ah.. sakit kamu malah bertambah. Bagaimana ini? Aku pasti kena marah sama si bos kalau sampai kamu kenapa-kenapa." Manager Lee sekarang malah takut dirinya kena semprot sang bos karena artisnya terluka.

__ADS_1


Jeco terdiam melihat kebingungan manager Lee saat ini.


Pihak manajemen pastinya sangat takut kehilangan kerugian karena Jeco terluka. Bagaimana tidak, karena tubuh artis adalah aset untuk menghasilkan pundi-pundi keuangan perusahaan entertainmen itu.


Srekkk


Pintu ruangan kembali digeser. Seorang perawat laki-laki masuk ke dalam ruangan dimana Jeco dirawat.


"Maaf tuan... apakah anda akan berganti pakaian sekarang?" Tanya perawat itu melihat ke arah Jeco.


"Baik." Jeco sengaja mempercepat tawaran perawat untuk menghindari manager Lee bertanya lebih banyak.


"Baik saya papah anda ke atas kasur." Perawat laki-laki itu dengan sigap membantu Jeco berdiri dan memapahnya untuk duduk di atas kasur. Lalu perawat tadi membantu Jeco untuk mengganti pakaiannya yang terkena noda darah.


"Sudah." Perawat tadi membuka tirai lalu membantu Jeco berbaring di atas kasur.


"Terimakasih." Ucap Jeco pada perawat yang telah membantunya barusan.


"Sama-sama." Jawab perawat laki-laki itu sambil membawa baju kotor yang terkena noda darah.


"Maaf... bolehkah aku bertanya?" Tanya manager Lee menghentikan langkah perawat begitu melewatinya.


"Iya tuan?" Perawat itupun melihat ke arah manager Lee.


"Apa luka dan sakit pasien parah? Dan berapa lama kira-kira dia bisa sembuh?" Tanya manager Lee dengan wajah cemas.


"Untuk hal itu, anda mesti bicara dengan dokter langsung. Silahkan jika anda ingin bertemu besok pagi anda bisa datang lagi. Dan untuk luka baru, sepertinya pasien mesti melakukan rongsen tulang untuk memastikan seberapa parah lukanya." Perawat tadi hanya bisa menyampaikan apa yang dia tahu. Karena kewenangan penyampaian detailnya ada pada dokter yang menangani Jeco.


"Mmm... begitu ya?" Kini manager Lee yang mengaruk-garuk kepalanya karena bingung. Dia sangat takut kalau dirinya akan dimarahi bos dan sampai berakhir pada karirnya.


"Kalau tidak ada lagi yang anda tanyakan, saya permisi dulu." Ucap perawat itu meminta izin untuk keluar dari ruangan.


"Oh.. iy iya baik. Silahkan!" Jawab manager Lee agak terbata-bata. Dia mempersilahkan perawat itu keluar dari ruangan karena saat ini dia belum mempunyai pertanyaan lagi yang diperlukan.


Manager duduk di atas kursi sofa sedang berpikir keras. Belum juga masalah satu selesai sudah datang lagi masalah baru. Kini dia sedang benar-benar bingung jika nanti harus menghadapi bos nya. Alasan apa yang tepat yang akan diberikan manager Lee agar bos nya tidak sampai marah besar.

__ADS_1


Di lain tempat Rei menyugar rambutnya kasar. Dia juga sama-sama bingung setelah tadi manager Lee menelponnya dan dia terpaksa berbohong untuk menutupi Jeco.


"Kacau... kacau... bagaimana ini? Bagaimana kalau manager Lee sampai tahu si Jeco keluar rumah sakit. Anak itu benar-benar gila ya! Sebenarnya ada masalah apa sih sampai dia harus kucing-kucingan seperti itu?" Rei berbicara sendiri. Untung kamar yang dia tempati kedap suara. Jadi dia tidak khawatir ada orang lain yang sedang mengupingnya.


__ADS_2