
Daniel dengan setia menunggu di dalam ruangan tanpa melepaskan genggamannya. Sampai dia terkantuk-kantuk pun tangannya masih saja tak ingin lepas dari tangan Ana sang adik. Terkecuali dia ada hajat lain seperti mandi, ke toilet dan makan. Selebihnya dia ingin menebus kesalahannya pada Ana yang masih koma di atas brankar rumah sakit.
Karena kondisi psikis Ana, Daniel tidak memperbolehkan kedua orang tuanya masuk ke dalam kamar perawatan Ana. Karena semenjak orang tuanya datang dan berinteraksi dengan Ana, adiknya selalu menunjukkan lonjakan jantung berlebihan. Makanya dokter melarang orang tua Ana untuk berinteraksi dulu sebelum Ana sadar dari komanya.
"Ana... apa kamu masih bermimpi di alam sana? Apakah mimpi di alam sana lebih menyenangkan buatmu?" Lirih Daniel yang berkaca-kaca. Melihat adiknya hampir satu minggu tergolek lemah rasanya hati Daniel semakin melemah dan putus asa.
Daniel sudah bertanya pada dokter, katanya masalah kesehatan Ana malah jauh membaik. Mungkin di alam bawah sadar Ana, ada hal yang tidak ketahui orang luar sehingga Ana lebih nyaman untuk tertidur untuk melindungi dirinya. Itu yang dikatakan dokter. Karena kondisi ibu hamil juga paska melahirkan rentan stress atau disebut baby blues.
Jari-jari Ana terasa bergerak, meski lemah. Daniel langsung melihat kearah jari-jari itu dengan tatapan penuh harap.
"Ana.. kamu mendengarkan ku?" Sapa Daniel merasa harapan positif nya muncul.
"Ayolah Ana.. bangun! Aku janji, setelah ini aku tidak akan mengabaikan mu lagi. Aku janji jika kamu sehat aku akan mengajakmu berlibur kemanapun kamu ingin." Janji Daniel pada Ana dengan kesungguhan.
Tapi Ana tak merespon apapun. Jari-jari itu kembali pada semula, lemah.
Daniel menghela nafas dalam. Dia terlihat kecewa. Mungkin apa yang baru saja Daniel janjikan tidak terlalu menyenangkan didengar pikiran Ana sehingga Ana tak merespon.
"Apa kamu merindukan seseorang Ana?" Daniel tak henti-hentinya menebak-nebak apa kira-kira yang bisa membuat Ana terbangun dari komanya. Ada beberapa respon yang baik setelah Daniel membawanya berbicara apa yang menurut pikiran Ana senang.
Dan kali ini juga Daniel terperangkap melihat jari-jari Ana malah bergerak lebih daripada yang tadi.
__ADS_1
"Ana..." Daniel berseru melihat adiknya merespon baik.
"Gerangan siapa yang kau rindukan? Apakah anakmu?" Daniel menunggu respon Ana dengan tatapan tak lepas melihat Ana.
Tapi respon yang Ana berikan sekarang malah lebih menyedihkan Daniel. Kedua kelopak mata Ana nampak berair.
"Maafkan kakak Ana... " Daniel memeluk badan Ana lalu ikut tergugu. Ternyata jauh dalam pikiran bawah sadar Ana, dia sedang menahan kesedihan yang mendalam tentang anaknya.
Daniel tak bisa berbuat banyak. Setelah orang tuanya datang, Daniel penasaran apa yang terjadi dengan Ana sampai adiknya harus diasingkan dan juga masuk rumah sakit. Ternyata kehamilan Ana yang di luar nikah dan tidak diketahui siapa yang menghamili Ana, membuat kedua orang tuanya mengasingkan Ana ke negeri ginseng itu.
Awalnya Daniel sangat kecewa pada sikap yang diambil kedua orang tuanya, tapi dia tidak mempunyai kekuatan untuk melawan keduanya. Dia sangat tahu betul sikap keduanya yang keras dan tak bisa ditentang.
Daniel hanya bisa membersamai Ana saat ini tanpa bisa berbuat lebih. Yang dibutuhkan Ana adalah perhatian dan kasih sayang.
Daniel melepaskan pelukannya lalu menoleh ke arah Jo.
"Ada apa?" Daniel malas sekali untuk bicara dengan keduanya.
"Sebaiknya tuan Daniel menemuinya." Jo tak banyak bicara lagi, dia hanya menyampaikan apa yang majikannya perintahkan.
Daniel perlahan melepaskan genggaman tangannya dari Ana, lalu menyeka air matanya yang masih meleleh.
__ADS_1
Dengan langkah malas Daniel keluar dari ruangan Ana guna menemui ayahnya.
Daniel pun duduk di kursi dengan wajah tak semangat. Dia sama halnya dengan Ana, hidupnya sudah diatur sedemikian rupa oleh kedua orang tuanya tanpa bisa menolak.
"Sebaiknya kamu kembali ke Indonesia! Hampir satu minggu kamu sudah meninggalkan perusahaan." Tuan Betrand menyuruh Daniel untuk kembali ke Indonesia. Karena perusahaan cukup lama ditinggalkannya.
"Aku tidak akan meninggalkannya pih. Aku baru bisa tenang kalau Ana sudah sadar kembali." Daniel menjawab tanpa melihat wajah ayahnya.
"Sampai kapan? Disini masih ada Jo dan Mira juga para dokter. Perusahaan butuh kamu." Tuan Betrand agak meninggikan suaranya.
"Papih saja tidak peduli akan anak dan cucu papih. Lalu sekarang aku harus peduli pada perusahaan? Sekarang yang kupedulikan hanya kesembuhan Ana. Kalau tidak aku, lalu siapa lagi?" Daniel mengangkat wajah dengan wajah kesal. Baru kali ini Daniel berani melawan ayahnya. Setelah melihat Ana yang seperti itu, Daniel sudah tidak mau seperti dulu lagi. Hanya menuruti keinginan ayah dan ibunya.
"Daniel... mamih mengerti kekhawatiran kamu. Mamih sama papih bukan tidak sayang sama Ana. Situasinya waktu itu, mamih dan papih sangat cemas kalau masa depan Ana hancur karena kehamilannya. Apalagi ayah biologisnya sama sekali tak diketahui." Ibunya Daniel duduk di samping Daniel mencoba lebih halus merayu putra sulungnya agar mau mengerti keadaan Ana.
"Aku tidak tahu betul persisnya seperti apa waktu itu. Kenapa mamih juga papih menyembunyikan dariku? Mungkin kalau mamih dan papih memberitahu aku, aku tidak akan membiarkan Ana sendirian disini. Apalagi Ana dalam keadaan hamil dalam usia muda. Itu pastinya berat mih.. " Daniel meski seorang laki-laki ikut merasakan sedih melihat nasib adiknya yang terasing tanpa perhatian.
"Iya mamih mengerti. Mamih dan papih salah. Tapi cobalah kamu lebih mengerti. Nasib ribuan orang bergantung pada kita. Kalau perusahaan sampai kenapa-kenapa, apa yang akan terjadi pada karyawan kita? Kamu harus memikirkan lebih matang. Adakalanya kita harus berkorban untuk orang banyak demi kelangsungan hidup. mereka. Perusahaan harus stabil. Daniel." Ibunya Daniel berusaha memberikan pengertian agar Daniel mengerti kenapa mereka harus sampai mengambil tindakan seperti itu.
"Hah..." Daniel mengeluarkan nafas kasar. Sesak di dadanya juga beban berat dalam pikirannya menyatu dalam satu waktu. Semua beban yang selama ini ditahan-tahan seolah ada celah untuk keluar.
"Aku tak peduli dengan semuanya. Sekarang aku hanya peduli dengan adikku. Kalau Ana sampai mati, akupun akan ikut menyusul. Silahkan kalian urus semuanya sendiri mulai sekarang. Aku hanya ingin melindungi Ana mulai. Dia membutuhkan aku." Daniel langsung berdiri dan meninggalkan keduanya. Hari ini Daniel ingin terbebas dari semua aturan yang diterapkan oleh keluarganya selama ini.
__ADS_1
Harga nyawa tidak bisa ditukar dengan uang. Dan kesempatan tidak akan datang dua kali. Dengan meninggalkan perusahaan ayahnya, tidak akan serta merta akan bangkrut dengan cepat. Untuk sementara ini Daniel hanya ingin bersama Ana saja tanpa mempedulikan yang lainnya.