Skandal Pernikahan Idol

Skandal Pernikahan Idol
Pengawal muda


__ADS_3

Ana sudah dua hari tidak masuk sekolah. Dia hanya meringkuk di kasur besarnya.


Tuan Betrand dan nyonya Susi sedang keluar kota. Jadi ketika Ana bolos sekolah kedua orang tua nya tidak tahu menahu.


"Nona.. makanlah! Nanti kalau nona tidak makan, nona malah sakit berat." Ucap pengasuh Ana yang sejak kecil sudah berada di rumahnya.


"Aku males...Simpan saja di sana! Nanti kalau mau aku akan memakannya." Ana malah menaikan selimutnya dan menyisakan sedikit kepalanya.


"Nona.. kemarin juga begitu. Tapi bibi lihat buburnya masih utuh sampai bibi harus membuangnya. Kali ini nona tidak boleh begitu lagi. Ayo a'!" Bi Mimin kembali membujuk Ana.


"Satu sendok saja ya bi!" Ana yang sedang bad mood tak mau makan-makan apa-apa.


Brakk...


Pintu kamar dibuka tanpa ketukan.


"Ana... " Mamanya langsung memeluk Ana. Kelihatannya dia sangat khawatir begitu mendengar putri kesayangannya sakit. Perjalanan bisnis dari suaminya langsung dihentikan begitu mendengar Ana tidak masuk sekolah sampai dua hari.


Ana kaget. Yang tiba-tiba mendengar suara ibunya datang mendadak. Karena rencananya lusa mereka akan baru pulang. Ini malah sudah ada di kamar.


"Mih.. " Biasanya Ana senang sekali jika orang tuanya pulang. Tapi kini malah sedikit ketakutan.


"Sayang.. katanya kamu sakit? Apa sudah ada dokter Anwar ke sini?" Tanyanya dengan panik.


"Belum nyonya. Nona Ana menolak. Katanya sakitnya cuman sakit biasa. Jadi gak mau diperiksa dokter." Ucap pengasuhnya melaporkan.


"Jangan begitu sayang! Mamih sama papih jadi khawatir." Dia menjulurkan tangannya pada kening sang putri.


Tidak panas. Bahkan suhunya sangat normal. Lalu kenapa Ana pura-pura sakit begini.


Nyonya Susi agak mengerutkan keningnya. Berdasarkan laporan, Ana tidak mau sekolah lantaran tidak enak badan. Tapi badannya sama sekali tidak panas. Dia hanya tidur dan malas makan. Apakah ada penyakit lain sehingga dia beralasan sakit?


"Panggilkan dokter Anwar sekarang juga! Biar Ana diperiksa." Perintah nyonya Susi pada pengasuh Ana.


"Baik nyonya." Dia keluar dari kamar Ana dan segera menghubungi dokter Anwar.


"Halo sayang... " Ayahnya Ana baru masuk ke kamar Ana. Tadi dia sibuk menelpon beberapa karyawan dan koleganya untuk urusan bisnis yang tertunda.

__ADS_1


"Halo pih." Ana duduk bersandar di Handboard kasurnya.


"Kenapa anak papih sampai sakit? Apa sedang jatuh cinta?" Berbeda dengan nyonya Susi. Tuan Betrand melihat putrinya seperti dilanda penyakit si merah jambu.


"Apaan sih pih.. " Ana malu-malu.


"Papih tahu.. kalau kamu tidak sakit beneran. Cuman lagi sakit hati kan?" Godanya sambil mencium sayang pucuk kepala Ana sang putri kesayangannya.


"Oh iya.. terakhir kamu sekolah. Kenapa tidak pakai sopir malah pakai taxi?" Tuan Betrand sangat protektif pada kedua anaknya.


Ana terdiam. Dia tak tahu harus beralasan apa.


"Kenapa sayang?" Tuan Betrand sedang menunggu jawabannya.


"Aku... pengen mencoba pakai kendaraan umum pih. Aku malu dikatakan teman-teman kalau aku anak mamih. Jadi aku ingin mencobanya." Ana terpaksa berkata bohong untuk melindungi dirinya dari kejadian sebenarnya.


"Mmm.. baiklah. Kamu boleh mencobanya tapi harus dengan pengasuhmu. Tidak boleh sendirian. Mulai besok papih akan menyiapkan dua pengawal untukmu. Kamu boleh naik kendaraan umum bersama mereka." Ucap tuan Betrand.


"Ah.. papih.. masa iya ke sekolah dianterin pengawal." Ana protes dengan usulan tuan Bertrand.


"Kamu harus ada yang jagain. Kalau tidak papih sama mamih tidak tenang. Kemarin ada yang laporan katanya kamu juga belajar membolos ya?" Tuan Betrand mendapatkan laporan dari kepala sekolah Ana karena Ana pulang lebih awal dari teman-temannya.


Memang beberapa anak punya koneksi di sekolah untuk melindungi anak-anaknya dari gangguan dan hal-hal yang tak diinginkan. Namun sampai sekarang tak ada satupun yang tahu mengenai bully terhadap Ana. Teman-teman Ana tak berani melaporkan Anita, karena jabatan kedua orang tuanya bukanlah kaleng-kaleng. Anita yang notabene anak menteri tentu tak mau para orang tua yang lain bermasalah dengan bisnisnya.


Begitupun Ana. Dia tak melaporkan kasus pembully an atas dirinya. Takut hal itu mempengaruhi bisnis ayahnya. Padahal ayah Anitalah yang seharusnya takut pada tuan Betrand. Karena jasa dialah dia bisa sampai duduk di kursi kementrian dengan biaya yang digelontorkan untuk dukungannya.


"Bener tidak kamu bolos?" Tanya tuan Betrand.


Ana mengangguk.


"Besok-besok bolosnya ditemani pengawal ya! Jangan sama temen kamu. Papih khawatir temen kamu ngapa-ngapain kamu. Nanti kamu tidak bisa jaga diri." Ucapnya sambil mengusap rambut Ana.


"Maaf tuan nyonya, dokter Anwar sudah datang." Jawab pengasuh Ana.


"Silahkan masuk!" Ucap nyonya Susi.


"Selamat sore tuan Betrand nyonya Susi." Dokter Anwar masuk ke dalam kamar Ana lalu memberi hormat.

__ADS_1


"Sore." Tuan Betrand dan Nyonya Susi memberi ruang pada dokter Anwar untuk memeriksa Ana.


Dia mengeluarkan stetoskop memeriksa Ana. Lalu menyuruh Ana menjulurkan lidahnya juga memeriksa matanya.


"Kayanya kena dehidrasi sama kelelahan." Ucap Dokter Anwar. Dia meresepkan obat dan vitamin untuk Ana.


"Banyak minum sama makan buah ya! Sepertinya karena tenggorokannya terkena dehidrasi nona Ana jadi tidak berselera makan. Perutnya jadi kembung karena asupan makanannya kurang."


"Yang lainnya bajk-baik saja. Dia lemas karena kurang makan saja!" Dokter Anwar memberitahu hasil analisanya.


"Terima kasih dokter Anwar." Ucap tuan Betrand.


"Kapan anda tiba Indonesia? Katanya sedang perjalan luar?" Dokter Anwar selaku dokter keluarga pasti tahu dengan kegiatan koleganya. Karena sebelum keberangkatan biasanya tuan Betrand dan istrinya rutin memeriksa kesehatannya.


"Baru tiba. Aku khawatir karena mendengar Ana sudah dua hari sakit." Jawab tuan Betrand.


"Oh pantesan. Kenapa tidak langsung memangil saya?" Tanya dokter.


"Anaknya tidak mau. Pengasuhnya angkat tangan kalau Ana sudah begitu. Harus sama pawangnya."


"Ha ha.. ada ada saja tuan Betrand. Maklum anak seumuran begitu labil. Kadang emosinya naik turun." Jawab dokter Anwar.


"Betul."


"Baiklah saya permisi dulu. Semoga nona cepat sembuh." Kata dokter Anwar berpamitan karena pekerjaannya sudah selesai.


"Iya.Terima kasih." Keduanya berjabat tangan.


"Mih.. kita istirahat dulu! Biar Ana suruh makan dulu. Setelah itu makan obatnya." Tuan Betrand mengajak istrinya keluar untuk istirahat.


"Baik sayang.. mamih tinggal dulu ya!" Kedua orang tua nya meninggalkan Ana.


Setelah makan dan minum obat Ana tertidur kembali.


Keesokan paginya Ana sudah rapih dengan seragamnya.


"Ana.. mulai sekarang Johan dan Mira akan mengawal kamu. Kalau kamu ingin jalan-jalan bersama teman-teman mu kamu harus dengan pengawasan mereka. Papih tidak mau kamu coba-coba sendiri. Keamanan nomor satu. Papih tidak bisa bekerja tenang kalau kamu tidak aman." Ucapan tuan Betrand tidak bisa dibantah.

__ADS_1


"Papih.. apa tidak berlebihan? Pengawalnya terlalu muda begitu!" Ana tak bisa menerima begitu saja usulan ayahnya. Apalagi pengawalnya masih terlalu muda. Khawatir teman-teman di. sekolah nya akan menggoda.


__ADS_2