
Hari itu Ana begitu pening. Kepalanya agak pusing. Dia permisi keluar dari kelas untuk pergi ke toilet sekadar mencuci muka untuk mengurangi rasa peningnya.
Begitu masuk toilet, ada dua orang siswi yang sedang bercermin di wastafel toilet perempuan. Keduanya asik sedang bergibah ria. Ana yang tadinya mau mencuci muka malah jadi masuk ke toilet pura-pura ingin buang air sambil menunggu dua orang itu pergi.
Ana duduk di closed duduk. Kepalanya seolah oleng ke kiri dan ke kanan karena pusing yang dirasakannya malah bertambah hebat. Seperti ingin pingsan.
Brukk
Suara dari dalam toilet mengagetkan dua orang siswi itu. Keduanya sama-sama saling menatap dan meraba dadanya karena kaget dengan suara yang didengarnya dari dalam toilet yang sedang Ana pakai.
"Hei.. " Salah satu dari dua orang siswi itu menggedor pintu toilet.
Tak ada jawaban.
"Hei..kamu kenapa?" Tanya yang satunya lagi mengulang menggedor pintu yang di dalamnya ada Ana.
"Kayanya dia pingsan deh." Ucap salah satu siswi itu menebak.
"Jadi kita harus gimana dong?" Tanya yang satunya lagi malah terlihat bingung.
"Kita cari bantuan ke penjaga sekolah buat bukain pintunya." Untung salah satu siswi itu mempunyai ide.
"Iy.. iya. Begitu. Kita cari bantuan." Teman yang satunya yang tadi terlihat bingung bicara tergagap
Mungkin karena kaget dia belum bisa berpikir cepat.
"Ayo..! Dia menarik tangan temannya untuk keluar dari toilet perempuan itu.
Begitu keduanya keluar, jantungnya hampir saja copot melihat seorang laki-laki berjas rapi sedang berjaga di depan pintu.
"Ya ampun.. ngagetin!" Salah satu siswi itu kembali meraba dadanya karena kaget dengan sosok laki-laki yang berdiri di depan toilet perempuan seperti sedang berjaga.
Mata kedua siswi itu naik turun mengamati Johan.
"Kita minta tolong aja sama dia?" Salah satu siswi menyikut siku temannya.
__ADS_1
"Oh iya ya."
"Mmm.. maaf bisa minta tolong gak? Di dalam sana ada orang pingsan. Kita sudah gedor-gedor gak juga dibuka." Jelas salah satu siswi memberitahukan Johan.
Tanpa menunggu lama Johan menerobos masuk ke dalam toilet dan langsung menendang pintu toilet yang terkunci.
Brakk
Lagi-lagi kedua siswi itu kaget mendengar suara pintu didobrak oleh Johan.
"Nona.. " Johan langsung mengangkat tubuh Ana yang sudah terkulai lemah jatuh di lantai.
Kedua siswi yang tadi melaporkan sekarang menutup mulutnya karena kaget melihat tubuh Ana yang pingsan di dalam toilet.
"Kamu bantu buka pintu!" Johan menginterupsi.
"Eh.. iy ya. Baik." Salah satu siswi tadi membuka pintu toilet agar Johan mudah membawa Ana keluar.
"Sekalian tolong bawakan kunci dan saku saya! Ikuti saya ke parkiran! Dan kamu tolong bawa tas nona Ana di kelas XII A sambil minta izin nona Ana tidak bisa melanjutkan pelajaran.Johan sejenak berhenti melangkah dan memerintahkan siswi tadi membawa kunci mobil di saku jasnya dan menyuruh satu siswinya lagi untuk membawa tas Ana di kelas.
"Baik." Siswi itupun merogoh kunci di dalam saku jas Johan dan mengikutinya ke parkiran. Dan satu siswi lagi berlari ke arah kelas Ana untuk membawa tas Ana.
"Terima kasih kalian sudah mau membantu." Johan mengucapkan terimakasih pada kedua siswi yang telah membantunya tadi.
"Sama-sama. Semoga kak Ana lekas sembuh!" Ucap keduanya ketika Johan hendak pergi. Ternyata kedua siswi tadi adik kelas Ana.
Johan pun mengangguk. Lalu dia masuk ke kursi kemudi untuk membawa Ana ke rumah sakit keluarga.
Tak lama kemudian Ana sudah dilarikan ke rumah sakit dan kini sudah ditangani dokter.
Tak lupa Johan mengabarkan kedua orang Ana tentang kondisi Ana yang tiba-tiba pingsan di toilet.
Tuan Betrand pun langsung panik dan mengajak istrinya begitu mendapatkan kabar dari Johan mengenai kondisi Ana. Keduanya langsung pergi ke rumah sakit dimana Ana sedang dirawat.
Keduanya terlihat cemas. Langkah mereka begitu buru-buru ketika sampai di lorong rumah sakit.
__ADS_1
Dari kejauhan mereka melihat Johan sedang menunggu di depan pintu kamar ruangan.
Begitu mereka mendekat, Johan memberi hormat.
"Selamat siang nyonya.. Tuan." Ucap Johan sambil memberi hormat pada majikannya.
"Siang. Ana di dalam?" Tuan Betrand dan nyonya Susi bertanya pada Johan.
"Iya tuan." Jawab Johan.
Keduanya langsung masuk ke dalam. Di ruangan sudah ada dokter dan perawat yang menangani Ana. Sedangkan Johan berjaga bersama pengawal tuan Betrand di luar ruangan.
"Apa yang terjadi dengan anak saya dok?" Panik nyonya Susi tidak sabar.
Ana yang masih terkulai lemah kini sudah mendapatkan infus.
"Mari kita bicara di ruang kerja saya!" Dokter tak bisa bicara di dalam ruangan.
Tuan Betrand dan nyonya Susi pun mengikuti langkah dokter yang menangani Ana. Keduanya tidak tenang mendapati putri kesayangannya tergolek lemah. Pasti ada penyakit yang serius yang sedang diidap Ana. Itu yang dipikirkan kedua orang tua Ana. Karena kalau tidak serius, pasti mereka diberitahu langsung.
"Silahkan duduk tuan Betrand.. Nyonya!" Dokter tadi mempersilahkan keduanya untuk duduk.
"Sebelumnya saya mohon maaf tuan, nyonya, kalau yang akan disampaikan saya pada tuan mungkin akan mengagetkan anda berdua." Ucap dokter itu harus lebih ektra hati-hati. Karena keluarga Betrand adalah salah satu pelanggan VIP rumah sakit itu.
"Iya.. ada apa dok? Kenapa anak saya dok?" Nyonya Susi begitu cemas. Tuan Betrand langsung menggenggam tangan istrinya agar tenang. Tangan nyonya Susi terasa dingin juga gemetar menghadapi kondisi putrinya.
"Maaf tuan, nyonya, berdasarkan pemeriksaan kami tadi, anak anda mengalami dehidrasi juga gizi buruk." Ucap dokter menjeda ucapannya sebelum melanjutkan kalimat berikutnya.
"Oh ya? Kenapa bisa?" Tuan Betrand agak kaget mendengar putrinya dehidrasi dan mengalami gizi buruk. Padahal selama ini di rumahnya tak kekurangan apapun. Bahkan aneka buah juga makanan bergizi tersedia lengkap. Lalu kenapa bisa anaknya divonis gizi buruk. Itu sungguh di luar perkiraannya.
"Iya. Ini hasilnya tuan, nyonya. Biasanya kehamilan muda memang kurang selera makan dan sering mual." Ujar dokter menyodorkan hasil lab juga USG Ana ke hadapan tuan Betrand dan nyonya Susi.
"Apa? Hamil?" Sepasang suami istri itu terhenyak begitu dokter menyebutkan kehamilan muda.
"Siapa yang hamil?" Tuan Betran mengulang pertanyaan dengan wajah kagetnya.
__ADS_1
"Maaf tuan nona Ana sedang hamil 3 bulan. Apakah tuan tidak tahu?" Dokter pun agak kaget melihat ekspresi sepasang suami istri itu ketika mendengar putrinya hamil.
Tuan Betrand menoleh ke samping melihat istrinya, yang juga sama herannya.