
Tak berapa lama dari ketahuan hamil, Ana kini sudah diterbangkan ke negeri ginseng. Kedua orang tuanya sudah mencabut sekolahnya Ana dari Jakarta.
Ana tak bisa menolak keinginan orang tuanya agar dia pindah ke negeri ginseng itu. Ana kini menempati sebuah rumah yang cukup mewah. Di Sana hanya ada Art, sopir dan pengawal. Dia tidak diperbolehkan keluar dari rumah itu kecuali alasan pemeriksaan sehubungan dengan kesehatannya. Hanya guru privat dan lesnya saja yang datang ke luar masuk gerbang rumahnya. Dia seperti terpenjara dan diasingkan.
Kini Ana hanya menghabiskan waktunya dengan belajar dan belajar. Bahkan media internet dan handphone nya pun dibatasi dan diawasi. Tak boleh satu pun yang berkomunikasi dengan Ana kecuali kedua orang tuanya. Ana merasa kesepian dan tersiksa di rumah itu. Tapi apalah daya, karena ini adalah hukuman yang harus diterima nya karena dia hamil di luar nikah.
"Sampai kapan aku dipenjara seperti ini Jo? Aku ingin melihat dunia luar." Rengek Ana pada Jo Sang pengawal.
"Maaf saya tidak tahu." Jo menjawab datar.
Kian hari perut Ana semakin buncit. Ada rasa tak nyaman dirasakan saat ini. Perutnya yang seperti kembung kadang pinggangnya yang pegal membuat pergerakan Ana terbatas.
Ana tidak bisa membayangkan bahwa dirinya akan mempunyai anak di usia muda bahkan anak yang dikandungnya tanpa ayah pula.
Rasa sedih sering datang pada Ana. Meskipun Ana belum terlalu mengerti akan kehamilan, dia ingin sekali ditemani orang-orang tercintanya.
"Jo.. kapan papih sama mamih datang? Apa papih sama mamih sangat membenciku Jo sehingga tak pernah menjenguk aku disini?" Ana hanya berkeluh kesah pada Jo juga Mira yang selalu ada disisi nya saat ini.
Jo dan Mira hanya saling pandang, tak tahu harus menjawab apa.
"Papih sama mamih benar-benar membuang ku. Hik hik hik." Ana menangis sesenggukan merasakan sedih juga sakit hati harus di buang seperti itu. Mira menghampiri Ana lalu memeluknya. Hanya itu yang bisa dilakukannya selama ini untuk meredakan hati sedihnya Ana. Karena selama Ana di sana tak pernah sekalipun ibunya juga ayahnya datang untuk menjenguk Ana.
Ana kembali tenang. Seperti itulah kebiasaan Ana selama di perantauan tanpa kedua orang tuanya. Di saat dirinya lemah dan sedih hanya pengawal dan pembantu saja yang menemaninya. Tanpa terasa kehamilannya kini sudah menjelang sembilan bulan. Badannya kini semakin besar begitupun perutnya. Tiap malam dia gelisah karena sangat tidak nyaman dan pegal-pegal karena tidak bisa tidur bebas semaunya.
"Jo kapan kita belanja peralatan bayi juga baju-bajunya? Bagaimana kalau anakku lahir? Apa yang akan dipakainya?" Ana agak heran, ibu juga ayahnya tidak memerintahkan pengawalnya untuk membeli peralatan bayi. Meski Ana merasa anak yang dikandungnya adalah di luar nikah, dia tak mau anaknya diperlakukan tidak adil. Dia tidak bersalah sama sekali. Dia patut mendapatkan haknya sebagai manusia. Bahkan orang tuanya yang kaya masa iya tidak mampu membelikannya peralatan bayi dan baju-bajunya. Ana sangat menyayangi anak yang sedang dikandungnya sekarang, meski dia akan menjadi single parent.
__ADS_1
Jo dan Mira kembali terdiam.
"Mmm... nyonya sudah menyiapkannya cuman nanti setelah bayi itu lahir." Mira membuat alasan yang dikarang nya sendiri.
"Memangnya menunggu lahir baru beli?" Ana melihat pada Jo juga Mira.
"Iya. Karena nona akan melahirkan secara cesar. Jadi peralatan bayi akan dibeli sebelum kelahiran bayi. tepat nya sebelum operasi cesar akan dilakukan." Lagi-lagi Mira membuat alasan.
Ana merasakan ada hal ganjil yang sudah direncanakan kedua orang tuanya, tapi entah apa.
Benar saja. Keesokan harinya, sudah tersedia mobil diluar. Kedua pengawalnya telah menyiapkan diri dan Ana pun didandani. Sepertinya dia akan dibawa keluar oleh Jo juga Mira.
"Akan dibawa kemana aku?" Ana bertanya pada Mira ketika pengawalnya menyisir rambutnya dan menyiapkan beberapa baju miliknya di tas. Karena selama dia mendiami rumah itu belum sekalipun pengawalnya membawanya keluar dari rumah. Kecuali untuk alasan pemeriksaan kesehatan. Itupun tidak pernah membawa baju ganti.
"Kok baru dikasih tahu. Apakah aku tidak punya hak apapun atas bayi yang aku kandung? Aku sudah bersabar selama ini hidup dalam kesepian, tapi please jangan buat aku seperti ini juga!" Ana meneteskan air mata merasakan kesedihan yang amat sangat. Kehidupannya seperti diambil dan diatur begitu saja sesuai dengan keinginan orang tuanya.
"Maaf nona. Hari ini sudah dipilih. Dan kondisi nona juga sedang baik, jadi alangkah baiknya jika nona melahirkan dalam keadaan sehat agar bayinya juga sehat." Bujuk Mira agar Ana tidak terus sedih.
"Baiklah. Aku menurut saja." Ana lebih pasrah. Sejak kecil memang anaknya penurut jarang memberontak. Dan jika melawan pun rasanya Ana tidak akan menang.
Ana naik ke dalam mobil yang telah disediakan Jo dan Mira. Dia duduk di bangku belakang, sedangkan Jo dan Mira di depan.
Di dalam hati Ana sebenarnya ada perasaan yang tidak tenang. Wanita mana yang akan tenang ketika dirinya akan melakukan operasi, apalagi ini bukan operasi kecil. Dia akan mengukir sejarah dalam kehidupannya hari ini, yaitu akan menjadi seorang ibu.
Jalanan menuju rumah sakit tiba-tiba macet. Mobil yang dinaiki Ana pun terpaksa berhenti. Mobil di depannya berjejer mengantri panjang karena kemacetan.
__ADS_1
"Kenapa berhenti?" Ana bertanya pada Jo.
"Sepertinya ada kecelakaan. Tak biasa jalanan ini macet panjang." Jawab Jo.
Ana menatap ke kiri dan ke kanan, semua mobil memang berhenti.
Untuk menghilangkan kejenuhan Ana membuka kaca mobil tanpa sepengetahuan Jo dan Mira. Dia mendekati jendela lalu melongok ke luar jendela.
Mobil yang berada di samping Ana, adalah mobil Van yang biasa dipakai oleh para manajemen artis.
Ana mendongak ke atas melihat jendela mobil Van yang berwarna gelap. Dia sepertinya penasaran melihat dalam isi mobil itu.
Orang yang berada di dalam mobil Van melihat ke arah Ana yang sedang melihat ke arahnya. Dia merasa ada yang aneh dengan penampilan perempuan yang sedang menatapnya itu.
"Apa dari luar bisa tempus pandang ke dalam?" Rei bertanya pada Jeco yang ada di samping kirinya. Dia penasaran melihat orang yang kini sedang melihatnya dari luar seolah bisa melihat sampai ke dalam.
"Tidaklah. Kaca mobil ini dibuat gelap tak bisa tembus pandang dari luar." Jawab Jeco santai sambil menyandarkan kepalanya ke bantalan kursi. Dia tidak curiga sama sekali dengan pertanyaan Rei.
"Tapi dia seperti melihatku?" Rei merasa aneh dengan tatapan perempuan yang berada di mobil mercedes-benz di sampingnya.
"Maksudnya?" Jeco menoleh pada Rei.
"Lihatlah perempuan itu! Dia seperti bisa melihatku. Dan aku.. seperti pernah melihatnya, tapi entahlah dimana ya?" Rei menatap netra perempuan itu dengan lekat.
"Mana sih?" Jeco akhirnya menggerakkan badannya agak condong ke arah Rei untuk ikut melihat ke arah luar.
__ADS_1