Skandal Pernikahan Idol

Skandal Pernikahan Idol
Pengintaian


__ADS_3

Tanpa mereka ketahui seseorang ada di balik tembok sedang menguping pembicaraan antara Mira dan kepala panti. Dengan jantung berdebaran, dia tetap memberanikan diri untuk melakukan pengintaian. Dia tak mau duduk manis di dalam taxi tanpa tahu kabar selanjutnya.


Jeco menghela nafas. Mengatur jantungnya yang sudah bermaraton karena aksi nekad mengintai seseorang. Entah apa yang menuntunnya untuk terus mengikuti masalah. Padahal dengan karirnya yang sedang naik daun, salah saja melangkah Jeco bisa terancam turun dari pamornya.


"Tidak nak. Perbuatan kamu sangat mulia. Menyelamatkan nyawa bayi ini dengan menyerahkannya pada kami itu sudah tepat. Jangan merasa bersalah! Semua yang kamu lakukan sudah baik. Kelak bayi ini akan mengucapkan terima kasih padamu. Aku tak kan melupakan jasamu dan kelak jika aku masih ada, aku akan menyampaikan kebaikanmu padanya. Semoga anak ini bernasib baik dan selalu dilimpahi kebaikan dari Tuhan." Ucap kepala panti membesarkan semangat Mira yang telah menyelamatkan bayi itu dari nasibnya yang seharusnya dilenyapkan.


"Terimakasih nyonya. Maaf aku tidak bisa berlama-lama. Ini ada sedikit bekal untuk bayi ini, semoga cukup untuk ke depannya. Jika ada waktu, aku akan datang kembali. Kalaupun tidak, aku akan terap memberikan dana semampuku untuk bayi ini." Ucap Mira menyerahkan amplop coklat berisi uang simpanan pribadinya yang sengaja ditarik untuk membantu kebutuhan bayi itu.


"Terima kasih! Semoga kebaikanmu yang mulia ini di balas oleh Tuhan dengan berlimpah. Doakan kami juga untuk dimudahkan mengurus bayi ini. Semoga dia sehat selalu dan diberkahi selalu." Kepala panti menatap bayi mungil yang sedang asik menyusu. Seolah dia sedang mendoakan bayi yang kini sedang dalam pelukannya.


Tidak terasa dia pun meneteskan air mata. Kepala panti yang lemah lembut membuat hatinya terharu. sudah terbiasa melihat nasib anak-anak yang diasuhnya itu dengan berbagai masalah. Dan tentu itu bukanlah suatu yang mudah dilalui kepala panti mengurus anak-anak yang berkebutuhan anak yatim piatu dengan berbagai permasalahan komplek yang dibawahnya. Selain masalah dana masih banyak masalah yang lainnya yang dihadapi para pengurus panti selama ini. Tapi demi perjuangan yang mulia membantu anak-anak malang, kepala panti juga yang lainnya harus kuat bertahan.


"Oh.. iya... apakah bayi ini sudah mempunyai nama?" Tanya kepala panti pada Mira sebelum berpisah.


"Belum.. aku tidak tahu harus memberi nama siapa." Jawab Mira terus terang sambil menatap imut bayi itu.


"Baiklah. Apa kamu ingin memberi nama sekarang? Bayi ini perlu nama. Karena kamu adalah dewi penyelamat bagi dia. Kamu berhak memberi nama padanya." Ucap kepala panti tersenyum menatap lembut Mira.

__ADS_1


Dia memberi kehormatan pada Mira untuk memberi nama pada bayi itu. Bayi itu tersenyum mendengar kepala panti berkata seperti itu. Seolah bahagia dirinya akan diberi nama.


"Ah...kenapa kamu lucu sekali nak? Sampai kamu tersenyum begitu?" Kepala panti ikut tersenyum melihat bayi digendongannya mengulaskan senyum sambil tetap menghisap susu yang masih banyak dalam botol. Tatapan bayi itu begitu teduh dan menenangkan. Wajahnya terlihat tampan meski masih bayi.


"Mmm... aku ingin menamainya 'Langit' mungkin nama ini tidak lazim digunakan di negeri ginseng. Tapi aku ingin suatu hari dia bisa dikenali oleh orang tuanya. Dengan nama yang berbeda dari nama-nama yang biasa dipakai disini.


"Langit?" Kepala panti mengerutkan dahi. Dia merasa asing dengan nama itu.


"Ya langit. Dia akan seperti langit yang menaungi siapa saja. Tak pernah memilih siapa yang akan berlindung dibawahnya. Dia akan menjadi orang yang bijak yang bisa menanungi banyak orang. Semoga kamu akan menjadi orang besar dan bijak." Ucap Mira sambil mengelus-ngelus pipi merah bayi itu.


Jeco tak kuasa untuk melanjutkan pengintaiannya. Dengan langkah gontai dia memutuskan untuk pergi meninggalkan panti dengan menaiki taxi yang tadi menunggu di bahu jalan yang tidak jauh dari panti.


"Antarkan aku ke rumah sakit tadi pak!" Dengan suara lemah Jeco menyuruh sopir mengantarkannya kembali ke rumah sakit. Dia pun masuk ke kursi belakang lalu menghempaskan badannya ke sandaran.


Matanya menatap ke luar tanpa tahu apa yang dilihatnya. Seolah tatapan kosong itu penuh dengan lamunan yang mengingatkan dirinya ketika menyentuh Ana.


"Apakah setelah itu ada yang menyentuh Ana? Kalau tidak, berarti dia adalah anakku. Bagaimana aku bisa sekejam itu? Bahakan Ana harus menanggung penderitaan itu sendirian." Jeco seperti menyesali perbuatannya.

__ADS_1


Terus terang Jeco tidak mencintai Ana sama sekali. Kalau bukan obat terlarang itu keduanya mungkin tidak akan terjebak pada situasi yang tidak diinginkannya sama sekali. Dan berakhir dengan Jeco harus menyentuh Ana.


"Ah.. aku bisa gila memikirkan itu. Semoga bayi itu bukan anakku." Jeco mencoba mengalihkan pikirannya yang ingin sekali melepaskan pikiran buruknya. Dia berharap bahwa anak yang baru saja dilahirkan Ana bukan benih darinya. Jeco tak ingin karirnya hancur karena pikiran-pikiran yang sedang bergelayut saat ini. Dia harus berdiri tegak demi melanjutkan cita-citanya ke depan. Bahkan demi ambisi itu Jeco akan menutup mata dan hatinya mulai saat ini. Karena kalau tidak begitu, dia akan dirundung rasa bersalah dan hal itu akan menggangu kejiwaannya juga karirnya di masa depan.


Tak lama kemudian mobil taxi sudah di depan rumah sakit dimana Jeco seharusnya mendapatkan perawatan. Jeco membayar sopir taxi dengan bayaran melebihi argo yang dicantumkan di mesin penghitung.


"Terimakasih anak muda. Semoga karirmu semakin menanjak." Ucap sopir itu merasa senang melihat tips yang diberikan Jeco tidak sedikit.


"Terimakasih kembali. Semoga harimu selalu menyenangkan." Ucap Jeco menutup pintu lalu berjalan menuju koridor rumah sakit.


"Mmm... dia artis yang cukup baik. Meski dia masih baru aku yakin karirnya akan terus menanjak." Ucap sang sopir yang tanpa diduga dia mengenali wajah Jeco.


Ya.. sopir taxi itu dari awal merasa senang ketika mobilnya di sewa oleh Jeco. Dia mengenal wajah Jeco sejak turun dari van. Tanpa sengaja dia yang biasa nongkrong mencari muatan di rumah sakit melihat mobil artis masuk ke dalam rumah sakit. Dia melihat baju yang sama yang masih dipakai Jeco.


Jeco menggeser pintu kamar ruangan perawatan yang sudah disewa sang manager.


"Hei... darimana saja kamu? Bukankah harusnya kamu tidur di ranjang itu?" Suara itu tentu saja mengejutkan Jeco yang baru saja masuk. Tanpa diduga ternyata Suga sudah duduk manis menunggunya sejak Jeco pergi.

__ADS_1


__ADS_2